Foto: Sejumlah pemuda Kota Tomohon saat menggelar malam renungan HIV/AIDS di pusat Kota Tomohon.
‘Setop Diskriminasi SADHA’
Aktivis dan SAHABAT Menyatu di Malam Perenungan HIV/AIDS
Tomohon, ME
Sekelompok pemuda menyatu di jantung Kota Tomohon. Menyuarakan keprihatinannya terhadap persoalan Human Immunodeviciency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Ajakan untuk tidak mendiskriminasi penderita HIV/AIDS ikut didengungkan. Keseriusan berbagai pihak dalam menghadapi ancaman badai pekat itu disentuh.
Nada menggugah lantang terdengar dari para aktivis muda itu. Satu per satu lilin dinyalakan, sebagai bagian dari sebuah refleksi. Kain putih dibentangkan, goresan tanda tangan sebagai wujud suport kepada Saudara Dengan HIV/AIDS (SADHA) dibubuhkan. Selebaran-selebaran tentang berbagai informasi seputar HIV/AIDS dibagikan ke masyarakat. Berharap setiap insan yang paham, tercelikkan dan ikut larut dalam kepedulian terhadap masalah HIV/AIDS yang kian mengkhawatirkan.
“Ini kegiatan malam perenungan AIDS Nusantara. Kegiatan ini termasuk kegiatan pertama yang kita lakukan di Kota Tomohon. Kalau melihat, kegiatan ini sudah mulai merambah ke provinsi-provinsi yang lain semanjak tahun 1996,” terang aktivis HIV/AIDS Kota Tomohon, Stenly Wildy Ngantung.
“Kalau melihat, kegiatan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1991 tapi baru serentak dimulai pada tahun 1996. Di Tomohon sendiri ini baru pertama kali,” jelasnya.
Wildy memaparkan, kegiatan tersebut dikandung maksud akan mendorong masyarakat supaya bisa memiliki rasa kepedulian, rasa solidaritas bahwa SADHA tidak harus dikucilkan, tidak harus didiskriminasi karena proses penularan HIV/AIDS tidak dengan melalui kontak sosial ataupun tinggal bersama.
Dari orang-orang yang memberi diri dalam pelayanan terhadap SADHA ini, terungkap data HIV/AIDS di Kota Tomohon setiap tahun trennya semakin mengkhawatirkan karena setiap bulan 4 sampai 5 kasus terdeteksi.
“Sebagian besar itu dari warga masyarakat Kota Tomohon. Data saat ini sampai Mei 2015, sudah 108 kasus. Dimana prefalensi HIV dan AIDS itu sama, hampir seimbang. Dari segi golongan umur, lebih kepada usia produktif, antara 19 tahun sampai 29 paling banyak,” papar Wildy.
“Kalau berdasarkan estimasi WHO, 1 berbanding 100. Jadi kalau misalnya ada 108 kasus, ada kemungkinan 1080 orang yang terdeteksi. Itu ibarat fenomena gunung es. Kita hanya tahu yang 108 orang tapi kita tidak tahu yang di bawahnya itu berapa,” sambungnya.
Dalam kegiatan ini, para generasi muda yang turun jalan juga mengajak masyarakat untuk priksa HIV/AIDS. “Di Tomohon, ada beberapa lokasi tempat kita bisa tes HIV/AIDS yaitu, di klinik RS Bethesda kemudian di Puskemas Matani dan Kakaskasen,” tutur Wildy, Koordinator Berdikari Tomohon.
Generasi muda Kota Bunga yang terlibat dalam kegiatan ini diakui telah terpicu kesadarannya dan berharap bisa ‘menjangkiti’ masyarakat yang lain mengenai kepeduliannya terhadap masalah HIV/AIDS
“Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh gabungan beberapa teman dalam satu organisasi yaitu, Evolution Tomohon. Teman-teman muda yang bergerak di bidang kesenian drum band. Kita bersama Berdikari Tomohon. Lembaga yang fokus pada kegiatan advokasi HAM (Hak Asasi Manusia), LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual) serta kegiatan penanggulangan HIV/AIDS untuk komunitas. Kita didukung sepenuhnya anak-anak muda di komunitas SAHABAT,” jelas salah satu aktivis HIV/AIDS Kota Tomohon lainnya, Alfian Salaki.
Sementara, Koordinator Tim SAHABAT, Marino Lapian, mengaku kegiatan tersebut sangat positif guna membangun kepedulian masyarakat Kota Tomohon terhada persoalan HIV/AIDS. “Masalah HIV/AIDS sesungguhnya sudah sangat mengkhawatirkan. Masalah ini tentu bisa kita atasi asal semua elemen masyarakat sadar dan bersatu padu,” kata Marino.
“Kita bersyukur, di Kota Tomohon ada juga generasi muda yang sadar dan mau memberi diri dalam usaha advokasi dan kampanye berbagai persoalan terkait HIV/AIDS. Ke depan, kita berharap akan semakin banyak masyarakat yang peduli. Ini tanggungjawab kita semua, pemerintah dan masyarakat. Jadi mari kita bersatu untuk mengatasi persoalan itu,” tandasnya. (rikson karundeng)



































