Kekerasan di Ruang Sakral


Oleh : Denni Pinontoan 

Ruang-ruang sakral, macam agama, misalnya gereja atau mesjid, oleh banyak orang dianggap bersih dari kekerasan. Sebab, diyakini di agama perdamaian dan keadilan dijaga dan dilestarikan. Agama, diterima tanpa syarat keberadaannya karena kenyamanan yang ditawarkannya. Namun, sering tidak disadari, oleh karena penerimaan tanpa syarat itu, dogma atau wacana teologis membawa kekerasan.

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa yang disebut kekerasan itu bukan cuma soal fisik, misalnya pemukulan, penikaman, penamparan, dan lain-lain. Namun juga soal yang verbal, misalnya memaki, menfitnah, merusak citra orang lain dengan rumor dan stigma-stigma negatif yang dikenakan pada seseorang atau sekelompok orang.

Makanya, di ruang sakral, agama, kekerasan bisa terjadi. Khotbah yang mengecam, misalnya menggeneralisir, semua umatnya berdosa, padahal mungkin saja ada umatnya yang sudah berusaha tidak melakukan dosa dalam hidupnya, maka itu juga kekerasan. Mengidonktrinasi umat agar memusuhi umat lain, juga kekerasan. Menjadikan institusi agama sebagai tameng untuk kepentingan sendiri yang kemudian membuat orang lain hidupnya sengsara, itu juga termasuk kekerasan.

Sudah barang tentu, karena ia ada dalam ruang sakral, maka Tuhan, kesucian dan iman sering dipakai sebagai alat legitimasi. Itulah sebabnya, sehingga kekerasan verbal dalam bentuk doktrin atau wacana, sering tidak terasa atau bahkan dianggap bukan sebagai kekerasan.

Agama, meski ia diyakini sebagai yang sakral, namun bagaimanapun ia hadir di ruang sekuler. Agama berdiri bersama-sama politik, ekonomi, budaya dan bahkan gaya hidup masyarakat. Agama bersinggungan erat deng konteksnya. Seorang umat beragama, sehari-hari ia bersinggungan dengan politik, ekonomi, budaya dan juga lingkungan sosialnya. Demikian juga dengan institusi agama. Karenanya, ajaran agama tidak banyak yang turun dari langit. Kebanyakan (di)lahir(kan) dari refleksi atas konteks.

Karena agama lebih banyak berasal dari konteksnya, maka ia selalu berhadapan dengan usaha untuk memantapkan diri atas yang lain. Sebagai yang mengklaim pembawa mandat dari surga, agama-agama kemudian berusaha saling mengalahkan. "Agama A, lebih baik dan suci dari agama B, C, D, dst."

Kekerasan dengan dalih kesucian, kemurniaan, iman bahkan demi nama Tuhan, sering tidak terasa, terkecuali perang atas nama Tuhan. Paksaan doktrin yang membuat orang lain dan komunitas hidup dalam ketidakbebesan sering diterima sebagai sebuah kewajaran karena dianggap bagian dari hidup keagamaan.

Agama sebagai institusilah yang sebenarnya lebih banyak melegalkan kekerasan dalam ruang sakral itu. Sebagai institusi agama menjadi hirarkis, dogmatis-politis dan hegemonik. Hari-hari ini di institusi agama terdekat kita, macam gereja, kita menyaksikan kesibukan luar biasa dari para klerusnya yang kemudian diikuti umatnya, mengurus hanya hal-hal yang berkenaan dengan institusi, kekuasaan dan popularitasnya. Baliho-baliho yang juga memamerkan wajah seksi para elitnyan menghiasi kantor-kantor institusi gereja atau media. Dalam sekali ibadah di gedung gereja kita juga menyaksikan pegelaran urusan-urusan institusi gereja. Esensi dari bergereja menjadi semakin berkurang.

Tak heran jika semakin banyak warga gereja atau umat agama-agama mencari ruang-ruang lain, yang dirasa lebih nyaman karena memberi porsi lebih banyak pada kepuasaan rohani atau bathiniah. Inilah momentum tepat kelompok-kelompok gerekan keagamaan yang fundamentalis dan konnservatif untuk memenangkan "pasar" agama. Komoditinya, mungkin tetap sama dengan agama-agama mainstream, yaitu surga, neraka dan keselamatan yang kekal di seberang sana, namun perjualannya dikemas lebih menarik dan seksi.

Agaknya, dengan kecenderungan-kecenderungan di atas, agama-agama semakin menjauh dari esensinya yang sebenarnya. Kekerasan yang dilakukan oleh agama-agama sebagai institusi atau dalam penghayatan yang politis-dogmatis, tentu tak harus membunuh keberadaan agama-agama. Namun, ini adalah sebuah kenyataan yang harus diterima sebagai tantangan untuk bagaimana “memberadakan” lagi agama-agama sesuai dengan esensinya.

 



Sponsors

Sponsors