Jiwa Petarung Meletup, Bupati Sachrul Kobarkan Semangat Nasionalisme


Tutuyan, MX

Semangat nasionalisme Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sam Sachrul Mamonto, berkobar. Jiwa petarung meletup saat pucuk pimpinan Timur Totabuan ini memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-77, di halaman Kantor Bupati Boltim, Kamis (10/10).

Pada momentum ini, Bupati Sachrul mengatakan, hari itu adalah Hari Pahlawan, di mana mereka harus melakukan upacara untuk menghargai dan mengormati yang telah gugur di medan laga. Mempertaruhkan nyawa, serta mempertaruhkan harta mereka untuk kemerdekaan negara tercinta ini.

“Pekerjaan pahlawan telah usai tapi dia meninggalkan PR besar bagi kita. Berjuang untuk kemerdekaan, kesehatan, kemerdekaan sosial, kemerdekaan pendidikan kita. Itu yang terus kita lanjutkan sampai saat ini. Daring hero sebenarnya saat ini adalah mereka yang benar-benar mengabdikan diri kepada nusa bangsa, termasuk kepada daerah ini,” ujar Mamonto saat memimpin upacara bendera yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boltim.

Disebutkan Bupati Mamonto, saat ini mereka harus menghargai diri sendiri karena mereka adalah pahlawan di dalam keluarga.

“Pahlawan yang harus kita hargai saat ini, dia adalah diri kita sendiri. Bapak dan ibu saat ini adalah pahlawan di dalam keluarga, karena ingin memerdekakan keluarga dari penjajahan ekonomi, pendidikan, kebodohan dan kemiskinan. Itu yang harus kita lawan,” ucapnya.

“Sang Petarung” menuturkan, salah satu upaya menghargai pahlawan adalah mengingat para pengkhianat, karena dengan itu mereka akan sangat menghargai pahlawan.

“Para pengkhianat itu tidak mau Indonesia merdeka, jangan sampai itu terjadi saat ini. Mereka memecah belah kita, tidak mau agar Indonesia maju bahkan daerah berkembang. Mereka memecah belah persatuan kita, karena kepentingan-kepentingan pribadi, ambisi. Itulah yang disebut penghianat bangsa saat ini, yang harus kita lawan agar tidak menjadi duri dalam daging bangsa Indonesia ataupun daerah dan tanah kita tercinta,” tegas Sachrul.

Bupati Mamonto memberitahu, peringatan tersebut bukan hanya menghormati jasa para pahlawan, tetapi mereka harus menjaga nilai-nilai yang telah diturunkan. Di antaranya, kebesaran jiwa, semangat yang kuat, tekad yang kuat dan bekerja tanpa pamrih.

“Tadi saya mendengarkan pesan-pesan para pahlawan. Mulai dari Mohammad Yami, bahwa cita-cita perjuangan memerdekakan bangsa ini tidak hanya tumbuh begitu saja, tapi direbut dengan susah payah. Begitu juga perjuangan untuk merebut sebuah jabatan bukan mudah, maka setelah kita dapatkan jabatan itu harus kita berikan yang terbaik kepada bangsa dan negara ini,” terangnya.

Setelah mendegarkan pidato, pesan-pesan tambahan disampaikan, mengutip Ki Hadjar Dewantara. Di depan memberikan teladan dan di tengah memberikan semangat, maka dari itu jangan memecah belah atau menghancurkan karena banyak pesan singkat pahlawan yang bisa diimplementasikan dalam keseharian mereka.

“Kita semua adalah pahlawan saat ini, yang meneruskan cita-cita dan perjuangan pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raga, harta dan pikiran-pikiran mereka untuk kemenangan bangsa Indonesia,” jelas Sachrul.

Diungkapkan bupati, setiap kali mengheningkan cipta, dirinya sering meneteskan air mata karena lubuk hatinya yang paling dalam ada sesuatu yang terucap. Bahwa mereka telah lahir bukan lagi saat Indonesia dijajah, tetapi mereka tinggal melanjutkan.

“Bayangkan kalau kita lahir di zaman Indonesia masih merebut kemerdekaan. Mungkin kita tinggal pusara, tinggal debu yang ada di makam pahlawan,” ucapnya.

Bupati menjelaskan, pidato singkat tersebut adalah penyemangat dan motivasi kepada mereka semua karena harus memberikan pengabdian terbaik. Baik bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), Kepala Desa (Kades), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan seluruh masyarakat Boltim yang merupakan negeri yang sangat mereka cintai, negeri yang telah memberikan setetes harapan untuk kemakmuran dan negeri yang telah memberikan sumber kehidupan bagi anak cucu mereka.

“Mari bangun negeri Bolaang Mongondow Timur dengan tekad, semangat serta ketulusan. Bukan berdasarkan sesuatu yang akhirnya bisa menghancurkan semangat kita,” tandasnya. (Gazali Ligawa)



Sponsors

Sponsors