Foto: Istimewa/Gazali Ligawa
Media Gathering KPU Boltim, Profesionalitas Pers dan Stabilitas Demokrasi
Kotabunan, MX
Siang itu pada Kamis 15 Agustus 2024, saya memasuki Teras Bambu, sebuah kafe kecil di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Tempat biasanya orang-orang menikmati secangir kopi dan obrolan ringan. Namun, kali ini suasana kafe tersebut berbeda. Di sudut ruangan telah berkumpul para jurnalis dan beberapa tokoh penting dalam sebuah acara media gathering yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boltim.
Tema pertemuan ini adalah “Profesionalitas Pers dan Stabilitas Demokrasi”, sebuah topik yang sangat menarik di masa-masa Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang.
Sambil menunggu acara dimulai, saya berbincang bersama beberapa teman seprofesi, yaitu Hendri, Iki, Aswin dan Adit. Kami pun sempat bersenda gurau. Kemudian saya melanjutkan percakapan dengan teman-teman komunitas saya, yaitu Komunitas Momais. Mat, Dhat, Dio dan Juma. Tampak para jurnalis yang lain sibuk bercakap-cakap juga.
Tak lama kemudian, acara pun dimulai. Saya memilih duduk di depan. Acara tersebut dibuka oleh Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipas Masyarakat dan Sumber Daya Manusia (SDM), Ikal Salehe. Di atas panggung, ia menekankan bahwa betapa pentingnya profesionalitas pers dalam menjaga stabilitas demokrasi.

“Nah ini yang harus kita jaga bersama. Kita masyarakat Boltim wajib menjaga stabilitas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang ada di Sulawesi Utara (Sulut). Baik gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati,” tegasnya.
Dengan narasi-narasi profesional dari jurnalis kata Ikal, bisa berimbas kepada pendidikan politik yang menuju masyarakat yang cerdas dalam memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Ini yang kita harapkan bersama, karena ini tanggung jawab kita bersama. Menjaga kedamaian di Bolaang Mongondow Timur,” ucapnya.
Saya mencatat setiap kata, menyadari bahwa apa yang diucapkannya benar adanya. Sebagai seorang jurnalis, saya tahu tugas kami lebih dari sekedar melaporkan berita. Kami adalah mata dan telinga publik, pengawas yang harus selalu setia pada kebenaran, meski kadang godaan atau tekanan datang menghampiri.
Sesi berikutnya diisi oleh Ketua Divisi Sosdiklih, Parmas dan SDM KPU Provinsi Sulut, Awaluddin Umbola. Ia menguraikan bagaimana media yang bebas dan bertanggung jawab mampu menekan gejolak sosial, terutama di masa Pemilu.
“Pertemuan ini menjadi sangat penting bagi kami KPU untuk memastikan stabilitas informasi yang diterima oleh masyarakat, bisa di filter dari teman-teman selaku media. Maka dalam momentum ini saya mengajak teman-teman, mari kita menjaga sama-sama situasi ini walapupun di situasi media sosial yang kita tidak bisa kontrol karena masing-masing orang sudah punya kewenangan untuk mengetik apa yang ada di isi kepalanya dan kemudian dibagikan di media sosial,” ujarnya.
Acara media gathering ini kata Umbola, sangat tepat digelar oleh KPU Boltim. Karena dengan perjumpaan tersebut mereka bisa menyamakan persepsi.
.jpeg)
“Menyamakan hal yang kemudian bisa kita dorong ke masyarakat untuk menjadi konsumsi positif masyarakat menjelang pendaftaran calon. Bagi kami KPU, tahapan pendaftaran calon ini ini adalah tahapan yang sangat penting dalam Pilkada,” kata Umbola.
Ia berharap, berita-berita yang akan disajikan betul-betul berita yang nantinya akan mengklarifikasi, memberikan informasi terupdate, teraktual, tidak hoaks dan tidak memprovokasi masyarakat secara luas di Timur Totabuan.
“Kami butuh teman-teman media memastikan tidak hanya soal publik secara keseluruhan, tersampaikan informasi-informasi yang valid terkait dengan tugas kami dalam fase pendaftaran ini. Nah kami berharap, kalau ada situasi di masyarakat yang butuh kami hadir untuk menjelaskan, sampaikan ke teman-teman KPU Bolaang Mongondow Timur,” ucapnya.
Saya pun melihat sekitar. Di tengah para jurnalis, saya bisa merasakan aura semangat untuk berkontribusi dalam menjaga demokrasi yang sehat. Setiap dari kami membawa peran yang sama pentingnya meski berbeda media. Tujuan kami satu, yaitu menciptakan iklim informasi yang sehat dan berimbang.
Juru bicara selanjutnya yaitu Muhamad Sachrul Setiawan, pemerhati politik yang juga sebagai narasumber pada acara tersebut. Ia menegaskan pers harus punya prinsip yang tidak mudah digoyahkan.
“Jurnalis itu ditakuti bukan karena kedekatan dengan pimpinan siapa, tapi karena memang tulisannya,” katanya dengan memandang kami satu persatu, sembari menjelaskan bahwa pers merupakan pilar penting dalam sebuah negara demokrasi.
Mantan Ketua KPU Manado ini menyebutkan, kalau berbicara soal demokrasi bukan soal tentang Pilkada atau memilih legislatif, tetapi intinya demokrasi adalah terkait kesejahteraan rakyat.

“Teman-teman punya ruang untuk membangun opini publik kepada masyarakat, karena seandainya tidak diarahkan ke hal-hal positif itu bahaya. Makanya butuh profesional teman-teman pers hal-hal seperti ini,” jelasnya.
Kata-kata ini langsung menggema dalam pikiran saya. Sebagai seorang jurnalis saya diingatkan bahwa profesionalitas adalah inti dari segala yang kami lakukan. Di balik setiap berita, ada tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan masyarakat.
“Terkait dengan Pilkada hari ini, saya berharap teman-teman KPU, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan pers bisa bergandengan tangan,” tandasnya.
Di dunia jurnalisme, ada begitu banyak tantangan yang siap menguji integritas kita. Tapi hari itu, saya merasa lebih mantap. Menjaga sorotan publik pada jalur yang benar adalah tugas kami, dan profesionalitas adalah perisai terkuat yang kami miliki.
Ketika acara berakhir, saya meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan penuh tanggung jawab. Saya tahu bahwa di balik setiap berita yang saya tulis, ada peran besar dalam menjaga stabilitas demokrasi. Media bukan hanya tentang kecepatan atau sensasi, ini tentang menjaga masyarakat tetap mendapatkan kebenaran. (Gazali Ligawa)



































