Wakil Rakyat Diajak Tak Merusak Kesucian

Buka Puasa Bersama


Manado, ME

Keluarga besar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) menyatu dalam buka puasa bersama, Senin (6/7). Di momen kekeluargaan ini, para umat, termasuk para legislator Sulut dan staf di Sekretariat DPRD Sulut, disegarkan dengan siraman tausiah, Hj Amir Liputo.

Ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Manado ini, mengurai 2 aspek penting dalam bulan puasa. “Aspek pertama ibadah. Kedua aspek sosial. Allah SWT suka orang yang sambil berpuasa melakukan tindakan-tindakan sosial. Dalam Al-Quran jelas diurai, tujuan berpuasa agar manusia bertakwa. Jadi, tujuan puasa untuk membentuk orang-orang yang bertakwa,” jelas Liputo.

Menurutnya, Al-Quran memberi tanda orang yang bertakwa. “Orang bertakwa, ia memberi saat ada dan tidak ada. Orang dewasa, bertakwa, berarti ia mampu mengelolah emosi. Tanda orang bertakwa, sebelum orang meminta maaf, dia sudah meminta maaf duluan,” terang Liputo yang juga legislator Sulut ini.

Ia juga menegaskan, bulan puasa adalah bulan melatih diri menahan hawa nafsu. “Tiga golongan yang tidak diterima puasanya oleh Allah SWT adalah, pertama, istri-istri yang durhaka pada suami. Kedua, orang yang memutuskan silahturahmi. Kita anggota dewan berbeda partai. Jangan karena perbedaan itu kita baku marah. Biar sujud 100 tahun Allah tidak terima puasanya. Ketiga, anak-anak yang durhaka kepada orang tua. Jadi, sebelum tausiah selesai, sujudlah kepada orang tua untuk meminta maaf,” urai Liputo.

“Kita di DPRD ini pemimpin tapi jangan pernah lupa ada yang kita pimpin. Ada orang yang setia kepada kita. Ingat, sahabat yang mengulurkan tangan saat kita jatuh lebih mulia ketimbang ribuan tepukan saat kita berkuasa,” kuncinya.

Ketua DPRD Sulut, Steven Kandouw, dalam sambuatannya mengaku jika manusia hidup selalu mencari momentum. “Qultum Al-Mukarramah Ustadz Amir Liputo menggugah saya. Mendengar tausiah yang disampaikan, saya sedih. Kita harus jujur mengakui, kita hidup selalu mecari momentum. Bulan suci ramadhan ini juga momentum. Ini waktu kaum muslimin untuk menyucikan segala-galanya. Pikiran, perkatan, perbuatan bakan perasaan,” tuturnya.

“Perjalanan dinas berpotensi merusak kesucian. Ini cobaan yang harus dihindari. Seperti jembatan shirathal mustaqim, rambut dibelah tujuh. Jadi siapapun bisa terpeleset dan jatuh. Parlemen dari bahasa Prancis, parle yang berarti bicara. Akan jadi apa masyarakat Sulut kalau kita bicara tidak baik. Mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum bersama untuk menjaga kesucian kita bersama,” pinta Kandouw. (rikson karundeng)



Sponsors

Sponsors