'Rip Current' Elemen Maut Pantai Timur Minahasa
Tondano, ME
Tragedi 'Pantai Kawis' yang menggegerkan bumi Nyiur Melambai terus menjadi buah bibir hangat masyarakat. Aksi heroik dalam drama penyelamatan para korban, proses evakuasi dan segala hambatan hingga kisah pilu akibat kehilangan belahan hati yang dikasihi, diulas tuntas dalam media massa dan setiap perbincangan warga. Namun apa penyebab sesungguhnya hingga 9 nyawa remaja asal Liningaan Tondano tersebut harus terengut, sampai kini masih menjadi misteri.
Pihak kepolisian melalui Kapolres Minahasa AKBP Henny Posumah mengakui, hingga kini pihaknya terus melakukan pengembangan dengan mengumpulkan data demi memastikan keakuratan dan kebenaran informasi kasus tenggelamnya rombongan remaja GMIM Sentrum Liningaan Tondano di Pantai Kawis, Desa Tulap, Kecamatan Kombi, Minahasa, Sabtu (25/5). Dugaan sementara hal itu terjadi karena terseret arus laut.
Pakar kelautan Indonesia, Prof. DR Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc menganalisa, kecelakaan tersebut bisa terjadi akibat arus ‘rip current’.
Arus rip (sebutan rip current oleh kalangan peneliti, red) merupakan arus yang terjadi di perairan pesisir dekat pantai yang bergerak menjauhi pantai dengan arah tegak lurus atau miring terhadap garis pantai. Sedangkan apabila garis puncak gelombang datang sejajar dengan garis pantai, maka akan terjadi 2 kemungkinan arus dominan di pantai.
Yang pertama, bila di daerah ‘surf zone’ terdapat banyak penghalang bukit pasir (sand bars) dan celah-celah (gaps) maka arus yang terjadi adalah berupa sirkulasi sel dengan rip current yang menuju laut. Kemungkinan kedua, bila di daerah ‘surf zone’ tidak terdapat penghalang yang mengganggu maka arus dominan yang terjadi adalah aliran balik (back flows).
“Arus rip itu memang sangat berbahaya. Air laut biasa terlihat biasa-biasa saja namun arus balik di bawahnya tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Jika tidak waspada, orang bisa terseret arus dengan cepat,” ulas doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University Jepang ini, Senin (27/5).
Gambaran tentang lokasi pantai Kawis menguatkan analisa awal betapa berpotensinya arus rip terjadi di lokasi tersebut. “Kita memang perlu mengkaji topografi pantai Kawis untuk memastikan sumber pertemuan dua mata air atau arus berbeda di lokasi itu. Namun adanya air pasang seperti dugaan sejumlah orang, atau benturan arus laut dan arus dari sungai yang bermuara di tempat itu, bisa memungkinkan hal itu terjadi,” jelasnya.
Korban yang diterjang ‘rip current’ posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat. Akibat terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik dan tenggelam karena kelelahan. “Sebenarnya ada teori yang dapat menghindarkan kita dari bahaya arus rip. Bisa dengan bergerak ke arah kiri atau kanan. Tapi bila korban telah terseret arus, ada kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. Kuncinya jangan panik. Karena arus berputar di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi,” urai akademisi UNSRAT ini.
PERLU KAJI POTENSI BAHAYA PANTAI WISATA
Prof. DR Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc menilai, pemerintah penting melakukan kajian terhadap wilayah pantai di Sulut, terutama daerah yang jadi primadona pariwisata. Hal ini untuk menghindari datangnya korban-korban berikutnya.
“Penting melakukan kajian mendalam agar pemerintah dapat merekomendasikan pantai mana saja yang bisa dijadikan lokasi wisata dan mana yang tidak. Di Pasca Sarjana Kelautan Unsrat, masalah ini sering dibahas dalam mata kuliah ‘Fisik Kelautan’. Jadi bisa saja melibatkan pakar-pakar kelautan di Unsrat untuk melakukan kajian,” jelas Masengi yang mengaku ikut menjadi penanggungjawab mata kuliah tersebut.
“Kalau bisa secepatnya buat kajian. Libatkan mereka yang bekompeten supaya korban tidak akan berlanjut. Kajian itu bisa membantu kita menentukan daerah terlarang untuk berenang, terutama saat air pasang,” tambahnya.
Arus rip bisa dihindari, hanya saja tekniknya tidak diketahui masyarakat luas. “Ada teknik untuk menghindar. Jika sudah ada kajian yang dilakuakan pemerintah soal pantai-pantai di Sulut, bisa saja dilakuakn sosialisasi sampai ke sekolah-sekolah. Selain memberi tahu spot-spot berbahaya itu, bisa diberitahu cara menghindari arus rip,” kuncinya.
Wilayah pantai timur Minahasa memang tampak eksotik namun menyimpan banyak misteri. Sejak tempo dulu, daerah tersebut dikenal ‘angker’. Tidak sedikit korban jiwa yang ‘diambil’ pantai ini.
“Kalau ada orang yang ke arah pantai, orang tua selalu mengingatkan untuk hati-hati. Tidak jarang orang tua meminta kita mengurungkan niat ke pantai. Kalau di pantai Kora-Kora ada tua-tua yang selalu berjaga dan memperingatkan orang yang bermaksud mandi di sana,” ungkap Meidy Sumeleh, warga Kombi, Minahasa, Senin (27/5).
TELAH BANYAK ‘MAKAN’ KORBAN
Sejak lama, deretan kejadian tragis menghiasi pantai timur Minahasa hampir setiap tahun. “Januari 2013 ada 1 orang Kombi meninggal di pantai Kombi. Dia tolong maitua mar dia tu meninggal. Tahun 2012 ada 1 orang Kolongan juga meninggal terseret arus di sana. 2010 ada 3 orang Minsel meningal di pantai Tinggian Kolongan. Sejak dulu, tak terhitung yang jadi korban di pantai Tinggian ini. Heboh juga 5 orang pemuda Raringis Langowan da meninggal di pantai Parentek tahun 2008. Tahun 2006 juga ada 3 orang terseret arus di pantai Mangket Rerer. Saya juga ingat sekitar tahun 1998, ada anak yang terseret arus di pantai Kora-Kora. Di sana memang sering juga memakan korban,” terang Sumeleh.
Adri Elean, warga Tondano menjelaskan, menurut penuturan orang tua, sejak zaman Jepang pantai Timur Minahasa termasuk pantai Kawis, sering memakan korban. “Tahun 90-an ada nelayan yang hilang dipantai Kawis itu dan tidak ditemukan jasadnya hingga kini. Tahun 70-an seingat saya pernah juga ada 7 orang polisi, tentara dan Banpol yang tenggelam di situ. Opa kami di Ranowango Tondano pantai banyak bercerita pada kami soal peristiwa tragis sejak zaman Jepang di daerah itu,” tuturnya.
Budayawan Minahasa, Rinto Taroreh bahkan mengungkapkan, sejak zaman Minahasa tempo dulu memang pantai tersebut sering ‘ja ba ambe’. “Orang tua pe bilangan, itu tampa ‘ada tu ja sesimpang’. Depe pesisir kurang batu-batu besar tapi depe arus bawah kuat skali. Dapa lia tenang mar ‘ja ba ambe’. Pengalaman leluhur sejak dulu demikian. Makanya coba lihat, leluhur orang Minahasa sangat jarang membuat perkampungan di sana,” ujarnya.
MAKNA AWAS DI BALIK NAMA ‘KAWIS’
Budayawan Fredy Wowor menyibak, pantai Kawis secara khusus memang menyimpan makna ‘awas’. Tempat-tempat tertentu di Minahasa terkait dengan pengalaman hidup masyarakat yang hendak diwariskan ke generasi berikut. Nama tempat menjadi pesan ‘pengetahuan’ itu. “Semua tempat di Minahasa punya cerita dan mereka belajar dari pengalaman. Pemberian nama biasa mengandung arti ada peringatan, agar kita tahu cara bersikap di tempat itu. Contoh nama Kawis,” urainya.
Akademisi Unsrat ini menjelaskan, kata Kawis/Kawit menyimpan pesan agar kita berhati-hati. “Bahasa tua, Kawis atau Kawit artinya ‘ja ba gepe ato ja ba tarek’. Depe ‘dolong’, artinya ada sumpah akang jadi tidak boleh sembarang. Menyiratkan sesuatu yang mesti berhati-berhati,” ulas Wowor.
“Peristiwa akhir pekan lalu memberi pesan kepada kita, tampa ‘kapelian’ seperti Kawis harus ator bae-bae. Manusia yang ke sana harus tahu aturan. Tampa itu memang torang tau tampa baku dapa aros-aros tertentu. Bukan soal tofor. Ini fenomena alam,” tambahnya.
Pegiat Mawale Movement ini juga mengurai, makna budaya tempat apapun di Minahasa semua mengaitkan sesuatu dengan ingatan orang-orang yang lebih dulu telah mengetahui tempat itu. “Dari tinjauan budaya, apa arti kita mencari tahu budaya ? Agar kita tahu segala hal, termasuk peran penting nilai-nilai budaya. Pesan bagi kita terkait dengan fenomena pariwisata, jangan seenaknya eksploitasi tempat untuk pariwisata. Jangan sembarang mengacak-acaknya, perhatikan pesan-pesan leluhur yang bijaksana. Pemerintah juga harus perhatikan itu,” tandasnya. (rikson karundeng)



































