Foto: Weddy Pongoh di antara Ketua DPRD Tomohon Micky Wenur dan sejumlah pegiat sastra saat peluncuran buku.
‘Kasih Yang Terhilang’ di Panti Nazaret
Dari Peluncuran Novel Karya Weddy Pongoh
Tomohon, ME
Sejumlah sastrawan dan pegiat seni bumi Nyiur Melambai berkumpul di kaki Gunung Lokon. Merayakan sebuah pencapaian, mendendangkan apresiasi, memeluk rindu harap. Kehadiran sebuah karya berjudul ‘Kasih Yang Terhilang’ jadi pemantik. Novel, buah kreasi dan imajinasi Weddy Christian Pongoh. Penulis muda dari Kota Bunga.
Weddy Christian Pongoh, memilih Panti Asuhan Nazaret Tomohon sebagai tepat peluncuran novel karyanya, Minggu (23/8). Bagi putra Tondangow, Tomohon Selatan ini, hal itu bukan tanpa alasan. “Saya senang di panti karena bisa merasakan susana berbeda. Merasakan suasana penuh keakraban dengan anak-anak panti asuhan,” kata Weddy, sembari melempar senyum.
Tempat penuh inspirasi itu diyakini menjadi motivasi tersendiri baginya untuk menyelesaikan karya novel keduanya. “Prosesnya sementara,” singkat Weddy , yang terlihat sudah akrab bersama anak-anak di panti asuhan Nazaret.
Pendeta Teddy Kansil M.Th yang memimpin ibadah syukur peluncuran buku tersebut mengakui, apa yang dilakukan Weddy luar biasa.
“Saya apresiasi karena banyak orang yang punya kemampuan menulis tapi tidak berani dipublikasikan. Weddy mampu melakukan hal itu. Ia tentu menjadi berkat bagi orang lain dengan novel ini,” kata Pdt Kansil.
Rikson Karundeng yang didaulat sebagai bagian dari keluarga besar pegiat dan pencinta sastra Sulawesi Utara, kemudian dipercayakan untuk melaunching ‘Kasih Yang Terhilang’ sekaligus menjadi orang pertama yang menerima karya tersebut dari tangan penulisnya.
“Apresiasi buat Weddy. Semoga ini menjadi pintu bagi lahirnya karya-karya yang lain. Karya ini selain bisa dinikmati pembaca, tentu bisa menjadi inspirasi bagi penulis dan calon penulis lainnya. Memotivasi penulis-penulis muda Minahasa untuk berani tampil dengan karyanya,” kata Redaktur Pelaksana Harian Media Sulut itu, sembari mengungkap berbagai persoalan konkrit yang kini dihadapi dunia sastra Sulut.
“Ruang apresiasi itu masih sedikit. Apalagi dari pemerintah kita. Pelatihan dan iven atau lomba yang diharapkan bisa memicu lahirnya penulis-penulis muda hampir tidak ada,” aku Rikson yang biasa mengelolah kolom Seni Budaya di Media Sulut.
Sementara, Ketua DPRD Kota Tomohon, Ir Micky Junita Wenur yang hadir memberi support, ikut melayangkan apresiasinya bagi Weddy.
“Generasi muda memang harus diberi ruang. Bukan hanya pemerintah tapi juga gereja sebenarnya terpanggil, terinspirasi bahwa ruang itu harus kita buka. Harus diberi kesempatan tapi komunikasi dengan para pegiat sastra dan pihak-pihak yang berkompeten tentu perlu dilakukan dengan baik. Agar ketika ruang dibuka, tidak ada yang salah kaprah,” tutur Wenur.
Sekretaris Komisi W/KI Sinode GMIM ini pun berharap, ke depan akan ada program-program yang membuahkan hasil dapat dibuat bersama.
“Saya bangga ada pemuda dari Tondangow, wilayah kami yang punya bakat yang luar biasa. Kami tentu terpanggil untuk mendukung supaya bisa terus berkarya. Kita akan terus mendorong, memotovasi. Kita akan bicarakan agar ada karya-karya selanjutnya,” kunci pelayan khusus di GMIM Imanuel Walian.
Sastrawan Sulut, Iswan Sual, mengungkapkan jika dirinya senang karena penulis di Minahasa bertambah. “Saya bahagia karena penulis di Minahasa lebe hari lebih tatambah. Itu berarti sastra di Minahasa semakin berkembang, jaringan sastrawan semakin luas,” kata Ketua Sanggar Tumondey Sulut yang diketahui turut memberi andil hingga karya itu lahir.
“Harapan kami, ini jadi inspirasi. Terutama for orang-orang Tomohon yang sekarang. Tomohon sudah terkenal dari dulu Kota Pendidikan. Banyak penulis. Dengan ini kiranya semakin terangsang untuk muncul. Lebih khusus ini juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak di panti ini,” tandas penulis produktif tersebut. (victor rempas)



































