'Universitas Orang-Orang Mati'
Sebuah Kritik Untuk Perguruan Tinggi di Sulut
Laporan: Rikson Karundeng
Para seniman Sulawesi Utara (Sulut) kembali mencatatkan kiprahnya dalam sejarah eksistensi ‘Teater Sulut’ lewat karya dan aksinya yang bertajuk ‘Universitas Orang-Orang Mati’. Di panggung Gedung Kesenian Bitung, Sabtu (19/1), para peteater yang menyatu dalam wadah Teater Muda Manado ini, berhasil menyajikan secara apik naskah Irwan Jamal dalam gerak dan mimik serta balutan cahaya dan penataan panggung yang luar biasa.
Setting pementasan ini adalah sebuah universitas, dimana mahasiswa, dosen serta civitas akademikanya telah menjadi zombi. Lembaga pendidkan ini kemudian menerima seorang pemuda untuk menjadi mahasiswanya. Pemuda ini datang dengan harapan dan cita-cita yang besar. Tetapi sesampainya di universitas tersebut, dia harus mendapati kenyataan bahwa syarat utama untuk masuk adalah mati dan menjadi zombi, seperti mahasiswa-mahaswa yang lain.
Saat ia berhadapan dengan kematian, ada perasaan yang sangat menakutkan. Tapi di sisi lain ia sangat ingin menjadi seorang mahasiswa dan menggapai cita-citanya. Jika ia ingin menjadi bagian dari universitas maka ia harus mati karena universitas telah mati.
“Universitas Orang-Orang Mati berbicara soal dunia pendidikan yang telah bergeser makananya menuju sebuah industri besar yang memproduksi manusia-manusia untuk berbagai kepentingan. Tapi di sisi lain tidak bisa dipungkiri pendidikan sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia,” terang sang sutradara, Cristian Vaam Lumenta.
Menurutnya, dalam proses penggarapan, ia memilih mengambil jarak pada teks agar bisa mengkritisi naskah secara objektif dengan data-data yang ditemukan. “Untuk pilihan bentuk, saya pun mencoba membawakan naskah ini pada bentuk-bentuk simbol agar penonton bisa mengambil jarak pada peristiwa di atas panggung dan kembali mengkritisi pertunjukan ini secara objektif. Perputaran ini menarik dalam sebuah peristiwa teater dan seolah menjadi suplemen untuk pertumbuhan teater itu sendiri,” urai peteater yang kini sedang menyelesaikan studinya di IKJ dan STSI Bandung.
Sementara, peteater senior Sulut, Fredy Wowor menilai, pementasan tersebut sangat baik. Para pemain, penataan artistik dan pesan yang ingin disampaikan mampu mendarat. “Capaiannya di atas rata-rata sebuah pertunjukkan. Pementasan ini sebuah karya eksperimentasi, walaupun dia memainkan naskah dari luar tapi dia sangat kontekstual atau relevan dengan situasi sekarang. Pentas ini kritik bagi dunia pendidikan kita,” komentarnya soal naskah yang disajikan.
Menurutnya, yang menarik dari pentas ini, pesan dasar dari naskah tersampaikan. “Dari segi keaktoran, itu kan sebuah proses. Tapi gaya, forem pertunjukan tersampaikan. Ia bercerita bagaimana tantangan dari sebuah perguruan tinggi, kampus. Ia melihat pendidikan tinggi kini tidak lagi melihat bagaimana menghidupkan manusia. Dalam pengertian, manusia dapat menggali kondratnya yang mencari pengetahuan untuk memandu hidupnya. Pendidikan hari ini ditantang dengan kebutuhan sekedar untuk menjadi bagian dari sistem. Artinya sekedar hidup dari indoktrinasi dari sitem kekuasaan,” urai dosen teater di Fakultas Sastra Unsrat ini.
Wowor menegaskan, pentas ini mau menggambarkan zombiisasi. Gambarannya, pendidikan bukan lagi pendidikan yang membangkitkan hasrat akan hidup tapi justru menciptakan bangkai-bangkai berjalan, mayat-mayat yang justru hidup untuk memamah kehidupan yang lain.
“Saya sangat mengapresiasi sutradaranya. Catatan pribadi saya, ia mampu menyampaikan apa yang ingin disampaikan penulis naskah. Ia mengambil bentuk yang cukup bisa diterima oleh penonton. Ia mampu mengekspresikan gaya dari pentas itu,” urainya.
Wowor juga memberikan catatan krtis dari pementasan ini. “Barangkali yang kurang soal pendalaman terhadap konteks manusia di Sulawesi Utara. Tampilan-tampilan karakter, masih jelas sekali pengaruh dari drama-drama tertentu yang dia pelajari. Itu berguna dalam situasi yang mendesak tapi beberapa penampilan tokoh membuat ciri khas sutadara tidak terlihat,” ulasnya.
Budayawan ini juga menilai,bahan dasar dari sekolah-sekolah acting, jelas tampak dari penggarapan sutradara. “Sutradara harus terus mencari ciri khasnya. Untuk menemukan karakter-karakter sesuai konteks. Saya maklumi, persiapan pentas mereka tidak lama tapi hasilnya di atas rata-rata. Harus digaris bawahi, kemempuan sutradara dan aktor-aktor untuk menampilkan sisi gelap dari pendidikan bebas biaya, pendidikan murah yang pada intinya menjadi jerat sistem. Kurikulum untuk mendorong daya cipta tapi yang terjadi justru daya mati, daya untuk memusnahkan spirit penciptaan,” aku pegiat Mawale Movement ini.
Bagi Wowor, salah satu kritik yang berhasil ditampilkan dari pementasan tersebut, ketika mahasiswa yang harus tampil menjadi agen perubahan tapi kenyataannya daya ciptanya ditantang oleh sistem. “Sistem dengan perkembagan teknologi hari ini, menciptakan bingkai. Sehingga cara berpikir mahasiswa terbatasi oleh bingkai. Mereka hanya dididik untuk menjadi bagian dari mesin pembangunan. Sutradara mampu menghadirkan refleksi, apa gunanya pendidikan hari ini?” tandasnya.
Pementasan ini disutradarai Cristian Vaam Lumenta, Pimpinan Produksi Alexander Malonda, Penata Artistik Vildy Tambalino, Dramaturg Fredy Wowor, Ie Hadi Gedoan, Vick Chenorre, Dean Joe Kalalo dan Christy Sondey, Konsultan Artistik Sefri Rorong, Penata Cahaya Ramli, Penata Rias Nabila, Penata Musik Gerry, Stage Manager Jun. Para aktor, Achi Breyvi Talaggai, Sylvester Ompi Setlight, Karlita Eman, Jein Byl, Rivo Sumampow, Ando Somba, Melisa Pinangkaan, Randy Beersh, Aldo Soputan, Veronika Turang, Virginia Lumowa, Nikolas Talanggai, Vicking Kaligis, Ardonik Takou, Glorivia Ticoh, Ephipany Pangkey. (***)
Foto : Aksi para peteater terbaik Sulut di Gedung Kesenian Bitung, Sabtu (19/1).



































