Bangun Satap Dengan Dana Sertifikasi Pribadi

Darossa: Pengorbanan adalah Seni


Tondano, ME

Tak banyak kisah indah bisa dirangkai dalam sebuah sekolah yang 'kecil'. Jauh dari keramaian.  Butuh kerja ekstra dan kesabaran bagi guru yang mau bertahan di tempat itu. Pengalaman seperti ini juga banyak dijumpai pada sekolah Satu Atap (Satap) SD-SMP.  Ada yang bahkan terancam ditutup karena kekurangan murid.

Kini, rata-rata guru enggan memilih memimpin sekolah yang anggarannya begitu kecil. Tentu ini sangat berpengaruh bagi pendidikan anak-anak. Hampir tak ada prestasi yang bisa dibanggakan dari sekolah seperti itu.

Kasus-kasus ini sungguh sangat berbeda dengan kisah yang dialami Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 9 Satap Tondano di Masarang. Sekolah 'pinggiran' dimana Kepala Sekolah (Kepsek) Ferry Darossa MPd bergelut. Sekolah yang kadang disepelekan namun ternyata berhasil mencetak beragam prestasi semenjak kepemimpinannya.

Setiap hari, Engku' Ferry beranjak dari Kembuan Asri Tondano Utara menuju Masarang. Sebuah pemukiman yang merupakan bagian dari Kota Tondano namun berada sendiri dalam kesunyian pegunungan Masarang. Begitu cepat jenjang karir ia lewati, meraih jabatan Kepsek. Banyak bertanya-tanya seolah tak percaya melihat keberadaannya. Namun semua tanya itu dijawabnya dengan kepedulian, ketulusan, kerja keras, pengabdian dan pengorbanan untuk melayani.

Awal karirnya di lingkungan Aparatur Negara, semenjak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2011. Ferry ditempatkan sebagai guru di SMPN 9 Tondano. Saat menjalaninya, ia dipercayakan sebagai Wakil Kepsek. Segala administrasi selalu diselesaikan. Sampai suatu waktu ia diangkat menjadi Pelaksana Tugas (PLT) Kepsek, Juli 2014 di sekolah tersebut. Tak lama kemudian ia  dilantik menjadi Kepsek SMPN 9 Satap Tondano dan telah melakukan serah terima jabatan, Kamis 16 April 2015, di Kantor Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) Minahasa.


SELAMATKAN SEKOLAH YANG TERANCAM DITUTUP
Ferry mengungkapkan perjuangannya saat dipercayakan menjadi PLT Kepsek. Dikatakannya, waktu itu banyak siswa mulai berpindah dari SMPN 9 ke sekolah lain. Berangkatnya anak-anak menjadi masalah serius. Jika nanti kehabisan siswa, sekolah bakal terancam ditutup. Ia bertekad  menyelamatkan sekolah ini.

Semenjak menjadi PLT, ide-ide pengembangannya dan para guru yang tidak pernah tersalur sebelum itu, mulai dapat direalisasikan. Bersama dengan pendidik lain ia berusaha menopang kemajuan sekolah. "Jika sekolah ini tidak dipercaya oleh masyarakat dan tidak dikembangkan maka akan ditutup. Masyarakat di sini rata-rata sudah punya motor dan mereka mampu menyekolahkan anak di sekolah lain," tandasnya.

Langkah awalnya memupuk kepercayaan masyarakat yakni, meningkatkan prestasi sekolah. Caranya dengan memajukan kegiatan ekstra kurikuler, salah satunya Drum Band. Mengawalinya, seragam dan alat musik tidak tersedia. Ia mulai dari 'nol'. Ferry mencoba menghubungi bantuan sekolah-sekolah Katolik di Tomohon. Salah satunya Don Bosco.

Mereka sangat mendukung apa yang dipikirkannya. Ia banyak membantu melatih vocal group dan paduan suara di sekolah ini sehingga mereka tergerak dengan tulus untuk menolong. Mereka melatih murid Ferry tanpa dibayar. Padahal, buat uang pelatih sebenarnya harus menyiapkan Rp 15 juta. "Kita memang orang seni, mar kalu mo kase latih Drum Band kita nda bisa. Jadi kita minta bantuan pa dorang kase latihan akang. Kalu melodi kita boleh kase latihan sampe malam. Dorang koman yang perkusi-perkusi," katanya.

"Semenjak dorang latihan, kita lei mulai belajar-belajar, sampe kurang kita sandiri yang ja kase latihan pa dorang. Sewaktu ada Drum Band banyak kase bale ulang di sini dorang pe anak," tambahya.


BELI ALAT DENGAN DANA SERTIFIKASI
Untuk penyediaan alat dan seragam Drum Band, jika dipikir hanya merupakan bantuan Don Bosco kepadanya. Ferry membeli perlengkapan yang sudah pernah dipakai  dengan harga murah, senilai Rp 15 juta. Jika bukan karena dirinya tentu mereka akan menjual mahal. Ferry mengakui, itu merupakan bantuan Don Bosco terhadapnya.

Masalah berikutnya tinggal dana. Bantuan kepada sekolah tidaklah mampu membeli peralatan ini. Dibandingkan sekolah lain, 'jatah' Satap begitu minim. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima mana cukup. Apalagi setelah membeli perlengkapan sekolah dan membayar honor guru.

Keinginan yang kuat untuk memajukan pendidikan, Ferry secara diam-diam memakai uang sertifikasinya sendiri tanpa diketahui keluarganya. Hanya ia sendiri yang tahu tindakan ini. Setelah perlengkapan itu dibeli, dikumpulkannya uang pribadi hasil ia menjadi juri dalam berbagai kegiatan seni agar dapat memperbaiki alat-alat tersebut.

"Dana BOS untuk Satap cuma 15 juta. Kalu so bayar honor nda cukup. Waktu itu kita beli itu deng dana sertifikasi. Kita so beli terlebih dahulu kemudian kita sampaikan pa kita pe istri. Sehingga, waktu dia tanya kita bilang so jadi drum band. Kalu kita bilang sapa mo percaya kita pake doi sertifikasi. Cuma kita sandiri yang tau, tamang-tamang guru lei nentau," ujarnya.

"Karna waktu itu kita lia ta pe tamang guru tujuh pe smangat, jadi kita lei nda mo kase lia muka nda meyakinkan. Jadi kita bilang so bajalang le, maju jo satu kali. Gampang tu doi nanti cari. Mar dorang nda tau kita pe pergumulan waktu itu," terangnya.

Bagi Darossa terbentuknya tim Drum Band di sekolahnya tidak hanya sekedar meningkatkan kepercayaan masyarakat. Melainkan juga membentuk kepribadian, karakter dan kreatifitas mereka. Lebih penting lagi mereka bisa belajar saling mengerti dan kompak.

Ferry Darosa saat melatih anak-anak

JUARA DRUM BAND JADI PELECUT
Pada waktu melatih Drum Band, Ferry selalu memberi waktu hingga larut malam bagi siswanya. Orangtua murid pun datang menyaksikan serta memberi semangat anak mereka. Teman-teman guru tetap setia bersamanya melatih para murid.

"Di sini torang pe kekompakan deng kepedulian teman-teman guru terasa. Kalu kita sampe lat di sini, dorang lei sampe lat. Lengkali torang dudu-dudu bacerita di sekolah sampe lat," paparnya

Jerih payah dan pengorbanannya membuahkan hasil. Dalam perayaan 17 Agustus, sekolah ini mendapatkan Drum Band kreatifitas terbaik. Keunggulan mereka yaitu memiliki pemain trompet, sementara sekolah lain tidak. Sampai para pemain trompet ini sering dibidik sekolah lain. Sungguh prestasi yang luar biasa selang waktu singkat sejak Ferry diangkat menjadi PLT.

"Tu alat sebenarnya kita so beli lebe dulu. Sayang kalu torang yang ja ba usul kong torang nda berkorban. Ketika berprestasi, itu membentuk dan mendorong diri siswa untuk sekolah terus," cerocosnya.

Melihat ketekunan serta pemberian dirinya, masyarakat Masarang pun menilai positif dan mulai menyukainya. Saat ia mensosialisasikan tentang rencana kerja bakti bagi tersedianya lapangan upacara, masyarakat merespon baik. Belakangan, sekolah ini diketahui tidak lagi pernah melaksanakan upacara bendera.

Kemudian terjadi hal yang tidak terduga olehnya. Sekitar ratusan masyarakat datang kerja bakti ketika mendengar penyampaian itu. Orang tua yang anaknya tidak sekolah di tempat itu pun turut datang membantu membuka sebuah lapangan bagi sekolah ini.

"Sungguh rasa memiliki masyarakat kampung terhadap sekolah ini terlihat. Mereka tentu merasa sekolah ini adalah masa depan anak cucu dan generasi mereka berikutnya. Karena murid sedikit pun mereka tetap kerja bakti," jelasnya.

Ferry mengatakan, karena mungkin dirinya orang seni sehingga ia merasa pengorbanan itu adalah seni. Ada rasa kepuasan dalam dirinya ketika membantu murid dan melihat mereka sukses. Harapnya pemerintah lebih memperhatikan pendidikan. Untuk membangun masyarakat yang baik semuanya berasal dari pendidikan. Jika pemimpinan Satap lain mau berkorban dan melakukan hal yang sama tentu bisa berkembang.

Menurutnya, tujuan Satap walaupun muridnya sedikit  tetapi dibuat oleh pemerintah supaya setiap anak bangsa memiliki hak yang sama atas pendidikan. Jika pelaku di dalamnya mengerti tentang hal ini maka harus dipertahankan supaya tujuannya tercapai. Ini merupakan cara membangun Minahasa. Sekolah-sekolah lain akan ikut terdorong.

Diungkapkannya, jika Satap bisa, bagaimana mungkin yang lain tidak.

Ke depannya masih banyak yang ingin dia lakukan lagi untuk pengembangan sekolah. Mulai dari sistem belajar mengajar sampai pengadaan fasilitas sekolah. Ia tetap optimis menjalaninya.

"Kalu dia pe KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) so bagus dia pe sistem, anak-anak sedap untuk belajar. Torang so lalui yang lebe susah, masa torang nda mampu tu ke depan ini," pungkasnya optimis.

Sekitar 7 orang guru yang berjuang bersamanya sampai kini ia menjadi Kepsek. Ia juga selalu mendengar teman-temannya dan tidak mengabaikan mereka. Baginya apa yang dilakukan selama ini merupakan buah hasil pemikiran dengan pengajar lain.

Daniel Karepoan, salah seorang guru di SMPN 9  mengungkapkan kesungguhan Ferry. Dikatakannya, semenjak kepemimpinan Ferry, anak-anak selalu dimotivasi sehingga mereka menjadi semangat. Sebelumnya, apel dilaksanakan nanti pkl. 09.00 pagi tapi sekarang dilaksanakan pkl. 07.00. Ini dikarenakan Ferry sering muncul saat subuh ketika hari masih gelap. Guru-guru pun termotivasi untuk datang lebih awal.

"Waktu kita datang jam 7 mo kase apel, ta lia tu bapak Ferry so ada dari tadi, kong so ba sosapu lei. Jadi deng torang lei musti datang cepat. Padahal bapak nda banyak bicara deng menuntut, cuma dia tunjukkan deng dia pe perilaku," ujar Karepoan, guru warga Masarang satu-satunya.

Deli Tulus, orang tua Andreas Woruntu, murid kelas 3 di sekolah ini, cukup banyak melihat perjuangan guru-guru di SMPN 9, termasuk Pak Guru Ferry. Ia mengungkapkan, semenjak Ferry menjadi  Kepsek, sekolah banyak mengalami perubahan.

Perhatian kepada anak-anak sangat terlihat. Suatu waktu anaknya diberikan uang transport oleh Kepsek selesai mengikuti kegiatan. Pernah juga ada murid yang orang tuanya sakit ia kunjungi serta memberikan bantuan materil untuk biaya pengobatan. Semua anak yang pernah putus sekolah dirangkulnya dan dimotivasi untuk kembali belajar.

"Dulu pernah kita pe anak dia ada kase akang doi transport pulang. Mar masa doi pulang lima puluh ribu. Karna ta lebe tu doi, dia kase akang pa dia pe tamang yang butuh. Kita rasa samua tu orangtua bapikir sama deng kita, kalu ini Kepsek mo ta pindah torang nyanda mo kase. Awalnya kita lia, ta pikir dia cuma pura-pura mar serta ta perhatikan ternyata dia pe pemberian diri memang tulus," ungkap Tulus.

"Sampe deng tu anak-anak so betah di sekolah. Pernah dia bilang kalu ngoni mo suka kuliah nanti bapak bantu ngoni sampe maso di Unima. Mar dulu tu anak-anak sini nda pernah mo ba pikir sampe mo kuliah," tambahnya.

Drum band SMP 9 Tondano di Masarang

PROFIL DAN PRESTASI SMPN 9 TONDANO SEJAK KEPEMIMPINAN FERRY DAROSSA
Nama Sekolah: SMP Negeri 9 Satu Atap Tondano.  Jln. Desa, Kelurahan Masarang Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Kepala Sekolah : Ferry Darossa MPd. Wakil Kepala Sekolah : Recky J Toar. Guru-guru lain: Drs. Reinhard Lumoindong, Sonny B. Sumenge, Susanti Saelangi SPd, Jerry J Watulingas SPd. Ditambah guru honorer, Daniel Karepoan.

Keadaan siswa: Kelas VII  berjumlah 15 orang dengan 8 laki-laki dan 7 perempuan. Kelas VIII berjumlah 14 orang dari 6 laki-laki, 8 perempuan. Kelas IX berjumlah 9 orang, 5 laki-laki dan 4 perempuan. Semuanya berjumlah 38 murid dari 19 laki-laki dan 19 perempuan.

Prestasi Sekolah semenjak kepemimpinan Kepala Sekolah Ferry Darossa MPd adalah sebagai berikut: Penampil Kreatifitas terbaik Drum Band 17 Agustus 2014. Juara II Lomba Paduan Suara tingkat SMP se-Kabupaten Minahasa di HUT Minahasa 2014. Terpilih sebagai Drum Band pembuka paskah pemuda GMIM (6/4/2015) Tondano. Terpilih sebagai Drum Band Pembuka Paskah Remaja GMIM (11/4/2015).

Prestasi Kepsek yakni, Diklat Nasional Ketrampilam Satap 2014 Makassar. Instruktur Nasional (IN) Seni Budaya Provinsi Sulawesi Utara. Gelar Budaya Minahasa di Amerika Serikat 2014. Aranger Musik Paduan Suara.(arfin tompodung)



Sponsors

Sponsors