ISIS Ancam Sulut, Polda Proteksi Zona Perbatasan


Manado, ME

Bumi Nyiur Melambai siaga. Gerakan masif Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), kans menyasar daerah yang masyhur dengan patron kerukunan umat beragama. Potensi ancaman terendus, sebab Sulawesi Utara (Sulut) merupakan pintu gerbang di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, akses darat dan laut dengan sejumlah wilayah seperti Poso yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat kegiatan teroris, terbuka lebar.

Untuk menghadang sepak terjang kelompok garis keras yang mengusung interpretasi yang keras pada Islam dan kekerasan brutal ini, Korps Bhayangkara Sulut besutan Brigjen Polisi Wilmar Marpaung, langsung bergegas. Langkah taktis pun dirancang.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut Brigjen Pol Wilmar Marpaung usai mengikuti upacara Simpatik di Mapolda, untuk mengantisipasi pergerakkan ISIS, pihaknya akan memperketat wilayah perbatasan laut maupun udara.

”Selain itu, pengawasan di pelabuhan dan terminal diperketat," tandas Marpaung.

Hal senada dikatakan Wakil Kapolda Sulut, Kombes Pol Charles Ngili. Dikatakan Ngili, jajaran Polda Sulut saat ini giat menebar sosialisasi di masyarakat terkait bahaya ISIS.

”Seruan-seruan untuk memerangi ISIS masuk di Bumi Nyiur Melambai, terus kami optimalkan. Selain itu, pemasangan pamflet dan spanduk di tempat umum menjadi langkah awal Polda, guna memberikan informasi kepada masyarakat agar memerangi ISIS,” terangnya.

Sebelumnya, genderang perang terhadap ISIS, juga ditabuh jajaran pemerintah di Sulut. Seluruh kepala daerah sepakat menolak kehadiran ISIS di jazirah utara pulau Selebes.

Bahkan, dalam komitmen bersama kepala daerah di Puncak Masarang (Kampus IPDN), tertuang lima poin penting yang menjadi alasan Sulut menolak gerakan ISIS. Antara lain, warga Sulut bertekad mewujudkan gerakan bela negara dengan cara mempertahankan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan wilayah NKRI dengan menolak dengan tegas sikap ancaman terorisme dan radikalisme yang merusak sendi-sendi kehidupan persatuan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya, menolak dengan tegas kekuatan kelompok asing dan tokoh-tokoh tertentu yang berupaya memasukan pahan ISIS di Indonesia terutama di Sulut, serta mendukung kebijakan pemerintah di dalam pemberantasan narkoba, pemberantasan praktek begal jalanan yang telah merusak mental dan moral serta jiwa raga generasi bangsa.

Upaya ini diperkuat dengan menghimbau segenap komponen bangsa secara bersama-sama mewujudkan gerakan bela negara melalui tata kehidupan masyarakat yang kreatif, inovatif, memiliki sikap mental positif dan menerapkan disiplin yang tinggi.

Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang, mengatakan, penandatangan bersama menolak hadirnya gerakan ISIS di daerah ini, merupakan kegiatan yang bernilai strategis.

“Sebagai media efektif dalam mengetuk nurani setiap anak bangsa, agar semakin memantapkan nasionalisme, serta bertekad dan komitmen yang kuat untuk membela Negara,” tegas Gubernur.

Gubernur berharap salah satu cara untuk menangkal gerakan ISIS, yakni menanamkan wawasan kebangsaan kepada gerenasi muda dimanapun berada.

“Implementasi dalam setiap langkah dan sendi kehidupan bermasyarakat, senantiasa berdiri kokoh tampil terdepan dan terus mengangkat panji mempertahankan jati diri bangsa Indonesia,” aku Sarundajang.(melky tumilantouw)



Sponsors

Sponsors