Pertamina dan Pemprov Sulut Cuek?


Manado, ME

Damai Natal di Sulawesi Utara, kans terusik. Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas, bakal jadi penyulut. Teror kelangkaan bahan kebutuhan pokok masyarakat yang telah menerjang Bumi Nyiur Melambai sejak bulan November, belum digubris. Pertamina Manado sebagai penanggung jawab suplai BBM dan Gas, terkesan cuek. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki 'otoritas' perwakilan pemerintah pusat di daerah pun seakan 'bungkam'.

Jeritan warga seakan tak dihiraukan. Premium dan Solar masih sering raib di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).  Gas isi ulang juga kerap hilang dipasaran. Parahnya lagi, harga gas bersubsidi 3 kilogram sudah tembus angka Rp27 ribu per tabung.  Padahal harga eceran tertinggi (HET) di Sulut, hanya dikisaran Rp15 ribu hingga Rp18 ribu.

Badai protes pun mulai mengalir deras dari berbagai elemen masyarakat, khususnya umat Kristiani di Sulut. Sebab krisis BBM dan Gas, selalu terjadi jelang perayaan Natal atau bertepatan dengan tingginya kebutuhan warga.  Mengingat mayoritas masyarakat Sulut merupakan warga Kristen. Indikasi penyimpangan dalam distribusi BBM dan Gas pun menyeruak ke permukaan. Aparat kepolisian diminta turun tangan.

“Ada apa dengan Pertamina ini? Tiap jelang Natal,  BBM  selalu menghilang. Kami minta Pertamina jangan ganggu makna Natal dengan kelangkaan BBM dan Gas,” lugas John Sumarauw salah satu aktifis asal Langowan. “Pemprov Sulut juga jangan diam. Segera sikapi krisis BBM dan Gas yang sudah sangat merisaukan masyarakat ini. Aparat pun harus secepatnya turun tangan. Sebab kelangkaan BBM dan Gas ini sarat indikasi penyimpangan,” tandasnya.

Senada ditegaskan Ketua Pemuda Adat Sulut, Rivo Gosal. Ia mengancam akan mengerahkan massa Pemuda Adat untuk melakukan demo di Pertamina dan Pemprov, bila kelangkaan BBM dan Gas terus terjadi. “Jika krisis BBM dan Gas terus berlanjut, maka kami akan gelar unjuk rasa besar besaran. Kelangkaan bahan bakar jelang Natal ini, jelas sudah  seperti teror bagi masyarakat Sulut. Karena warga Sulut yang mayoritas Kristen akan sangat membutuhkan BBM dan Gas,” tegasnya.

Gosal juga mendesak aparat penegak hukum untuk menyelidiki kelangkaan BBM dan Gas tersebut. “Masakan BBM di SPBU kosong tapi dipinggiran jalan banyak. Begitupula dengan harga elpiji 3 kilogram yang sudah tembus Rp27 ribu per tabung. Ini jelas sudah ada indikasi permainan. Polisi harus segera turun tangan membongkar mafia BBM ini,” tandasnya.

Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Timotius Dwi Kristanto, saat coba dikonfirmasi  tadi malam, belum dapat dimintai keterangannya. Namun sebelumnya, Kristanto sempat menyatakan penghentian kuota BBM berlaku secara nasional. Pun demikian Ia mengklaim stok wilayah Sulut hingga Natal dan Tahun Baru nanti dalam posisi aman. “Sebab stok BBM Desember tidak mengacu pada kuota sejak November. Karena disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Sulut,” kelitnya.

“Kita sudah siapkan siapkan tambahan pasokan sekitar 27 ribu kiloliter premium untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru. Sedangkan Solar kalau sebelumnya didistribusi 200-260 KL perhari untuk, desember menjadi 260-300 KL,” sambungnya.

Ia pun berjanji untuk meningkatkan pengawasan di seluruh SPBU, agar tidak terjadi kelangkaan serta penyimpangan dalam penjualan. “Kalau terbukti, ada SPBU yang bermain, tentu akan langsung kita tindaki,” simpulnya.

Ditempat terpisah, Sales Area Elpiji Pertamina Manado, Isfahani mengklaim stok gas di Sulut masih aman.  “Saat ini stok LPG tersedia 420 metrik ton. Jadi sebenarnya tidak ada masalah,” tepisnya.

Isfahani malah menyalahkan pelaku usaha, hotel serta masyarakat kelas menengah keatas soal kelangkaan elpiji 3 kilogram tersebut. “Karena mereka (Pelaku usaha, hotel serta masyarakat kelas menengah keatas,red) juga ikut menggunakan elpiji 3 kilogram. Padahal gas bersubsidi itu hanya diperuntukkan bagi  masyarakat kurang mampu. Harusnya mereka gunakan elpiji 12 kilogram yang non subsidi,” ketusnya.

Disinggung soal harga gas 3 kilogram yang telah mencapai Rp27 ribu pe tabung, Isfahani berjanji untuk menelusurinya. “Ini pasti akan kita tindaklanjuti. Gas 3 kilogram harus dijual sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Kalau ada agen atau pangkalan yang terbukti menjual di atas HET, akan kita beri sanksi tegas,” tandasnya.

Pemprov Sulut, melalui Wakil Gubernur Sulut, Djouhari Kansil ketika dikonfirmasi menyatakan akan segera memanggil kembali Pertamina Manado, untuk meminta klarifikasi atas kelangkaan BBM dan Gas yang masih terjadi. “Mereka (Pertamina Manado,red) selalu bilang stok BBM dan Gas aman. Tapi kenyataan tak sesuai dengan realita di lapangan. Masyarakat masih terus mengeluh. Saya akan panggil lagi mereka,” tegasnya.

Ia pun berjanji akan mendorong Pertamina Manado untuk menyediakan stok BBM dan Gas yang memadai di Sulut jelang Natal. “Pertamina wajib memenuhi ketersediaan stok BBM dan Gas di Sulut  jelang Natal dan Tahun Baru ini. Sebab kebutuhan warga Sulut pasti akan meningkat tajam. Karena banyak warga yang akan merayakannya,” kuncinya.

Pusat Cium Indikasi Penyimpangan Distribusi BBM

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengeluhkan distribusi kuota BBM yang tidak tersalurkan dengan baik. Pasalnya, masih ada oknum yang membeli BBM dengan tidak terbatas, sementara yang membutuhkan hanya dapat botolan saja.

"Yang betul-betul perlu kita soroti itu bukan hanya harus sesuai dengan kuota tapi memang betul yang namanya penyalahgunaan itu banyak sekali di daerah," ujar Agus akhir pekan lalu. "Jadi saya ingin mengimbau kepada pemda dan semua jajaran untuk mari kita kendalikan penyaluran BBM bersubsidi ini dengan baik," ujar Agus.  

Senada diungkapkan  Menteri ESDM Jero Wacik . Ia mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu  Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter. Menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah  banyak yang tertangkap. "Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka," kata Jero siang tadi.

 Pertamina Pusat Klaim Stok  Aman

PT Pertamina (Persero) menyatakan kondisi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara nasional umumnya telah berjalan normal. Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, pasokan untuk SPBU berdasarkan informasi terakhir disebutkan masing-masing mencapai 103 persen dari pasokan normal untuk premium dan 104 persen untuk solar. Angka ini meningkat dari sebelumnya rata-rata 102 persen.

"Jika pembelian juga dilakukan secara normal, kami yakin BBM bersubsidi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Ali dalam laporan tertulisnya, di Jakarta.  Minggu (2/12). Pertamina pun menjamin pasokan aman hingga akhir tahun 2012.  "Tidak perlu membeli secara berlebih," tandasnya.

Sementara itu, jatah atau kuota BBM subsidi jenis premium dan solar bakal habis sebelum tutup tahun. Pun demikian Pemerintah  telah mengajukan tambahan  kuota BBM subsidi 1,2 juta kiloliter (KL) ke DPR. Sebab kuota bensin premium bakal habis 13 Desember, sementara solar habis 23 Desember. "Surat tambahan kuota sudah kita ajukan tadi pagi, pemerintah minta izin tambahan kuota BBM subsidi sebanyak 1,2 juta KL dengan anggaran sekitar 5 hingga 6 triliun,"  kunci Menteri ESDM Jero Wacik.(tim me/okz/mio)

 



Sponsors

Sponsors