Foto: Lambang Partai Demokrat dan Golkar.
Demokrat-Golkar Jadi Penonton di Pilkada Bolsel
Bolaang Uki, ME
Kasihan, itulah kata yang tepat dialamatkan bagi Partai Demokrat dan Partai Golkar. Kedua partai besar ini hanya bisa menjadi penonton di Pilkada Bolsel 9 Desember mendatang. Pasalnya, hingga batas akhir pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati di KPUD ditutup pukul 16.00 pengurus kedua partai yang memiliki kursi pimpinan di DPRD (masing-masing tiga kursi) tak kunjung nampak mendaftarkan calonnya. Artinya, mereka absen dalam ajang perebutan kursi orang nonor satu di DPRD.
Menurut pengamat politik Zainal Van Gobel, itu menandakan kegagalan pengurus melakukan kaderisasi dan tidak serius membesarkan partai. "Pentinggi kedua partai harus menseriusi masalah ini, sebaiknya secepat melakukan pergantian kepengurusan sebagai bentuk sanksi partai," saran Zainal.
Seperti diketahui, Demokrat sejak awal getol mensosialisaikan ketuanya, Ahmad Yani Soeratinojo untuk maju di papan satu, ternyata hanya sebatas sosialisasi di media sosial, prakatek di lapangan nol besar. Sedangkan Golkar, walaupun ada konflik internal tetapi di tingkatan pusat sudah ada islah dua kepenguran, baik kubu hasil Munas Bali dan Ancol.
Menurut Zainal seharusnya islah juga berlaku di daerah. Hingga batas akhir pendaftaran pukul 16.00 Wita tak mendaftar."Agenda awal kedua partai tersebut perlu ada reposisi terhadap kepengurusan di semua tingkatan," saran Zainal.
Praktis hingga batas akhir pendaftaran ditutup hanya pasangan usungan PDI-P dan PAN, H2M Bersinar (Hi Herson Mayulu dan Iskandar Kamaru), Yakin (Azhar Yasin dan Gustamil Katili) diusung partai gabungan, Hanura, Gerinda dan PPP dan satu pasangan jalur perseorangan, Haris Kamaru dan Yusuf Mooduto yang resmi mendaftar.(Eskolano)



































