Foto: Kepala BKDD Boltim, Darwis Lasabuda.
Honda Belum Digaji, Lasabuda: Mereka Harus Ikut Tes Dulu
Tutuyan, ME
Sedikitnya 2000-an tenaga Honorer Daerah (Honda) dilingkup Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) nampaknya masih harus bersabar dalam menerima upah mereka. Sebab, pembayaran gaji bagi Honda yang diketahui sejak Januari hingga Februari 2015 ini, belum dibayar, karena masih harus mengikuti fit dan propertes terlebih dahulu, guna menentukan nasib mereka kedepan, apakah akan diterima sebagai honda lagi atau tidak.
Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKDD) Boltim, Darwis Lasabuda membenarkan bahwa semua staf yang statusnya honda memang belum menerima gaji, hingga dilaksanakannya uji kompetensi tersebut, dan itu sudah merupakan syarat utama agar bisa mengantongi surat keputusan (SK) dari Bupati Boltim.
“Ini menindak lanjuti ketentuan pemerintah pusat yakni, ASN. Jadi sebelum ada hasil tes dan mengantongi SK, selama itu juga mereka belum merima gaji itupun kalaupun mereka lulus dalam tes nanti. Makanya dari sekarang mereka dituntut harus belajar karena dari 2000 honor yang sudah memasukan kelengkapan berkasnya itu hanya akan diterima sebanyak 400an saja,” ungkapnya.
Dimana untuk waktu penentuan tes uji kompetensi tersebut, kata Lasabuda, belum bisa memastikan kapan pelaksanaannya. Karena BKDD untuk saat ini masih disibukkan dengan pelaksanaan pra jabatan (Prajab) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hingga Maret mendatang. “Selain itu pada intinya kami masih menunggu perintah dari Sekertaris daerah (Sekda), untuk isi materi tesnya akan dibuat masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan BKDD hanya panitia pelaksananya saja. Kita tunggu saja bersama, waktu pelaksanaannya tetap akan kami informasikan,” tandasnya.
Sebelumnya dari pantauan di lapangan, sejumlah tenaga Honda Boltim juga sudah sempat mengeluhkan masalah pembayaran gaji tersebut, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari apalagi yang sudah berkeluarga dan hanya bergantung pada pendapatan gaji tiap bulannya, sebesar Rp750 ribu hingga Rp1 juta. “Kami tidak bisa apa-apa selain meminjam uang ke orang lain untuk menutupi kebutuhan keluarga kami. Banyak kebutuhan kami sehari-hari dan jika terima gaji nanti sudah tidak ada lagi yang tersisa karena harus membayar hutang pinjaman,” ungkap sejumlah tenaga Honda, yang namanya tidak ingin ditulis. (ismail batalipu)



































