Rabies ‘Teror’ Sulut

Dinkes Usul Perdes


Manado, ME

Selang tiga tahun terakhir, Bumi Nyiur Melambai tercatat sebagai daerah tertinggi pengoleksi angka kematian akibat virus rabies di Indonesia. Fakta memiriskan itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Utara (Sulut), dr Liesje Grace Punuh MKes, dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) DPRD Sulut bersama Dinkes Provinsi Sulut, Senin (13/4).

Kasus itu kebanyakan terjadi di Kabupaten Minahasa, Boltim, Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Untuk menekan angka kematian akibat rabies, Dinkes Sulut mengusulkan untuk membuat Peraturan Desa (Perdes).

“Apakah dengan adanya Perdes dijamin angka korban rabies akan berkurang? Kami tahu masalah ketersediaan obat kurang, mahal makanya ada keluhan-keluhan,” tanya Wakil Ketua DPRD Sulut, Stefanus Vreeke Runtu (SVR).

“Persoalan ini bisa membuat orang luar tako datang ke Sulut. Apalagi bakudapa anjing. Bagaimana mencegah bukan mengobati agar Sulut tidak peringkat pertama di Indonesia lagi sehingga ke depan angka korban virus rabies menurun,” kata angota Pansus lainnya, Edwin Lontoh.

Menanggapi hal tersebut, Kadis Dinkes, dr Liesje Grace Punuh MKes menjelaskan, Perdes yang diusulkan terkait dengan program vaksinasi hewan peliharaan.

“Karena ada Perdes, di Bali semua anjing divaksin. Di sana angka gigitan sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari Sulut namun angka korban masih lebih tinggi Sulut,” terang Punuh.

“Kita tidak kekurangan vaksin. Kita sudah siap. Di Sulut karena anjing tidak divaksin, angka kematian akibat rabies tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, vaksinasi hewan peliharaan dipastikan bisa menekan angka korban. “Yang kami harapkan, lewat Perdes setiap warga yang punya anjing wajib vaksin dan dibayar sendiri,” kata Punuh.

Usulan tersebut ditanggapi positif Pansus LKPJ. Namun menurut SVR, sebaiknya yang dibuat Perda di Kabupaten/Kota agar bisa lebih cepat.

“Para kepala desa susah, mau ambil uang dari mana untuk membuat Perdes. Makanya, saya usulkan Perda. Nanti Perda itu juga akan dijabarkan sampai ke Desa-Desa. Persoalan sekarang, apakah ada data ril soal hewan anjing di Sulut,” ujar SVR. (rikson karundeng)



Sponsors

Sponsors