HIV-AIDS Ancam Kota Religius


Tomohon, ME

Ledakan penderita HIV-AIDS di Kota Tomohon, kian mengkhawatirkan. Dari sekira 101 ribu penduduk Kota Religius, membaur 105 Saudara Dengan AIDS (SADA). Tomohon genting HIV-AIDS.

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyakit yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Secara medis, HIV menggerogoti kekebalan tubuh pederitanya. Di jazirah paling utara Pulau Celebes, kasus HIV-AIDS pertama kami ditemukan di Rumah Sakit (RS) Bethesda Kota Tomohon pada tahun 2007. Setelah itu, penderita AIDS di Sulut, ibarat jamur pada musim hujan.

Untuk Kota Tomohon, 105 kasus HIV-AIDS telah mendapat penanganan intensif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang dinahkodai Walikota Jimmy F Eman, SE Ak. Sesuai data KPA Tomohon, kebanyakan kasus yang ditemukan menimpa kalangan ibu rumah tangga. Selain itu, warga yang memiliki latar belakang pernah bekerja di luar daerah. Meski telah mendapat perawatan dan penguatan mental secara intensif, namun kondisi SADA di Kota Pendidikan, masih dalam bayang-bayang diskriminasi.

Demikian penjelasan Alfian Salaki, salah satu aktifis dan konselor HIV-AIDS di Kota Tomohon. Ia mengaku, penyakit HIV-AIDS seperti fenomena gunung es. Maksudnya, jika tidak bisa dikendalikan akan berpotensi fatal. Ia mencontohkan jika 105 SADA tidak diberikan penguatan dan dukungan, penyebaran penyakit mematikan ini akan melonjak signifikan. “Makanya mereka kami arahkan dan berikan penguatan agar mereka tidak merugikan orang lain dengan menularkan penyakit tersebut. Mereka sangat menerima. Namun, butuh topangan semua pihak untuk tidak mendiskriminasikan mereka di masyarakat,” jelas Salaki.

Selanjutnya, terang dia, peningkatan jumlah kasus ini membutuhkan perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon. Langkah strategis yang harus dilakukan, dengan mengoptimalkan kampanye di masyarakat khususnya generasi muda, terhadap bahaya HIV-AIDS. Selain itu, dibutuhkan alokasi anggaran dari pemerintah melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), guna menopang program-program pembinaan bagi SADA.“Kegiatan-kegiatan untuk SADA sangat dibutuhkan, untuk memberikan dukungan dan semangat bagi mereka. Sebab, jika tidak diberikan perhatian khusus, maka mereka bisa melakukan upaya-upaya penularan di masyarakat. Oleh sebab itu, perhatian dari pemerintah sangat dibutuhkan,” ungkap Salaki.

Dijelaskannya, untuk Kota Tomohon terdapat beberapa kelompok peduli HIV-AIDS atau kelompok pendampingan, seperti Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Namun, menurutnya, sering mengalami kendala dalam hal pendanaan untuk setiap kegiatan yang dilakukan.”Di KDS kami saling mendukung dan saling support satu dengan yang lainnya. Ini merupakan wahana bagi kami untuk bersosialisasi dengan pengidap HIV,” ujar Salaki didampingi pengelola logistik Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tomohon, Stenly Wildy.

Sementara itu, ditambahkan Wildy, selain peran pemerintah dibutuhkan topangan tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat Tomohon dalam proses pencegahan penyakit ini. Sebab, akan berakibat buruk bagi kehidupan diri sendiri dan orang lain.”Jangan berganti-ganti pasangan dan setialah pada pasangan sendiri,” sebut Wildy

“Terkait dukungan pemerintah, itu sangat penting. Sebab saat ini, untuk menjalani proses pengobatan, masih diberikan secara gratis. Bagaimana nantinya jika bantuan tersebut dihapus. Oleh sebab itu, dibutuhkan dana dari pemerintah daerah untuk pendampingan penderita SADA,” harapnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga dr Olga Karinda, menjelaskan, pentingnya pelaksanaan sosialisasi bagi generasi muda khususnya siswa-siswa di Kota Tomohon. Bagi dia, pergaulan bebas dan pengunaan narkoba, merupakan pemicu terjadinya HIV-AIDS.”Pemerintah berusaha maksimal melakukan sosialisasi bagi generasi muda melalui sekolah-sekolah, perguruan tinggi bahkan masyarakat luas. Ini sangat penting,” papar Karinda didampingi Sekretaris KPA Kota Tomohon, dr Mieke Rumambi.

Sesuai data yang diperoleh, total pengidap HIV-AIDS di Kota Tomohon hingga bulan Januari tahun 2015 ini, telah mencapai 105 kasus. Atau, mengalami kenaikan 7 kasus dari tahun 2014. Pengidap HIV AIDS terbanyak di Kecamatan Tomohon Utara dengan rincian, HIV 8 penderita dan AIDS 20 penderita. Total keseluruhan yakni 28 kasus. Untuk Kecamatan Tomohon Tengah jumlah 20 pengidap. Dengan rincian, HIV 5 penderita dan AIDS 15 penderita. Di Kecamatan Tomohon Timur terdapat 1 penderita HIV dan 9 penderita AIDS. Kecamatan Tomohon Barat penderita HIV sebanyak 4 penderita dan AIDS 12 penderita. Sementara di Kecamatan Tomohon Selatan, penderita HIV 5 orang dan AIDS 10 orang. Selain itu, tercatat 5 penderita yang tidak diketahui identitasnya. (victor rempas)



Sponsors

Sponsors