Kampanye 'Loyo', Pendukung Merah-Kuning Mulai Pesimis
Tondano, ME
Putaran pertama kampanye terbuka Pemilukada Minahasa memicu kekecewaan di kalangan akar rumput Partai Golkar dan PDIP. Tampil ‘loyo’ di rapat umum, pendukung Golkar maupun PDIP kompak memberi penilaian miring terhadap pasangan calon yang diusung parpolnya sendiri. Mereka pesimis pasangan usungan parpolnya mampu menorehkan kemenangan, 12 Desember mendatang.
Baik pasangan Careig Naichel Runtu-Denny Jhonlie Tombeng (CNR-DJT), maupun pasangan Jantje Wowiling Sajow-Ivan Sarundajang (JWS-Ivansa) memang tak greget di babak pembuka kampanye terbuka. Keduanya memilih ‘ngumpet’ dengan menggelar pertemuan tertutup.
Pasangan usungan PDIP, JWS-Ivansa yang dijadwalkan menggelar kampanye terbuka, Jumat (30/11) kemarin memilih mengadakan pertemuan di kediaman Ketua Tim Relawan, Lendy Wangke, di Tondano. Setelah menggelar sosialisasi terhadap massa ‘seadanya’, kampanye JWS-Ivansa kemudian diakhiri dengan road-show. Sehari sebelumnya, CNR-DJT juga hanya menggelar pertemuan di Tonsea Lama, Kamis (29/11).
Penampilan ‘loyo’ kedua pasangan tersebut kontras dengan apa yang ditunjukkan pasangan nomor urut 2 (Dua), Hangky Arther Gerungan-Recky Janeman Montong (HAG-RJM). Kampanye pasangan ‘Koalisi Rakyat’ yang digelar Rabu (28/11), sukses ‘menggetarkan’ Tondano. Tak kurang 50 ribuan massa pendukung tumpah ruah di Lapangan Sam Ratulangi Tondano dimana kampanye digelar.
Kontradiksi penampilan pasangan CNR-DJT dan JWS-Ivansa dengan pasangan HAG-RJM dalam kampanye terbuka tersebut menimbulkan tanda-tanya besar di kalangan pendukung kuning-merah. “Kami kecewa dengan cara penggalangan kampanye seperti ini. Baru sekarang calon dari PDIP loyo seperti ini. Kalau begini, saya pesimis,” tutur John, salah satu pengurus ranting PDIP di Kecamatan Tompaso kepada Media Sulut, kemarin.
John pun menyangsikan kesiapan finansial pasangan JWS-Ivansa menyambut pentas utama Pemilukada. “Kalau kampanye saja tidak mampu dibiayai bagaimana akan bertarung di hari H? Ini melemahkan pendukung,” timpalnya.
Kubu JWS-Ivansa sendiri saat dimintai tanggapannya mengaku sengaja tak menggelar kampanye terbuka. Maikel Rumate, personil Media Centre JWS-Ivansa berkilah, pihaknya memilih memanfaatkan jadwal kampanye terbuka untuk konsolidasi di empat kecamatan di Tondano. “Kita pilih bertatap muka langsung dengan konsituen,” kata Rumate.
CNR-DJT MELEMAH?
Sementara itu, tanda-tanya besar juga menggelayut di kalangan pendukung pasangan CNR-DJT. Pasangan yang sebelumnya sempat sesumbar memenangi Pemilukada Minahasa hanya dalam satu putaran itu diisukan kian melemah.
Rumor yang beredar, pasangan usungan koalisi Golkar-Demokrat itu tak bisa menggalang dukungan massa lantaran terkendala masalah finansial. Kubu DJT disinyalir belum menggelontorkan dana kampanye sesuai yang disepakati. “Kalau tidak salah, dana operasional kampanye dari papan dua belum masuk. Jadi kampanye terbuka kemarin (Kamis, red) tidak jadi digelar,” bisik salah satu kader Golkar yang namanya enggan dikorankan.
Kebijakan CNR-DJT untuk tidak menggelar kampanye juga membuat banyak kader, simpatisan dan pendukung CNR-DJT kecewa. Pasalnya kampanya umum itu, hanya dilakukan 2 kali. “Aneh bin ajaib. Kenapa kampanye terbuka tidak dimanfaatkan secara optimal. Ini bisa saja membuat pendukung kita lari ke pasangan lain,” sesal salah satu kader PG asal Langowan.
Ia pun sempat menilik kebelakang pada Pemilukada 2007 lalu. Kala itu menurutnya, calon Bupati Minahasa Stefanus Vreeke Runtu (SVR) memobilisasi massa secara besar besaran dalam dua agenda kampanye terbuka. “Terbukti SVR menang. Pemilih yang masih mengambang, ikut terpengaruh melihat dukungan massa yang begitu besar. Tapi kalau seperti ini (tidak menggelar kampanye terbuka, red), akan sulit. Takutnya dana sosialisasi hanya masuk kantong tim sukses dan pengurus partai saja,” paparnya.
Tak hanya itu, Ia menduga telah terjadi gesekan antara tim sukses CNR dan DJT menyangkut biaya kampanye terbuka. “Mungkin ini soal masalah biaya lagi. Memang sulit lakukan penggalangan massa, kalau ada persoalan anggaran antar sesama calon. Ya, namanya kampanye tentu kost politiknya tinggi,” cerocosnya.
Kritikan senada datang dari pendukung CNR-DJT di Kawangkoan. “Tidak tau apa maunya tim sukses ini. Masakan ajang kampanye terbuka tidak dilakukan. Jujur kami sangat kecewa,” ketus sejumlah simpatisan Demokrat asal Kawangkoan. “Jangan jangan sudah minim ‘peluru’ (dana kampanye, red). Kami bisa adakan sendiri kok. Yang penting kampanye terbuka dilakukan. Supaya kita juga bisa tunjukkan juga kekuatan pada pasangan lain. Kalau begini, kita sudah dianggap kalah sebelum bertanding ,” sembur sejumlah warga yang mengaku pendukung militan DJT.
CNR sendiri ketika dikonfirmasi Media Sulut, membantah keras isu tersebut. “Tidak benar. Ini (tak lakukan kampanye,red) adalah bagian dari strategi,” tepis Ketua DPD II Golkar Minahasa itu.
Ia pun membantah bila kos politik dari DJT belum masuk. “Semua anggaran politik sudah ada. Anggaran telah siap. Kita nanti akan lakukan kampanye terbuka di putaran kedua nanti,” tandas putra mahkota SVR itu.
Senada diungkapkan Sekretaris DPD II Golkar Minahasa, Febry Suoth. Menurutnya, show force massa sudah tidak terlalu efektif dalam Pemilukada. “Kampanye terbuka tidak terlalu menyentuh masyarakat. Kami masih fokus pada kampanye terbatas. Itu masih lebih efektif,” tukas salah satu legislator Minahasa itu.
Disinggung soal munculnya kekecewaan dari kader dan simpatisan terkait tidak dilakukannya kampanye terbatas kemarin, Suoth mengaku tak percaya. “Tidak mungkin. Mereka sudah tahu, kita belum akan menggelar rapat umum terbuka di putaran pertama. Itu sudah disosialisasikan oleh tim sukses di setiap desa dan kelurahan. Kita hanya akan menggelar kampanye umum di putaran kedua nanti,” tandas Suoth seraya menyatakan rapat terbatas yang dilakukan CNR-DJT hanya terpusat di Dapil II atau Tondano Raya. (tim-me)



































