Meraup Rejeki di Tumpukan Sampah TPA Sumompo


Manado, ME - Sebagian orang mungkin merasa jijik saat berada di tengah gunungan sampah. Namun hal itu tidak dirasakan ratusan jiwa yang menggantungkan hidup mereka dari sampah.

 

Seperti pengakuan Rostin Kapla, seorang warga yang tinggal di tengah tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Sumompo, Manado. Menurut Rostin justru dari sampah-sampah itulah mereka bisa menghidupi keluarganya.

 

"Setiap hari kami mengumpulkan apa saja yang diangkut oleh mobil sampah dan dibuang di sini. Barang-barang itu kami pilah dari segala macam jenis sampah yang dibuang, lalu kami jual kembali," ujar Rostin kepada, Selasa (8/10/2013).

 

Menurut Rostin, hampir semua jenis sampah bisa laku dijual kembali. Untuk plastik bekas laku dijual Rp 1.000 per kilogram, dan jika sudah dibersihkan dibeli pengumpul Rp 1.500 per kilogram.

 

"Sehari saya bisa mengumpulkan dua karung plastik dari botol bekas yang dibuang di sini. Sekarang biasanya seberat 10 sampai 15 kilogram," jelas Rostin.

 

Rostin yang juga memboyong keluarganya dari Gorontalo itu mengaku melakoni pekerjaan pemulung sudah sejak 2003 lalu. Bahkan menurutnya beberapa keluarganya ada yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari sampah yang ada di TPA Sumompo.

 

Rostin, yang hanya tinggal di sebuah gubuk yang seadanya di tengah tumpukan sampah itu, membawa tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Bahkan salah satu anaknya masih berumur setahun.

 

"Ya mereka tinggal di sini bersama kami. Mau apalagi, ini sudah pekerjaan kami. Sebelumnya kami mau berjualan di Pasar Bersehati, tetapi sering diusir orang. Kalau di sini tidak ada yang mengusir. Jadi daripada berurusan dengan orang lain, lebih baik kami bekerja di sini saja," papar Rostin.

 

Beberapa warga yang juga mengakui bahwa memulung sudah menjadi pilihan hidup. Walau mereka harus seharian hidup di tengah bau sampah yang menyengat, dengan sampah itulah mereka bisa menopang keluarga lainnya.

 

"Kami di sini bekerja kumpul sampah, hasilnya untuk hidup sehari-hari, dan lainnya kami kirim ke keluarga yang ada di Gorontalo," ujar Hadidjah yang juga memilih tinggal di tengah sampah TPA Sumompo.

 

Hidup di tengah sampah membawa resiko yang tinggi terserang berbagai penyakit. Tak jarang para pemulung ini mengeluh kurangnya pelayanan kesehatan di lokasi tempat mereka bekerja.

 

"Hanya ada seminggu sekali ada petugas kesehatan yang datang mengunjungi kami. Itupun kami dikumpul di hanggar, lalu diperiksa bersama. Untuk anak-anak, kami membawanya ke Puskesmas seminggu sekali untuk ikut PIN," kata Hadidjah.

 

TPA Sumompo merupakan tempat pembuangan sampah akhir bagi warga Kota Manado dan sekitarnya. Sekitar 2.500 ton sampah dibuang di TPA ini setiap hari.(kompas.com)

 

Foto : Salah satu keluarga yang ada di TPA Sumompo.(kompas.com)

 

Editor : Chres



Sponsors

Sponsors