Pria Tua Ini 30 Tahun Dagang Mie Ayam di Kantor Samsat Tondano
WARGA yang sering mengunjungi kantor UPTD Samsat Tondano pasti tak asing lagi dengan sosok pria tua yang berdagang mie di samping kantor tersebut. Saat ini usianya sudah menginjak 59 tahun. Memang tak lagi terbilang muda. Namun semangat dan kegigihannya untuk dapat bertahan hidup bisa di bilang mampu untuk mengalahkan semangat anak-anak muda.
Karmo, begitu sapaan akrab pria tua asal Solo ini. Hidup diperantauan sejak usia muda menjadikannya sosok yang tangguh untuk dapat bertahan hidup. Mencoba mengadu nasib diperantauan, tahun 1973 untuk pertama kalinya Karmo menginjakkan kakinya di Kota Manado.
“Saat itu masih bujangan. Karena tak ada pekerjaan, awalnya saya hanya kerja sebagai tukang es cukur. Itupun usaha milik orang. Waktu itu saya hanya di gaji untuk membantu pekerjaan pemilik dagangan es cukur itu,” kenang anak bungsu dari 8 bersaudara ini.
Cukup lama pekerjaan ini di gelutinya hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Tepatnya tahun 1984, Karmo mulai mencoba untuk berdagang mie. Saat itulah ia memulai membuka usahanya dan berjualan mie di samping kantor UPTD Samsat Tondano hingga saat ini.
“Karena awalnya penghasilan dari jualan mie belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terpaksa waktu itu saya cari kerja sampingan dengan berbisnis motor bekas. Namun saat bisnisnya menurun, saya fokus lagi berdagang mie. Saya membuka usaha mie di sini sudah 30 tahun lamanya,” ungkap pria kelahiran Solo tahun 1955 itu.
Hanya dengan bermodalkan sebuah gerobak dorong, sehari-hari ia dengan penuh semangat menjajakan dagangan mie ayam dan mie goreng di samping kantor UPTD Samsat Tondano. Karena ketabahannya, usaha yang ia geluti pun semakin lama semakin berkembang.
Kini Karmo mempunyai seorang isteri dan lima orang anak. Dengan modal hasil usahanya itu, Karmo pun berhasil menghidupi keluarganya dan menyekolahkan kelima anaknya. Memang tidak sedikit rintangan yang dihadapi untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Namun semua itu di laluinya dengan sabar.
“Dengan modal menyisihkan sedikit-sedikit hasil usaha saya, minimal semua anak saya bisa saya sekolahkan dan tamat SMA. Semuanya kini pun sudah berkeluarga. Namun anak saya yang satu sudah meninggal karena sakit,” tuturnya.
Diakuinya, saat ini keuntungan yang di dapat lewat jualan mie memang tak lagi besar. Sehari-hari Karmo hanya meraup untung sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per hari. Namun begitu dia mengaku bahagia karena bisa menikmati masa tuanya bersama keluarga dan anak-cucunya.
Ketabahan dan kegigihannya menjalani usaha serta sosok pejuang untuk menghidupi keluarganya memang melekat erat dalam dirinya. Itulah yang membuat Karmo pantas menjadi sosok seseorang yang memang patut untuk diteladani. (Jeksen Kewas)



































