Pemprov Lapor Masalah Danau Tondano ke Menteri LH

Pendangkalan Kian Mengkhawatirkan


Manado, ME

Level kedalaman Danau Tondano yang terus menyusut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Pendangkalan danau yang menjadi penyanggah multisektor biotik di Sulawesi Utara itu kini sudah dalam taraf yang mengkuatirkan. Pemprov pun mengambil langkah inisiatif dengan melaporkan persoalan tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Penataan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sulut, Siswanto Karinda kepada manadoexpress.com, baru-baru ini.  “Kementerian LH juga sangat prihatin dengan keadaan Danau Tondano. Pak Menteri (Lingkungan Hidup) Beerth Kambuaya malahan akan langsung turun melakukan peninjauan,” kata Karinda.

"Sebelumnya kita memang sudan menyampaikan laporan ke Kementerian Lingkungan Hidup akan kondisi Danau Tondano. Rencananya, 20 November ini Pak Menteri akan datang berkunjung ke untuk melihat langsung," timpalnya.

Menurut Karinda, ekosistem Danau Tondano saat ini juga sudahmengalami kerusakan yang cukup parah. Kendati menurut dia, hal itu tak tampak secara kasat mata. “Ada pencemaran ekosistem akibat limbah rumah tangga. Cukup parah. Tapi memang tidak terlihat,” kata Karinda.

Pun demikian, menurut Karinda persoalan sebenarnya yang sangat mendesak dicari solusinya adalah masalah pendangkalan dan eceng gondok. “Beberapa tahun lalu, kedalaman di tepian danau bisa sampai tiga meteran. Tapi sekarang, bahkan ada yang sudah tak sampai semeter. Belum lagi pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat. Itu juga berpengaruh besar terhadap pendangkalan," ujar Karinda lagi.

Menurut Karinda, untuk mengatasi permasalahan eceng gondok tersebut tidak mudah. Perlu keterlibatan aktif dari elemen masyarakat, khususnya di pesisir danau. "Pemerintah Kabupaten Minahasa dalam hal ini perangkat-perangkat desa di pesisir danau itu harus proaktif memotivasi masyarakat. Menumbuhkan kesadaran. Pembasmian mekanis bisa efektif asalkan dilakukan bersama oleh seluruh masyarakat secara rutin dan berkesinambungan," tuntas Siswanto.

Diinformasikan, berdasarkan catatan yang ada, pada 1923 kedalaman Danau Tondano rata-rata 40 meter. Namun, pada 2011 kedalaman rata-ratanya tinggal 12 meter. Ketika Zen dan Alzer mengukur kedalaman Danau Tondano pada 1934 didapati angka 40 meter. Tetapi, ketika pengukuran dilakukan kembali pada 1974, kedalamannya tinggal 28 meter.

Lalu, pada 1992, saat Pusat Penelitian dan Pengembangan Air melakukan pengukuran, kedalaman rata-rata Danau Tondano tinggal 23 meter. Pertumbuhan tak terkendali eceng gondok (Eichornia crassipes solms) membuat hampir seluruh daerah pinggiran Danau Tondano tertutupi.

Diperkirakan lebih dari 200 hektar dari 4.278 hektar luas Danau Tondano kini telah tertutupi eceng gondok. Dengan laju pertumbuhan 3 persen per hari, Danau Tondano benar-benar terancam kelestariannya.

Sejak 2009 pada Konferensi Nasional Danau di Bali, Danau Tondano memang sudah dimasukkan ke dalam daftar 15 danau kritis di Indonesia. Berbagai upaya untuk mengangkat eceng gondok dari permukaan air Danau Tondano pun sudah dilakukan, baik oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. (sonny dinar)

 


Foto: Danau Tondano terus mengalami pendangkalan. (ist)



Sponsors

Sponsors