Hatta Menang, PDIP Terancam


Manado, ME

Jelang kongres Partai Amanat Nasional (PAN), tensi politik terus meningkat. Babak klaim suara masih berlangsung. Belakangan, nama Hatta Rajasa menguat. Hatta bahkan diprediksi menang telak. Kondisi ini, dinilai sebagai ancaman bagi partai penguasa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Cyurs Network Hasan Nasbi. Menurutnya, jika Hatta Rajasa terpilih kembali dalam Kongres PAN, maka akan terjadi koalisi baru PAN-Demokrat. Dan kondisi itu dipastikan memberi keuntungan bagi SBY, besannya.

Jika Hatta menang, SBY dianggap mampu mengendalikan kekuatan di parlemen. Seperti diketahui 49 kursi di DPR milik PAN, sedangkan Demokrat sebanyak 61 kursi. Jika kekuatan keduanya disatukan maka dipastikan melebihi PDI Perjuangan. "Kita tahu Hatta dan SBY nggak akan bisa dipisahkan. Ini bisa jadi ancaman serius bagi PDIP di Parlemen," katanya di kantor CSIS, Jakarta, Kamis (26/2).

Hasan menyebut, kondisi ini bisa terjadi lantaran figur SBY yang pernah jadi mantan presiden itu, dianggap masih cukup berpengaruh. "Ini akrobat politik yang lihai dan licin, SBY akan diperhitungkan di politik nasional. Secara pamor dan karisma, SBY mantan presiden sedangkan Hatta itu mantan menteri," kata Hasan.

Menurutnya, ini yang membuat Kongres PAN layak disimak. Karena secara garis besar ada dua tokoh besar yang berperang di balik perhelatan ini. SBY dan Amien Rais. "Ini politik besan yang menarik, besan SBY atau besan Amien Rais? Kita tunggu siapa yang menang," imbuhnya

Sementara, mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir mengaku sangat menyayangkan jika hal itu terjadi. Pasalnya, jika PAN nanti berdiri di bawah bayang-bayang Demokrat, dapat membuat suara PAN kembali anjlok. Ia menyebut, penyebab suara PAN anjlok tak lain karena PAN berjalan di bawah bayang-bayang partai lain. "PAN harus mandiri. Kenapa suara anjlok, karena PAN di ketiak partai lain. Kita ini pengusung reformasi kok mau di ketiak orang lain. Itu penting," tegasnya saat dihubungi, Kamis (26/2).

Ia menjelaskan, kali ini PAN memang harus melakukan reformasi. Dan tidak berharap pihak lain untuk memperkuat langkah politik kedepan. Ia bahkan menganggap, PAN harus meraup suara yang signifikan. Tentu dalam memasuki arena peperangan, strategi harus diatur. "Kita minimal tiga besar karena ada strategi, baik ideologis maupun pragmatis," ujarnya.

Menurutnya, untuk memenangkan pemilu, partai harus pragmatis. Sementara dalam menjalankan partai harus tetap ideologis menjunjung tinggi cita-cita luhur partai. "Kita kalau memenangkan pemilu harus pragmatis, dan menjalankan partai lima tahun harus ideologis," harapnya.

Sementara tim sukses Zulkifli Hasan, Suparji Achmad menyebut, Zulkifli Hasan bisa memenangkan Kongres dengan cara elegan dan sportif. Kuncinya menurutnya adalah dengan menganggap rival itu sebagai sahabat, bukan musuh. Sehingga tidak ada perang dingin yang bisa membuat akar rumput gelisa dan bingung. "Selama ini pihak Zulkifli Hasan menganggap tidak ada rivalitas dalam kongres akhir bulan ini. Kita ini keluarga, jadi anggap partner bukan rival," ungkapnya di Kantor CSIS, Jakarta, Kamis (26/2).

Suparji pun mengatakan bahwa peta politik PAN masih sangat dinamis. Dengan demikian belum bisa dikatakan ada yang mendominasi suara. "Zulkifli Hasan menang jadi ketua MPR menit terakhir, jadi semua masih dinamis," kata Suparji.

Terpisah, Wakil Sekjen DPP PAN Jana Sjamsiah mengklaim 368 kader PAN pendukung Hatta Rajasa dari seluruh daerah yang memiliki hak suara. Para pendukung ini, kini telah tiba di Bali untuk memberikan suaranya dalam Kongres IV PAN pada 28 Februari 2015 mendatang. "Mereka datang dari titik keberangkatan Riau dan Manado. Yang langsung berangkat ke Bali berasal dari Sumut, Jateng, Jatim dan Gorontalo," katanya.

Menurutnya, pendukung Hatta Rajasa itu mayoritas berasal dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Pendukung ini berada di bawah langsung koordinasi tim Hatta Rajasa. Jumlah itu belum termasuk pemilik suara dari organisasi otonom yang akan memilih Hatta Rajasa. "Menurut saya itu sangat rasional. Mereka mendukung Bang Hatta Rajasa karena prestasi dan popularitas," tutup Jana. (happy karundeng)



Sponsors

Sponsors