Desa Tertinggal Jadi Dosa Pemerintah
TUTUYAN, ME : Pembangunan di Boltim hingga kini bisa dibilang belum merata. Miliaran rupiah setiap tahunnya, yang dianggarkan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk pembangunan terkesan ‘masih’ terpusat di wilayah ibukota kabupaten dan kecamatan. Sedangkan didesa yang jaraknya jauh dari pusat pemerintahan, seakan ‘dilupakan’.
Kondisi ini tentu dirasa tidak adil bagi warga yang tinggal didesa-desa yang pembangunan desanya masih tertinggal. Berbagai alasan, seperti minimnya anggaran, seakan menjadi tameng pemerintah. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan pembangunan diibukota kabupaten, yang terus ‘menggila’, sedangkan didaerah pedesaan, perbaikan jalan saja masih hanya sebatas janji yang (belum) ditepati.
Desa tertinggal adalah dosa pemerintah. Mereka yang seharusnya sudah bisa merasakan ‘nikmatnya’ pembangunan, justru terkesan hanya dibiarkan ‘menikmati’ ketertinggalan infrastruktur didesa mereka. Hal inilah yang menyebabkan desa menjadi tertinggal.
Lihat saja, didesa Buyandi dan Kokapoy kecamatan Modayag, desa Jiko Blanga, Jiko Utara kecamatan Nuangan, serta desa Bukaka kecamatan Kotabunan. Betapa luar biasanya sumber daya alam yang ada didesa-desa itu. Akan tetapi, didesa-desa tersebut namun masih tetap saja tertinggal dalam sisi pembangunan infrastruktur, jika dibandingkan dengan desa-desa lain.
Memang beberapa desa seperti Idumun, Loyow dan Iyok kecamatan Nuangan sementara berlangsung proyek pembangunan jalan maupun jembatan. Namun, yang perlu diingat juga, tak hanya infrastruktur jalan, tapi masih banyak lagi yang harus dibenahi didesa-desa tersebut.
"Rasa iri terkadang muncul melihat pesatnya pembangunan didesa lain, terutama yang ada diwilayah ibukota kabupaten. Sudah bertahun-tahun kami menderita seperti ini. Akses jalan masih rusak parah dan air bersih sulit didapat," kata Mul Mamonto, warga desa Buyandi. (Rahman)
Foto : Ilustrasi



































