Foto: Kebersamaan anggota PKB Rayon Yusuf Jemaat GMIM Elim Kolongan saat mengelolah kebun jagung.
Semangat Mapalus di Tengah Arus Modernisasi
PKB Rayon Yusuf Meracik Kebersamaan Dalam Pelayanan
Tomohon, ME
Laju perkembangan Kota Tomohon tak terbendung. Gerak modernisasi merambah setiap sudut Kota Bunga. Nilai-nilai lokalitas memudar dan perlahan tenggelam.
Sejumlah pihak meramalkan jika ‘ingatan’ tou Minahasa di daerah yang diapit Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini akan segera lenyap. Namun pendapat itu barangkali tak sepenuhnya benar. Sekelompok masyarakat dalam persekutuan Pria Kaum Bapa (PKB) Jemaat GMIM Elim Kolongan membuktikannya. Institusi mapalus warisan leluhur tetap dipelihara warga yang tinggal di tengah jantung Kota Tomohon ini. Efek positif pun banyak dirasakan dari aksi ini.
“Ini kebersamaan torang pe PKB. Ini juga bisa menunjang kegiatan lain yang akan dihadapi PKB,” aku Koordinator PKB Rayon Yusuf, Sonny Walangitan, saat beristirahat sejenak dari pekerjaan mengolah kebun jagung PKB Rayon Yusuf di wilayah Kelurahan Kolongan, Senin (6/7).
Menjadi teladan bagi sesama adalah salah satu alasan mereka dalam kerja bersama ini. Apalagi Kota Tomohon masih punya banyak lahan yang menanti untuk digarap para penghuninya.
“Pertama menciptakan kebersamaan. Kedua kita ada motivasi lain. Jadi, PKB tidak hanya selalu tenggelam dalam kegiatan ibadah seremoni tapi ada juga kerja seperti ini. Sisi positif lain, kita cuma anggap olahraga. Jadi ada alasan kesehatan. Bukan beban,” terang Rudi Pioh, tokoh masyarakat yang juga motivator dalam pelayanan PKB Rayon Yusuf.
“Ini juga untuk memotivasi saudara-saudara kita yang lain. Siapa tahu ada kelompok-kelompok lain yang terinspirasi dan tergerak. Karena masih banyak lahan yang tidak dikelolah di Tomohon. Di Kelurahan Kolongan saja ada banyak lahan yang bisa kita gunakan,” sambungnya.
Dampak sosial maupun ekonomi bisa dirasakan langsung dari kegiatan seperti ini. Tua-tua masyarakat Kolongan, Lexy Wajong, menegaskan hal tersebut.
“Di jemaat kita sebenarnya ada rayon PKB lain yang bermapalus seperti kita. Mereka rata-rata pegawai tapi masih bisa pegang cangkul. Lahan kecil mereka boleh menghasilkan 10 sampai 15 juta rupiah sekali panen,” ungkap Wajong, yang tampak masih begitu bersemangat mengayunkan cangkulnya walau dipayungi terik matahari.
“Lahan lumayan besar. Kalau torang urus bae-bae, hasilnya pasti luar biasa. Ini datang dari kerajinan kita. Kalau kerja seperti begini sukses, bisa jadi simpanan, menambah penghasilan keluarga dan kas untuk menunjang pelayanan tetap ada. Dananya bisa bantu orang yang masuk rumah sakit. Ada tuntutan apa, jemaat tidak perlu minta,” papar tokoh masyarakat berusia hampir kepala 80 ini, sembari mengakui jika respon dan partisipasi anggota PKB Rayon Yusuf sangat luar biasa ketika kerja tersebut mulai berjalan.
“Luas lahan kita 85 x 90 meter. Ini bisa menghasilkan 150 karung kalau tidak kurang apa-apa. Hasilnya menurut perhitungan, kalau tasua mahal depe pasaran, 100 ribu rupiah atau lebih per karung, kita bisa capai 15 juta rupiah sekali panen dalam tiga bulan,” jelas Wajong.
Api semangat yang berkobar dalam kelompok Mapalus PKB Rayon Yusuf GMIM Elim Kolongan tak lepas dari dukungan dari para ‘pelayan khusus’. Tak sebatas kata, suport konkrit ditunjukan langsung di lapangan.
“Kita pelsus mendorong penuh. Apalagi ini dampaknya sangat baik bagi pelayanan. Ada kebersamaan dan usaha untuk saling memotivasi. Hasilnya pun bisa menunjang kegiatan pelayanan lain, membantu keluarga-keluarga yang berkekurangan. Kita bisa memenuhi partisipasi pelayanan ke gereja tanpa harus ‘membebani’ jemaat. Dari pada dola-dola oto di jalan,” kata Herson Mait, pelayan khusus di wilayah pelayanan tersebut, diiringi senyum khasnya. (rikson)



































