Soputan Karangetang dan Lokon Berstatus Siaga


Manado,ME

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menetapkan tujuh gunung api di Indonesia berstatus siaga. Tiga diantaranya berada di wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

"Sebaran terbanyak berada di Sulawesi Utara masing-masing Gunung Soputan, Karangetang dan Lokon," kata Kepala PVMBG, Surono.

Empat gunung api lainnya, masing-masing Gunung Ijen di Banyuwangi Jawa Timur, Gunung Rokatenda di Pulau Palue Nusa Tenggara Timur, Gunung Papandayan di Kabupaten Garut Jawa Barat serta Gunung Sangiang Api Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.

Surono juga mengatakan, ketika gunung akan meletus pasti akan ada tanda-tanda yang ditunjukkan seperti peningkatan kegempaan, tapi kapan akan terjadinya letusan tidak bisa diramal. Untuk itu demi kewaspadaan aktivitas vulkaniknya harus selalu dipantau.

"Begitupun dengan status normal, waspada, siaga dan awas itu bukan ditujukan untuk meramal terjadinya letusan. Sekali lagi ketika terjadi peningkatan, belum tentu akan diikuti dengan terjadinya letusan," ungkapnya. Surini menambahkan sebagai sebuah peringatan, tahapan-tahapan status tersebut sangat penting manfaatnya.

Sementara itu, guna menghadapi kemungkinan terjadinya bencana gunung meletus, saat ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tengah menyusun rencana kontijensi (renkon).

Kontijensi dapat diartikan serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna untuk mengurangi korban jiwa dan sumber daya yang terdapat di suatu wilayah. Hal ini perlu dilakukan menyusul meningkatnya aktivitas 7 gunung berapi di Indonesia tersebut.

Perencanaan kontijensi sendiri pada hakikatnya adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan dan situasi yang diperkirakan akan terjadi atau mungkin juga tidak akan terjadi.

Tujuan utama dari perencanaan kontijensi adalah untuk meminimalisir dampak dari ketidakpastian dengan melakukan pengembangan skenario dan proyeksi kebutuhan saat keadaan darurat terjadi. Suatu rencana kontinjensi mungkin saja tidak pernah diaktifkan jika keadaan yang diperkirakan tidak pernah terjadi.

Perencanaan kontijensi ini meliputi kesiapsiagaan berbagai unsur bagi kepentingan jalur evakuasi, titik pengungsian, persediaan logistik, peralatan, kemampuan personel dan anggaran.(mrc)

 

Foto : Gunung Lokon



Sponsors

Sponsors