Foto: Hanny Joost Pajouw saat mendaftar sebagai kandidat calon Walikota Manado di Kantor DPP PDIP Sulut.
Direstui Banteng, HJP Siap ‘Menyeberang’
Manado, ME
Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulawesi Utara diramaikan dengan ‘penampakan’ sejumlah figur terbaik di Kota Manado, Senin (18/5). Undangan PDIP sebagai kandidat calon Walikota dan Wakil Walikota jadi alasan kehadiran mereka.
Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah Hanny Joost Pajouw (HJP). Dikawal para tokoh agama, tokoh masyarakat dan intelektual di Kota Tinutuan, HJP benar-benar mampu menyita perhatian setiap mata yang berada di kantor Banteng Sulut.
Di hadapan tim penjaringan kandidat calon Walikota/Wakil Walikota Manado PDIP Sulut yang diketuai Sekretaris DPD PDIP Sulut, Franky Wongkar, politisi Partai Golkar ini menegaskan komitmennya untuk bertarung bersama PDIP di Pilkada 9 Desember nanti. Tak hanya logistik, berbagai konsekwensi lain siap ia penuhi jika diperkenankan menunggangi banteng.
Penegasan tersebut kembali dilontarkan HJP kepada wartawan usai diwawancarai tim penjaringan PDIP Sulut. “Ini merupakan sebuah pilihan bagi seorang HJP. Memang dalam kondisi sekarang para kader Golkar dibingungkan dengan kondisi yang jujur kami katakan bahwa saat ini Golkar pergumulan. Masih tidak kondusif. Dalam artian Golkar sekarang bukan soal pada ketua umumnya tapi apakah Golkar bisa mengusung pasangan calon atau tidak,” ungkap anggota DPRD Sulut tersebut.
“Golkar dengan PDIP sebenarnya tidak ada persoalan idiologis. Jadi dengan kami mendaftar di PDIP, tentu kami siap dengan segala konsekwensi,” tandasnya.
Ditanya apakah dirinya siap ‘menyeberang’ ke PDIP jika diakomodir sebagai jagoan untuk diusung dalam Pilkada nanti, HJP mengaku siap.
“Ini murni kiinginan pribadi. Dengan teman-teman di PDIP selama ini saya melakukan komunikasi dengan baik. Dengan teman-teman di partai lain juga tapi saya memilih datang di PDIP,” aku HJP.
Menjawab pertanyaan apakah ia mendapat suport dari internal Partai Golkar untuk maju melalui PDIP, diakui HJP jika hal itu sebenarnya yang ia harapkan. “Sebenarnya satu kerinduan, siapapun dia yang penting target tercapai. Dengan atau tanpa partai Golkar kalau mereka ingin mensuport HJP, kerinduan itu yang utama. Bukan persoalan partai politik tapi apakah bisa memenangkan pertarungan,” jelasnya.
Personil Komisi IV DPRD Sulut itu memastikan akan fokus meraih sukses di PDIP. Namun alternatif lain juga siap ia tempuh agar bisa bertarung di Pilkada nanti.
“Kali ini kami masih fokus di PDIP dengan pengertian apa yang kami lakukan akan kami upayakan untuk berhasil. Kalau tidak, niat kami untuk menjadi orang yang paling melayani di Kota Manado sudah bulat. Jadi kalau tidak diakomodir, kami sudah harus mencari langkah-langkah strategis lain, agar supaya kami bisa diusung,” terangnya.
“Entah dengan partai gabungan atau dengan partai lain. Tapi target kami, mudah-mudahan Tuhan berkenan, HJP bisa diusung PDIP,” sambungnya.
“Saya konsisten hingga saat ini papan satu. Orang yang paling melayani berarti papan satu. Kalau diusung papan dua, itu sesungguhnya bukan target. Tentu harus dibicarakan sesuai dengan target,” kunci Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sulut ini.
Ketua DPD Partai Golkar Sulut, Stefanus Vreeke Runtut ketika dimintai tanggapan mengeni niat HJP untuk maju dengan menggunakan kendaraan PDIP, SVR mengaku sangat memberi suport.
“Beberapa kader Golkar memang diundang PDIP dan saya katakan, hargai dan hormati undangan itu. Itu berarti kader-kader Golkar masih diperhitungkan PDIP. Kami berterima kasih karena kader-kader Golkar diundang PDIP,” singkat SVR.
Sementara, Ketua Tim Penjaringan PDIP, Franky Wongkar mengungkapkan, ada 13 bakal calon Walikota/Wakil Walikota Manado yang diundang PDIP Senin kemarin namun hanya 10 orang yang memenuhi undangan
“Dari 13 yang diundang, yang datang hadir secara fisik, Andrei Angouw, Djendri Kentjem, Hanny Joost Pajouw, Tonny Rawung, Esther Lambey, Refani Parasan, Hilman Idrus, Richard Kainage, Amin Lasena dan Abid Takalamingan,” papar Wongkar.
“GSV Lumentut telah memberi kabar ke kita untuk meminta waktu yang lain dan juga Danny Sondakh. Tapi Danny Sondakh kami tunggu surat karena katanya sakit. Khusus Lumentut kami tunda sampai waktu yang kami tentukan, tanggal 21.”
“Kalau Magindaan (Harley Mangindaan) tidak ada pemberitahuan, berarti dia tidak memenuhi undangan. Tidak apa-apa, itu hak dia. Untuk yang kami undang dari Kabupaten dan Kota lain tapi tidak datang, kami akan tunggu tanggal 21,” jelas Wongkar.
Ketua DPC PDIP Manado, Richard Sualang menjelaskan, nama-nama yang diundang tersebut sebenarnya telah dijaring dari ‘bawah’. “Jadi nama-nama itu sudah dijaring dari tingkat Ranting, PAC dan DPC kemudian diusulkan ke Tim Penjaringan DPD PDIP Sulut,” tuturnya. (rikson karundeng)
Baca Juga:
Sarundajang: Saya Siap Mengemban Amanat Partai



































