Komunitas Momais Siap Luncurkan Buku
Kotabunan, MX
Komunitas Momais bersama Jaringan Komunitas Literasi Sulawesi Utara (Sulut), menyajikan diskusi serta pelatihan menulis narasi bertajuk “Literasi Pesisir”. Kegiatan dalam rangka Hari Aksara Internasional tahun 2021 ini digelar di Hutan Mangrove Desa Kotabunan Selatan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Jumat (17/9).
Di bawah besutan Ketua Komunitas Momais, Mat Rey Kartoredjo, karya tulis para kuli tinta dan sejumlah penulis yang terhimpun dalam komunitas tersebut, semakin dipertajam.
Kartoredjo menegaskan, kehadiran Momais di tanah para bogani, Timur Totabuan, untuk meningkatkan gerakan literasi yang ada di Bolaang Mongondow, termasuk di Kabupaten Boltim.
“Kami melihat bahwa gerakan literasi yang ada di Boltim ini masih sangat minim, aktivitas menulis dan membaca masih kurang. Kemudian diskusi-diskusi dengan para penggerak literasi sangat kurang. Berangkat dari situ kami membangun satu komunitas literasi, yaitu Komunitas Momais,” tutur Kartoredjo.
Pemimpin Redaksi media TotabuanExpress.co.id ini mengungkapkan, Momais akan terus mempengaruhi banyak orang untuk masuk ke dalam gerakan literasi ini.
“Dengan adanya gerakan literasi ini, kita bisa mengetahui bagaimana persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, serta pemerintahan yang ada di daerah kita, termasuk di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,” papar Rey.
Ketua Momais ini memastikan, dalam waktu dekat karya-karya personel komunitas ini akan didokumentasikan. Keelokan serta potensi-potensi yang dimiliki Bolaang Mongondow Timur, akan mereka ceritakan ke dalam tulisan yang nantinya akan dituangkan ke dalam buku.
“Kalau tidak ada halangan, buku ini akan dilauncing akhir bulan September, namun untuk tanggalnya belum ditentukan. Untuk proses pembuatan buku ini sedang berlangsung dan akan segera dituntaskan,” tandasnya.
Diketahui, agenda yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan penulis-penulis handal yang sangat dikenal di kalangan para penulis. Seperti Koordinator Jaringan Literasi Sulut Rikson Karundeng, akademisi yang juga Director Smartphone Movement Kalfein Wuisan dan sastrawan nasional Jamal Rahman Iroth. (Gazali Ligawa)



































