Golkar-PDIP ‘Mengancam’


Manado, ME

Gong pesta demokrasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) telah dibunyikan penyelenggara pemilihan kepala daerah (pilkada). Para petarung pun semakin kuat memasang kuda-kuda. Nama Sehan Landjar, Medy Lensun, Sam Sachrul Mamonto, Sehan Mokoagow menyeruak ke publik.

Para ‘Gladiator’ yang dianggap layak maju ke arena oleh publik tanah Totabuan bagian timur tersebut, diprediksi bakal menjadi kampium. Duet di antara nama-nama tersebut pun kans terjadi.

“Menurut saya, koalisi Golkar-PDIP bisa terjadi. Paling mantap pasangan Sehan Mokoagow (Ketua DPD II Golkar Boltim) dengan Medy Lensun (Ketua DPC PDIP Boltim),” nilai politisi Partai Golkar, Rasky Mokodompit, Rabu (22/4).

Personil DPRD Sulawesi Utara dari Bolaang Mongondow Raya (BMR) itu mengurai sejumlah alasan mendasar sehingga ‘perkawinan’ Golkar-PDIP bisa menjadi ancaman serius bagi pasangan manapun di pilkada  Boltim.

“Pasangan ini berpeluang besar menjadi pemenang. Alasannya, mereka berdua representasi wilayah Boltim. Sehan Mokoagow dari daerah Nuangan-Tutuyan-Kotabunan dan  Medy Lensun dari daerah Modayag,” urainya.

“Alasan lain, mereka dari dua partai besar. Perwakilan dari dua agama, Islam dan Kristen. Itu sudah diketahui jelas oleh masyarakat. Sehan Mokoagow ditokohkan di Boltim, sementara Medy Lensun incumben Wakil Bupati Boltim,” ulas Mokodompit.

Diketahui, sebelumnya sejumlah pengamat politik menilai, Bupati Sehan Landjar tetap diunggulkan dalam pertarungan nanti. Namun langkah sang petahana bisa tak akan berjalan mulus jika salah melangkah dalam tahapan penjaringan bakal calon.

“Bupati Landjar hampir pasti akan maju lewat jalur independen. Ini jelas didorong kepercayaan diri yang tinggi. Namun bisa saja itu menjadi langkah yang salah. Sebab kekuatan partai plus figur internalnya yang tak kalah saing harus tetap diperhitungkan. Apalagi kalau mereka bersatu,” kata pengamat politik, Martino Lapian, Selasa (21/4).

Koalisi partai-partai besar dipastikan akan menjadi ancaman serius bagi Landjar. “PDIP harus diperhitungkan sebagai lawan besar karena ambisi dan amunisi mereka besar. PDIP kini dalam performa terbaik untuk menjungkalkan setiap lawan. PAN kini kekuatan besar di wilayah BMR. Golkar punya pengalaman dan tentu ambisi serta amunisi yang tak kalah dengan PDIP,” paparnya.

“Kalau PDIP, PAN dan Golkar menyatu di Boltim, ini tanda awas bagi kandidat lain, termasuk Sehan Landjar. 4 Oktober Sehan dan Medy sudah selesai. Setelah itu, mereka bukan siapa-siapa. Saat itu Pjs akan masuk. Konstelasi kekuatan jelas akan berubah ketika itu,” tandasnya.

Wacana ‘perkawinan’ PDIP, PAN dan Golkar ternyata kans terjadi di Boltim. Hal itu diakui para pemegang ‘mapatu’ di partai tersebut.

“Golkar dengan PAN sudah ada komunikasi,” ungkap Ketua DPC PDIP Boltim, Medy Lensun.

Ditanya soal wacana untuk menduetkan dirinya bersama jagoan PAN, Sam Sachrul Mamonto, Lensun tak menampiknya.

“Saya dengan Alul (sapaan akrab Sam Sachrul Mamonto, Ketua DPRD Boltim) selama ini so komunikasi bagus dan dia bilang dia sangat siap. Torang belum bahas papan satu atau papan dua. Ini kan belum final karena masih dalam penjajakan karena Golkar juga sudah menyatakan siap bersama PDIP,” bebernya.

“Kemarin Golkar juga menelepon dan menyatakan dia siap. Tapi Sehan (Landjar, red) juga masih berpeluang untuk diakomodir (PDIP). PDIP pasti mengusung saya. Soal papan satu atau papan dua itu nanti urusan belakangan,” aku Lensun.

“Golkar, PAN dan PDIP berpeluang berkoalisi. Nasdem juga bisa. Kita tinggal lihat, PDIP, Nasdem dengan Golkar atau PDIP, Nasdem dengan PAN. Konfigurasi ini yang akan mengerucut bulan depan,” pungkasnya.

Peluang menyatunya PDIP bersama Golkar di pilkada Boltim, ikut diakui tokoh Golkar tanah Totabuan, Hj Djelantik Mokodompit. Ia bahkan menegaskan jika dirinya bisa ikut mendukung secara langsung Medy Lensun untuk bertarung di pilkada Boltim.

“Sukses pembangunan di Boltim kan tidak hanya dipimpin satu orang. Keberhasilan itu keberhasilan bersama. Jadi kalau Sehan dianggap sukses, Medy juga,” nilai Mokodompit.

“Masyarakat Boltim harus tahu memilih. Sebab daerah baru. Kalau cuma 5 tahun, nyanda selesai seluruh program. Harus dilanjutkan. Melanjutkan tinggal mana-mana. Boleh sama-sama, boleh sandiri-sandiri. Dua-dua ada peluang,” tutur Ketua DPD II Partai Golkar Kotamobagu itu.

“Kalau koalisi PDIP-Golkar saya melihat ada peluang besar. Torang Golkar bisa lebih dorong lagi. Secara pribadi Medy Lensun saya dorong. Saya kenal secara pribadi beliau. Kita biar orang KK (Kotamobagu) tapi kalau Medy pangge ke Boltim, orang Boltim masih mo dengar apa yang kita bilang,” seloroh mantan anggota DPR RI tersebut. (rikson karundeng)



Sponsors

Sponsors