Diduga Biaya Meteran Listrik Dimark-up
Tutuyan, ME
Tampaknya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) unit Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dinilai sudah tidak efisien dan hanya menimbulkan problem baru di masyarakat. Pasalnya, diduga ada keganjalan hitungan meteran listrik atau ada permainan harga dalam melakukan print out meteran. Hal itu terungkap setelah adanya keluhan sejumlah warga Desa Tombolikat, Kecamatan Tutuyan. Dimana, kenaikkan biaya pembayaran listrik rumah perbulan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan atau sosialisasi dari petugas PT PLN terlebih dahulu.
Salah satu warga, Mohammad Riswan, mengungkapkan, dirinya yang juga sedikit memahami soal hitung-hitungan meteran listrik itu merasa ada keganjalan. Oleh karena itu, dia meminta pihak PT PLN unit Boltim, kiranya memberikan penjelasan soal adanya kenaikkan biaya pembayaran yang dinilai tidak sesuai dengan keadaan kapasitas besaran listirik yang digunakan pada masing-masing rumah yang ada di Tombolikat.
“Saya kesal dengan keadaan itu, karena listrik bulan Maret di rumah nenek saya. Namun, ketika dibayarkan pada bulan April ini, petugas PLN itu tiba-tiba menjadi Rp200 ribu, dan itu dinilai tidak sesuai dengan pemakaian beban listrik sehari-hari di rumah. Sedangkan kondisi listrik saja sering padam. PT PLN harus melakukan klarifikasi jangan hanya muncul setiap tiga bulan sekali mengecek meteran terus keluarkan print out harga,” tegasnya belum lama ini.
Terpisah, Atika Mokodompit (Nenek Riswan,red) membenarkan jika anak dan cucunya merasa sehari-hari tidak begitu banyak melakukan aktivitas menggunakan listrik, selain lampu. Hanya, ketika memasak nasi menggunakan rice cooker, mencuci pakaian dengan dan televisi saja yang memakai listrik.
“Ini sangat tidak wajar. Pada bulan-bulan sebelumnya kami membayar sekitar Rp200 ribu, tapi ketika dibayar pada bulan April, tiba-tiba menjadi Rp500 ribu. Padahal, listrik kami hanya 1300 Watt. Dibanding di rumah yang satunya, sehari-harinya banyak melakukan aktivitas dengan listrik, bahkan menggunakan AC (Air Conditioner), mesin cuci dan TV, tapi ketika dibayarkan biayanya masih normal dan wajar,” ungkap Atika.
Pun senada diungkapkan warga lainnya, Ifa Mokoagow. Dia merasa rumah yang ditinggalinya merasa aneh juga. Pasalnya, pada bulan-bulan sebelumnya dengan penggunaan sehari-hari d iluar mesin cuci. Seperti lampu, TV, rice cooker, pompa air dan kipas angin, biasanya hanya dipungut Rp50-60 ribuan. Namun pada bulan April ini, oleh petugas meminta Rp115 ribu.
“Ah!, bagaimana PLN ini, listrik saja sering padam, kok pembayarannya naik hampir dua kali lipat dari biasanya. Ini sangat tidak rasional dan harus ada penjelasan PLN. Kalau tidak, kami menduga pasti ada apa-apanya,” tegas Ifa, sembari mengutip perkataan dari petugas penagihan yang datang menagih biaya listrik, bahwa dirinya (petugas,red) baru kembali dari wilayah Papua, jadi baru ada waktu sekarang untuk menagih iuran listrik.
Sementara itu, sebelumnya melalui perwakilan PT PLN Unit Boltim, I Made Prawira mengungkapkan kalau soal pemadaman itu memang kondisi alam atau pengaruh adanya pengaruh pohon tumbang, karena kondisi wilayah Boltim banyak pohon.
“Kalau masalah adanya pembayaran mahal meteran, silahkan datang ke kantor cabang PLN dengan membawa bukti print out meteran listrik,” singkatnya saat dikonfirmasikan via selulernya, baru-baru ini.(ismail batalipu)



































