Foto: Taufik Tumbelaka.
Tumbelaka : Sarundajang Cup Pemborosan
Manado, ME
Angka fantastis sebesar Rp 2,5 M yang di ambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) Sulawesi Utara (Sulut) diplot untuk anggaran kejuaraan Bridge Internasional bertajuk Sarundajang Cup digelar di Lion Hotel Manado 27-31 Agustus 2015 menuai kritikan.
Taufik Tumbelaka pengamat politik dan pemerintahan menilai, anggaran sebesar itu untuk sebuah kejuaran saat ini bukanlah sebuah keharusan untuk dilakukan apalagi mengingat saat ini masih banyak kebutuhan yang lebih mendesak seperti pembuatan sarana pengadaan air bersih bagi masyarakat, apalagi di saat musim kemarau seperti sekarang ini akses masyarakat untuk mendapatkan air bersih kian sulit. "Lebih baik penggunaan anggaran untuk hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat," tegas Tumbelaka Rabu (26/8).
Lebih jauh Tumbelaka menjelaskan, penggunaan anggaran yang terkesan asal-asalan dan kurang memperhatikan efeknya bagi perekonomian akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat. "Jauh lebih baik apabila penggunaan anggaran ini untuk membangun akses-akses ke sentra perekonomian dan bisa mensejahterakan masyarakat apalagi jika melihat angka kemiskinan di Sulut saat ini sudah mencapai angka yang menghawtirkan," ungkapnya.
Sementara Ketua Panitia Kejuaran Bridge Internasional Sarundajang Cup, Drs Sanny Parengkuan, usai press conference acara ini di Lion Hotel Manado, membantah keras jika hajatan ini merupakan pemborosan.
Parengkuan menyebutkan, anggaran yang diplot justru kurang. Makanya pihaknya mensiasatinya dengan mencari sponsor. "Untuk menggelar ivent sekaliber ini kami mngusulkan dana sebesar Rp 5 miliar, namun hanya Rp 2,5 miliar yang disetujui. Ivent ini justru bertujuan untuk mengangkat dan meransang olahraga Bridge di Sulut maupun Indonesia. Tentunya berujung pada promosi pariwisata Sulut," terangnya kepada wartawan Sulutonline.com.
Sebenarnya ungkap Parengkuan, hajatan ini merupakan ide dari Ketua DPRD Sulut Drs Steven Kandouw untuk menghormati dan sebagai ucapan terima kasih pada DR Sinyo Harry Sarundajang sebagai Pembina PB GABSI Sulut.
“Apalagi pak Gubernur selama 10 tahun memimpin Sulut telah membawa kearah yang lebih baik. Selain untuk promosi pariwisata juga untuk mempertahankan supremasi Bridge Sulut yang telah menghasilkan pemain Bridge dunia seperti Hengky Lasut dan Eddy Manoppo,” pungkasnya.
Penggunaan angaran seperti ini memang menjadi hal yang sensitif di tengah keadaan ekonomi yang saat ini tengah terpuruk, masyarakat tentu dapat menilai apakah penggunaan anggaran ini benar-benar bermanfaat dan pantas untuk digunakan untuk sebuah kejuaraan atau lebih baik digunakan untuk kepentingan lain yang lebih bersinggungan dan membawa efek langsung kepada masyarakat. (andrew)



































