Ratusan KK Desa Poigar Dua Terancam Kehilangan Tempat Tinggal

Pengikisan Sungai Tinani


AMURANG, ME : Sedikitnya 100 Kepala Keluarga (KK) warga Desa Poigar Dua Kecamatan Sinonsayang terancam kehilangan tempat tinggal. Hal ini disebabkan, rumah yang mereka tinggali sering dimasuki air, sehingga membuat mereka tidak tenang, karena sewaktu-waktu bisa mengancam tempat tinggal mereka.

 

"Setiap kali hujan deras, dan air laut pasang rumah kami langsung terendam air," keluh Nikson Lahea, warga Desa Poigar Dua Kecamatan Sinonsayang.

 

Ia menuturkan, sudah tak terhitung berapa kali rumahnya, yang terletak di muara sungai, terendam air sungai yang meluap, serta air laut pasang, dan terancam abrasi. "Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya tanggul pengaman di bantaran sungai Tinani. Dulu pernah dibuat tanggul, tapi itu hanya untuk penahan ombak saja," tuturnya.

 

Ia menyatakan, hal ini sudah terjadi sejak tahun 2000 lalu, sehingga membutuhkan perhatian dari pemerintah atas apa yang mereka hadapi. Sebab hingga kini belum ada perhatian yang ditunjukan pemerintah terhadap nasib mereka.

 

"Pengikisan sungai ini sangat mengancam tempat tinggal kami. Untuk itu saya mewakili warga yang lain, sangat berharap agar pemerintah melihat apa yang menjadi keluh kesah kami.," kata Nikson, yang juga merupakan perangkat desa Poigar Dua.

 

Terpisah, Hukum Tua Desa Poigar Dua, Nelwan Nayoan membenarkan, bahwa di desanya ada sekitar 100 KK yang rumahnya sering terendam air. "Hal ini sudah berapa kali disampaikan saat Musrembang dan reses. Kami sudah usulkan untuk dibuat tanggul pengaman di bantaran sungai dan pemecah ombak," bebernya.

 

Menurut dia, pengusulun pembuatan tanggul dan pemencah ombak sudah dua kali diusulkan, berupa permohonan proposal ke pemerintah, tapi belum ada tanggapan. "Sudah dua kali saya masukan proposal ke Balai Sungai Provinsi. Namun, sampai saat ini belum ditindaklanjuti," jelas dia.

 

Selanjutnya ia mengatakan, untuk wilayahnya ada sekitar 1 KM yang harus dibuat tanggul dan pemecah ombak dengan anggaran berkisar Rp 2 miliar. "Saya juga mengerti dengan pemerintah. Mungkin masih ada skala prioritas yang mereka lihat, tapi kami masyarakat, sangat mengharapkan bantuan tersebut," tandas Nayoan. (Jerry Sumarauw)



Sponsors

Sponsors