Mamonto Kuak Rindu Gapai Kekayaan Surga di Timur Totabuan
Tutuyan, MX
Dorongan Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sam Sachrul Mamonto kepada publik untuk merawat budaya di negeri para bogani Timur Totabuan terus menghilir. Beragam keelokan dan potensi sekeping surga Boltim pun akan di topang.
Intensitas itu dilontarkan pimpinan badan eksekutif Boltim ini pada malam puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Boltim ke-14, di Lapangan Gogaluman Tutuyan, Kamis (21/7).
“Saya sebagai bupati ingin menggali semua potensi yang ada di Bolaang Mongondow Timur. Potensi budayanya, potensi wisatanya dan potensi ekonomi lain yang akan timbul dari sepotong surga yang diberikan Allah Subhanahu Wataala,” kata Mamonto.
“Sang Petarung” mengungkapkan, Bolaang Mongondow Timur adalah sepenggal surga yang dilemparkan di muka bumi, maka dari itu mereka haru mencintai serta mampu merawat tanah kelahirannya tersebut.
“Allah memberikan tanah yang subur, tanah yang indah dan tanah yang begitu makmur. Maka tugas kita adalah menjaganya, tugas kita adalah mensyukurinya, mensyukuri nikmat Allah ketika Dia memberikan sesuatu yang baik bagi kita,” ajak bupati.
Bupati pun memastikan, festival budaya ini akan digelar setiap tahun namun tidak perlu mendatangkan artis dari Ibu Kota karena menurutnya karya-karya anak daerah juga sangat hebat dan berprestasi.
“Agenda seperti ini akan saya lakukan setiap tahun. Perlu menghadirkan artis dari Jakarta itu perlu tapi menghargai karya anak Bolaang Mongondow Timur itu jauh lebih hebat. Ini adalah karya anak-anak muda kita, anak-anak Bolaang Mongondow Timur dari Modayag, Tutuyan, Purworejo sampai Kotabunan dan Nuangan. Anak-anak muda yang hebat, berprestasi dan saya menaruh hormat kepada kalian semua,” ucap Sachrul.
Pada pagelaran budaya bertajuk “Kabela Fest 2022” itu, Bupati Sachrul menitip pesan bahwa mereka harus merawat adat dan budaya, karena itu adalah mandat leluhur yang harus terus dijaga.
“Melestarikan adat dan melestarikan budaya adalah bentuk kecintaan kita terhadap daerah kita ini. Momoguyang sudah meninggalkan pesan leluhur mototonpiaan, mototanoban, mokoaheran, mokobangkal. Pegang itu sebagai sebuah pegangan kita, maka kita akan hidup damai serta kita akan hidup sejahtera,” tandasnya. (Gazali Ligawa)



































