Tuai Apresiasi, Rektor Unima Berharap Dapat Dukungan Kemendikbud
Manado, MX
Focus group discussion (FGD) tentang Internalisasi Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sukses digelar Universitas Negeri Manado (Unima). FGD tersebut dilaksanakan di Grand Kawanua International City (GKIC), Novotel Manado, akhir pekan lalu.
Pada kesempatan tersebut, Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI), Dr. Chatarina Muliana Girsang S.H., S.E., M.H., mengapresiasi acara ini sebagai komitmen pimpinan Unima untuk mewujudkan perubahan pada pengelolaan perguruan tinggi.
"Unima sebagai salah satu satuan kerja (satker) Kemendikbud harus melakukan perubahan, karena tantangan yang akan dan sementara kita hadapi adalah tantangan yang selalu berubah sangat cepat dan itu merupakan keniscayaan," ungkap Chatarina di hadapan para petinggi Unima, dosen serta pegawai dan staf lainnya.
Dikatakannya, berdasarkan visi misi dari Presiden Jokowi untuk memajukan bangsa Indonesia, yang di dalamnya tentu ada pendidikan, maka Unima dan Kemendikbud merupakan bagian di dalamnya.
"Misalkan, pada misi pertama yakni peningkatan kualitas manusia Indonesia, sebagai dosen kita merupakan ujung tombak. Bapak dan Ibu, kita yang bersinergi untuk mencapai tujuan ini agar kualitas SDM bangsa ini menuju pada perubahan yang dimaksud," sebutnya.
Kemudian, dalam rangka mengentaskan angka putus sekolah, yang jika melihat data dari BPS menunjukkan pada tahun 2020 SDM Indonesia untuk tamatan SMP ke bawah masih pada angka 57 persen.
"Angka ini masih sangat memprihatinkan, makin tinggi jenjangnya maka angka putus sekolah pun makin tinggi. Ini pekerjaan rumah kita, bagaimana mungkin kita bisa mengentaskan lulusan minimal SMA dan SMK jika masih kekurangan sekolah," urainya.
Belum lagi, kata Chatarina, jumlah SMP lebih sedikit daripada SD. Begitupun SMA dan SMK lebih sedikit dari SMP, apalagi berbicara tentang lulusan perguruan tinggi. "Ini masih pekerjaan rumah yang besar bagi kita, Bapak Ibu dosen," tuturnya.
"Kami berharap dengan direalisasikannya kebijakan zonasi di pendidikan dasar sampai menengah, sepuluh tahun lagi tidak ada anak-anak kita atau SDM Indonesia yang tamatan SMP ke bawah," harapnya.
Oleh karena itu, kalau berbicara soal peningkatan kualitas SDM Indonesia, maka yang terdepan tentu saja adalah perguruan tinggi.
"Karena sesuai dengan tujuannya, berdasarkan pasal IV dan pasal V UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi bahwa kita harus melahirkan lulusan yang memiliki karakter yang baik, memiliki nilai-nilai filosofi Pancasila yang mengakar dan tumbuh dalam dirinya sehingga bisa membangun bangsa ini secara kolaborasi," jelasnya.
Selain itu, harus memiliki kemampuan kognitif, unggul dalam menghadapi tantangan zaman sesuai dengan perkembangan IPTEK yang terus-menerus berubah dengan sangat cepat.
"Ini yang perlu kita lakukan, khususnya perguruan tinggi, karena kaum intelektual hanya dilahirkan dari kampus bukan dari tempat lain," tegasnya.
Tentu, lanjut Girsang, harus berbangga karena menjadi bagian dari peran itu, untuk mencetak generasi penerus, yang harus bisa menghadapi tantangan global.
"Berdasarkan dengan visi misi Ibu Rektor untuk meningkatkan kualitas Unima, ternyata sudah sejalan dengan visi misi Presiden Jokowi, yakni membangun bangsa termasuk pendidikan dengan semangat gotong royong atau dikenal sebagai kearifan lokal Minahasa yakni mapalus. Olehnya, kami berharap agar Unima terus melakukan terobosan guna meningkatkan kualitas pendidikan yang dimaksud," terangnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI Prof. Ir. Nizam, M.Sc., D.I.C., Ph.D., menyampaikan Unima harus hadir di Sulut dengan satu obor yang menjulang tinggi. Karena kampus ini merupakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) pertama di Sulut maupun Indonesia.
"Unima sejak dibangun telah menyediakan banyak guru di daerah. Bukan hanya di Sulut, bahkan Indonesia Timur dan lainnya. Apalagi, kita tahu bersama kunci utama membangun bangsa ada pada tenaga kependidikan," tuturnya.
Ia mengungkapkan, maju tidaknya suatu daerah sebenarnya ada pada peran guru. "Maka dari itu, Unima harus terus menghadirkan atau melahirkan guru unggul," tegas Nizam.
Kata dia, Unima perlu menunjukkan kualitasnya guna membangun pendidikan di Sulut, pulau Sulawesi pada khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya.
Tentu sangat menyedihkan jikalau di suatu daerah, kemiskinan, angka putus sekolah masih sangat banyak, kesenjangan masih sangat memprihatinkan.
Paling penting, buatlah Unima melahirkan guru hebat, mahasiswa unggul untuk membangun daerah maupun bangsa ini agar lebih baik.
"Berharap Unima bisa menjadi universitas yang terus fokus pada pendidikan dan menjadi kekuatan, khususnya pada penyedia tenaga kependidikan di kawasan Indonesia Timur," harapnya.
Pada kesempatan tersebut, Rektor Unima Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, M.Pd., menyampaikan Unima memang harus menjadi garda terdepan menciptakan guru unggul, penggerak karena memang itu menjadi tugas utama kampus.
Tentu harus dibarengi dengan ketersediaan SDM serta kemapanan fasilitas pendukung. Dengan begitu upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai.
Orang nomor satu di Unima ini berharap, mendapat perhatian khusus dari Kemendikbud RI dalam hal peningkatan pendidikan yang dimaksud. "Kami berharap agar dapat diperhatikan kementerian, apalagi untuk saat ini Unima terus berinovasi dan menentukan skema terbaik guna menyukseskan seluruh program," ucapnya.
Dirinya berharap, agar diberi kesempatan bagi civitas akademika Unima untuk terus berupaya membawa perguruan tinggi negeri ini semakin baik, terutama mampu bersaing.
"Tentu kami ingin bersaing dengan kampus-kampus lain. Oleh sebab itu kami harap ada perhatian khusus dari kementerian. Ke depan kami telah menyusun program rencana strategis untuk peningkatan kualitas Unima. Semoga kolaborasi ini secepatnya dapat direalisasikan pemerintah pusat," harapnya.
Dirinya bersyukur karena FGD ini dapat berjalan dengan baik. Tentu, kata rektor, kegiatan ini sangat penting ketika boleh mencanangkan peta jalan reformasi dan mereka telah dibekali oleh para pemateri yang langsung datang bertatap muka dengan civitas akademika Unima, meskipun kehadirannya dibatasi.
"Kami sungguh berterima kasih kepada Irjen maupun Dirjen yang telah menghadiri langsung dan memberikan materi dalam kegiatan ini. Luar biasa karena kedua pemateri ini bersedia untuk hadir langsung," ucapnya.
Dirinya berpesan, agar seluruh civitas akademika Unima sudah harus membiasakan diri dengan membangun satu reformasi birokrasi di Unima.
Dirinya menjelaskan, area perubahan reformasi birokrasi di Unima di antaranya, manajemen perubahan, deregulasi kebijakan, organisasi, tatalaksana, akuntabilitas kinerja, pengawasan, kualitas pelayanan publik serta sistem manajemen SDM.
"Tentu kita sudah boleh menangkap akan materi dan mengiplementasikannya. Harus mampu memahami reformasi birokrasi seperti apa," terang Katuuk.
Memang, katanya lagi, apa yang telah disampaikan para pemateri sangat sulit mengubah mindset mereka, apalagi dengan sistem yang ada saat ini. Meski begitu, sudah seharusnya mengikuti sistem yang ada dalam kebiasaan baru.
"Wajib melaksanakan tata kelola bersih, akuntabel, kredibel untuk menunjang program dan kemajuan Unima," sebutnya lagi.
"Tentu, dengan bertahap kita mengubah itu, dari hal-hal kecil. Dimulai dari pimpinan terkecil, dari program studi, jurusan, fakultas sampai universitas. Kita bangun Unima menuju wilayah bebas korupsi," tandasnya.
Kehadiran Dirjen dan Irjen menunjukan kepercayaan kementerian terhadap Unima semakin baik. "Saya percaya Unima akan semakin baik ke depan. Mari kita kerja bersama-sama berdasarkan visi Unima, Mapalus," pintanya.
"Kita berupaya maju selangkah demi selangkah dan penuh arti bermakna dengan apa yang akan kita lakukan ke depan," ujarnya.
Terakhir, rektor mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, para pejabat pimpinan yang telah berupaya menyukseskan kegiatan ini.
"Saya atas nama pribadi dan pimpinan universitas mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja dan sukses menggelar kegiatan. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada para pembantu rektor, kepala biro, kepala bagian, para dekan serta staf dan satpam yang telah turut menyukseskan kegiatan ini," tandasnya.
Diketahui, para pemateri dalam kegiatan ini di antaranya, Dr. Chatarina Muliana, S.H., S.E., M.H., dengan materi Reformasi Birokrasi untuk Mewujudkan Good Governace pada Perguruan Tinggi, Masrul Latif, S.I.P., M.Si., Inspektur IV Inspektorat Jenderal Kemendikbud menyampaikan materi Kebijakan Pengawasan Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK atau WBBM, Drs. Hiswara, Ketua SPI Kemendikbud menjelaskan materi Internalisasi Pembangunan Zona Integritas Area Manajemen, dan Ferdy Fristyansjah, S.T,. M.Si., Auditor Madya Kemendikbud menyampaikan materi Internalisasi Pembangunan Zona Integritas Area Penataan Manajamen SDM, Penguatan Akuntabilitas, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.
Turut hadir dalam kegiatan FGD ini, Pembantu Rektor I Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., Pembantu Rektor II Prof. Dr. Sanusi Gugule MS, Pembantu Rektor III Drs. Jim Roni Tuna, para guru besar dan dekan se-Unima.
Kegiatan dilaksanakan daring dan luring serta memperhatikan protokol kesehatan penanganan penyebaran Covid-19. (Imanuel Kaloh)



































