Foto: Wenny Lumentut.
Produksi Cengkeh Sulut Turun Drastis
Lumentut Minta Pemerintah Serius
Manado, ME
Cengkeh di wilayah Sulawesi Utara (Sulut) kini dalam kondisi memprihatinkan. Hasil produksi menurun jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD (Sulut), Wenny Lumentut.
“Laporan pak Gubernur tadi sudah bagus. Produksi cengkeh kita tahun 2014 mencapai 9.400 ton. Tapi itu jauh dari produksi Sulut tahun-tahun sebelumnya. Itu berarti ada penurunan produksi,” jelas Lumentut, usai mengikuti rapat paripurna LKPJ Gubernur tahun 2014 di ruang sidang DPRD Sulut, Selasa (31/3).
Ia menegaskan, persoalan ini harus diberi perhatian serius oleh pemerintah provinsi, khususnya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
“Ini menjadi tugas SKPD, Dinas Pertanian dan Perkebunan, bagaimana mengembalikan produksi itu agar supaya seperti dulu lagi. Karena apa, harga cengkeh saat ini hingga sepuluh tahun depan masih akan berada di atas harga pokok prodoksi. Dengan demikian petani akan mendapat margin yang berlebihan,” tandasnya.
“Jadi, pemprov melalui SKPD-nya harus lebih perhatikan masalah pemberian bibit gratis, peningkatan jalan-jalan akses perkebunan. Agar produksi bisa ditingkatkan lagi. Karena hasil produksi kita sudah tertingal dari daerah-daerah lain,” jelas Lumentut yang dikenal sebagai seorang pengusaha yang paham butul masalah cengkeh.
Dijelaskannya, hasil produksi cengkeh Sulut kini berada di nomor urut 5. Jauh di bawah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Bali.
“Bagaimana tugas pemerintah untuk mengembalikan masa jaya petani cengkeh seperti zaman dahulu. Kenapa harus dikembalikan karena dari tahun ini hingga 10 sampai 15 tahun ke depan, harga cengkeh akan selalau berada di atas pokok produksi. Ini bukan zaman BPPC lagi, semua harga dibentuk berdasarkan demand and supplay (kebutuhan dan persediaan),” kunci politisi partai Gerindra itu. (joyke watania)



































