Tarkam Meletup di Kotamobagu, Satu Tewas

Polisi Ikut Jadi Korban


Kotamobagu, ME
Kotamobagu kini mencekam. Ini menyusul pecahnya tawuran antar kampung Desa Poyowa Kecil dan Kelurahan Mongondow Minggu (11/11) petang. Akibat peristiwa itu, remaja tanggung asal Poyowa Kecil, Chandra Suot (16) tewas.
Siswa SMKN 1 Kotamobagu itu meregang nyawa akibat luka menganga di bagian dada. Chandra terkena hujaman tombak saat pertikaian antar kampung itu pecah.
Brigadir Erik, seorang anggota Polres Bolmong yang melakukan pengamanan tawuran yang kabarnya melibatkan hingga ratusan orang itupun turut jadi korban. Anggota polisi yang hingga kini belum diketahui identitasnya itu buta lantaran terkena lemparan batu di bagian mata. Saat ini, korban tengah dirawat intensif di IGD RSUP Kandou Malalayang. “Ya, korban dirujuk ke RS Prof Kandou Manado. Analisa awal, retina matanya pecah,” kata Kapolsek Urban Kotamobagu, Kompol Gunawan SIK saat dikonfirmasi wartawan di tempat kejadian tawuran Senin dinihari.
Kapolres Bolmong AKBP Enggar Brotoseno sendiri langsung meninjau lokasi tawuran Senin dinihari. Ia didampingi Wakapolres, Kompol Rustanto SIK. Dandim 1303 Bolmong Letkol Inf Mujiharto juga ikut meninjau lokasi, tepat di perbatasan kedua kampung yang bertikai.
Informasi yang berhasil dirangkum dari TKP pada Senin dinihari, kerusahan itu ditengarai bermotif balas dendam. Hal ini dipicu oleh perlakuan warga Kelurahan Mongondow terhadap salah satu warga Desa Poyowa Kecil. Tiga hari sebelum kerusahan pecah, salah seorang remaja Poyawa Kecil dicegat oleh sekelompok pemuda Kelurahan Mongondow saat hendak membeli bakso. Ia lantas ditikam dengan sebuah garpu di bagian tangan.
Tak hanya itu, pertikaian besar itu sendiri juga dipicu oleh aksi sejumlah pemuda asal Kelurahan Mongondow yang membuat keonaran dengan mengendarai motor memasuki wilayah Poyowa Kecil sambil berteriak-teriak pada Minggu petang, jelang malam. Saat itu, sejumlah warga mengejar para pemuda tersebut. Saat tiba di perbatasan kedua kampung, pertikaian pun pecah.
Kapolres Bolmong AKBP Enggar Brotoseno saat dikonfirmasi Senin kemarin mengakui, situasi pada saat terjadinya tawuran yang kedua kampung Minggu sangat genting.
Untuk itu menurut Enggar, aparat terpaksa melakukan tindakan Represif untuk membubarkan aksi anarkis tersebut. Apalagi saat itu, ada anggota polisi yang juga ikut jadi korban.  “Dia (anggota polisi yang jadi korban, red) bisa kehilangan penglihatannya. Karena situasi yang mulai gawat, petugas ambil tindakan represif,” kata Enggar.
Brigadir Erik yang bertugas di unit Buser Polres Bolmong jadi korban saat hendak menolong temannya Awaludin Paputungan, yang saat itu jatuh terkapar usai dihantam lemparan batu di bagian dada. Saat hendak menolong rekannya, Brigadir Erik justru diberondong hujaman batu yang mengenai mata sebelah kanan hingga pendarahan.
Melihat kondisi personil kepolisian yang sudah jatuh korban itu, aparat kepolisian yang lainnya pun langsung menembakan peluru karet dan Flash Ball (gas Airmata) ke arah sekumpulan warga Poyowa Kecil yang saat itu berjumlah kurang lebih 500 orang, sehingga mengakibatkan jatuhnya 3 korban warga Poyowa Kecil, yang terkena tembakan peluru karet. Aparat selanjutnya berhasil memukul mundur para perusuh.
Hingga Senin kemarin, kendati suasana berangsur kondusif, Polres Bolmong membangun posko pengamanan di perbatasan kedua kampung. Informasinya, tokoh masyarakat kedua kampung sudah mengadakan pertemuan difasilitasi kepolisian dan pemerintah kecamatan. “Warga kedua kampung kami minta menahan diri, ini demi mencegah jangan sampai terjadi bentrok susulan,” kata Kapolsek Urban Kotamobagu, Kompol Gunawan SIK. (tr-5/tr-6)

Foto: Chandra Suoth, korban tewas pertikaian antar kampung di Kotamobagu. (ist)



Sponsors

Sponsors