Kenaikan BBM Picu Inflasi di Manado
Manado, ME
Laju inflasi di Manado Sulawesi Utara (Sulut) pada April 2015 mencapai 0,06%. Kenaikan harga bahan bakar minyak pada Maret 2015 jadi pemicu. Kepala BPS Sulut Faizal Anwar mengungkapkan, akibat kenaikan BBM tersebut, perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan April 2015 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 118,13 pada Maret 2015 menjadi 118,20 pada April 2015.
“Inflasi di Sulut relatif terkendali meski memang ada fluktuasi harga khususnya kenaikan harga BBM pada Maret lalu sehingga Kota Manado masih inflasi 0,06% pada April 2015,” katanya.
Namun, inflasi di Kota Manado masih lebih rendah ketimbang inflasi nasional sebesar 0,36%.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulut Marthedy M. Tenggehi mengungkapkan inflasi pada April 2015 terjadi karena adanya kenaikan indeks pada lima kelompok pengeluaran, yakni kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 6,43%, kelompok kesehatan sebesar 0,47%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,13%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,07% dan kelompok sandang sebesar 0,01%.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain angkutan dalam kota, bensin, daging babi, bawang merah. “Paling besar memang angkutan dalam kota. Ini akibat kenaikan harga BBM pada bulan Maret,” katanya.
Dia mengungkapkan inflasi disumbang oleh lima kelompok yakni kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,02%, kelompok kesehatan sebesar 0,02%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,02%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,005% dan kelompok sandang sebesar 0,001%.
Namun, tingginya sumbangan inflasi dari kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan ditopang oleh adanya penurunan harga pada komoditas antara lain beras, tomat sayur, cakalang, dan cabai rawit. Alhasil, dua kelompok menyumbang deflasi yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,96% dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,045%. “Jika dilihat dari jenis barang, beras penyumbang deflasi tertinggi dengan 0,65% dan tomat sayur dengan 0,24%,” katanya.(raimon sumual)



































