Guru-guru Minahasa-Tomohon Terima Kursus Geothermal


Tondano, ME

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulut, menggelar kursus singkat tentang Panas Bumi untuk guru-guru SLTP dan SLTA Minahasa dan Tomohon di ruang sidang Kantor Bupati Minahasa, Rabu (4/3).

Kegiatan dengan tema "Panas Bumi: Energi Untuk Tanah Airku" ini bertujuan mendukung pengembangan panas bumi di kawasan Indonesia Timur. Serta memberikan pengertian yang benar tentang energi panas bumi bagi masyarakat.

"Sesuai dengan tri dharma misi, penelitian, peningkatan kemampuan SDM dan pemberdayaan masyarakat. Kami khusus untuk pusat penelitian panas bumi yang mendapat mandat untuk penelitian panas bumi. Kami mendengar banyaknya keluhan masyarakat yang didasarkan ketidaktahuan tentang apa itu energy panas bumi karena mungkin kurangnya sosialisasi dari pihak-pihak yang dianggap netral. Kami dari akademis yang tidak berpihak pada siapapun berusaha untuk menyampaikan apa itu energi panas bumi," kata Ir. Pri Utami, MSc Phd. Ketua Pusat Penelitian Panas Bumi Universitas Gadjah Mada.

Dalam isi materi tersebut dijelaskan tentang energi panas bumi yang bisa memberdayakan masyarakat dan ramah terhadap lingkungan."Dalam materi-materi yang ada akan dijelaskan mengenai apa itu energi panas bumi, bagaimana dia ditemukan, bagaimana dia dikelola, bagaimana perannya di dalam memasok kebutuhan energi, bagaimana perannya dalam pelestarian lingkungan, bagaimana panas bumi dapat dikatakan sebagai energy yang ramah lingkungan," ujarnya.

Menurutnya memilih guru-guru sebagai peserta oleh karena mereka adalah agen-agen penyebar pengetahuan. Dengan harapan para guru mampu menyampaikan kepada anak didiknya dan masyarakat sekitar tentang energi panas bumi.

"Setelah kegiatan ini guru-guru kiranya dapat menyampaikan kepada anak-anaknya, tetangga-tetangganya. Guna mengedukasi masyarakat sekitarnya. Dengan ini dapat memberikan insipirasi bagi adik-adik siswa. Supaya mereka dapat memandang energi panas bumi ini secara berimbang," paparnya.

"Sebab banyak informasi negatif mengenai energi panas bumi. Proses geothermal berbeda dengan pengambilan minyak, itu bukanlah penambangan, atau tuduhan akan meracuni air yang sampai berkata akan jadi Lapindo kedua. Kami peneliti tidak berbohong, sesuai dengan sumpah jabatan. Kalau memang terjedi meresahkan masyarakat, perlu dikaji dulu seperti apa," tandasnya. (arfin tompodung)



Sponsors

Sponsors