Tak Kooperatif, Komnas PA Kecewa Sekolah YDH

Sirait: Kami di 'Ping-Pong'


Manado, ME

Wajah kecewa terpancar dari seorang Arist Merdeka Sirait ketika menyampangi Sekolah Yayasan Dian Harapan (YDH) di Kelurahan Ranotana, Kecamatan Sario Kota Manado. Pasalnya, tujuan kedatangan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) ini untuk meminta klarifikasi atas dugaan pelecehan terhadap anak di bawah umur.

"Kami kecewa terhadap pengelolah sekolah ini, karena Kepala Sekolah (Kepsek) tidak berani memberikan klarifikasi terhadap tuduhan-tuduhan yang ada," ungkap Sirait.

"Jadi kami berkesimpulan, pihak sekolah memang tidak mau memberikan keterangan soal sangkaan oknum guru yang melakukan tindakan seksual tersebut," urai pria asal Batak ini dengan nada kecewa.

Sirait mengesalkan pihak sekolah yang memang tertutup untuk berikan klarifikasi. Ini menurutnya akan merugikan pihak sekolah sendiri.

"Itikad baik kami bersama ibu Maya (Maya Rumantir, red) ingin bertemu dengan Kepala Sekolah namun mereka menolak. Ini artinya pihak sekolah menolak kehadiran kami juga wartawan yang melakukan peliputan," keluh pria Berwatak keras ini.

"Kami juga kecewa dengan tidak dilayani dengan baik, ini kesimpulannya pihak sekolah menutup-nutupi, dan itu merugikan pihak sekolah," kata Sirait.

Sirait mengakui, mereka seperti di Ping-pong oleh pihak sekolah.

"Kami sudah disuruh datang ke SD, SMP dan juga ke SMA namun tidak ada hasilnya," terangnya lagi.

Sekedar informasi, RYS (21) guru seni di Play Group Dian Harapan, diduga telah mencabuli dua siswinya. Selain sebut saja Mawar (4), korban lainnya yang terungkap, sebut saja Echy (3), teman sepermainan Mawar.

RYS sendiri diringkus tim Polda Sulut, Jumat (13/2), lalu seusai mengajar. Peristiwa tak senonoh itu terungkap pada 30 Januari 2015 silam.

Enji yang ditemui di Polda Sulut tak lama setelah penangkapan tersangka menyebut, kala itu ia dan Mawar sedang menonton televisi di rumah. Tak sengaja, Mawar tiba-tiba jatuh dari kasur depan TV, lalu kemudian merengek kesakitan.

"Pahanya terbentur lalu ia merengek kesakitan. Lalu saya periksa. Pas lihat, kenapa kemaluannya merah? Paha yang terbentur kok yang sakit di situ? Saya curiga sejak saat itu," kenangnya.

Enji beserta suami dan keluarga lainnya mulai menggali informasi dari Mawar. Awalnya sang anak enggan mengaku. Ia selalu mengelak saat ditanya. Keluarga pun tak putus asa sampai akhirnya Mawar mengaku.

"Anak saya bilang ada orang yang menyentuh kemaluannya. Kata dia sudah lima kali. Saat ditanya ciri-ciri, sosok itu mengarah pada seorang guru di sekolahnya. Peristiwa itu katanya terjadi di toilet sekolah," jelasnya.

Keesokan harinya, 31 Januari, keluarga kemudian datang ke sekolah untuk menggali lebih dalam informasi tersebut. Dibantu seorang guru perempuan.

Sementara Wakapolda Sulut, Kombes Pol Charles Himler Ngili ketika dimintai keterangan beberapa waktu lalu mengatakan, sepenuhnya kasusnya harus menunggu informasi dari penyidik.

"Ya kita harus menunggu keterangan dari penyidik, kalau penyidik belum bisa memberi informasi, berarti ada yang harus didalami lebih dahulu," aku Ngili.

Komnas PA bersama Maya Rumantir pun rencananya akan menyambangi Polda Sulut. "Ya datang saja, itu tidak apa-apa, kami tetap terima," aku Kabid Humas Polda Sulut AKBP Wilson Damanik.(melky tumilntouw)



Sponsors

Sponsors