GP Ansor: Benih Radikalisme Ada di Sulut


Manado, MX

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Utara (Sulut) mendapati ada sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera serta tidak memajang foto kepala negara. Hal ini disinyalir indikasi benih radikalisme ada di Bumi Nyiur Melambai.

Penegasan itu disampaikan Ketua GP Ansor Sulut, Yusra Alhabsyi, Senin (5/4), di Graha Bumi Bering. Ia mengatakan, dari informasi Banser, ada beberapa sekolah yang tidak memasang foto presiden dan wakil presiden dan juga tidak melakukan upacara di hari-hari besar. 

"Jadi Ansor dan Banser selalu melakukan proses edukasi kepada mereka, bahwa apa yang menjadi persoalan dan kami berharap betul jangan sampai menjadi benih-benih gerakan radikalisme di Indonesia dan terlebih khusus di Sulut," tegas Yusra.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah.

"Jangan sampai kita menganggap bahwa di Sulut tidak ada, tetapi benih-benihnya ada. Ini kita harus berantas secara bersama-sama," ungkapnya.

Menurutnya, Ansor telah melakukan pendekatan edukatif untuk melihat persoalan ini.

"Saya pikir lakukan pendekatan edukatif kepada mereka dan jangan dulu dengan pendekatan lainnya. Ansor sudah mulai melakukan itu," ungkapnya.

Lebih lanjut Yusra mengatakan, persoalan ini sudah disampaikan kepada dinas terkait, bahkan Kementerian Agama.

"Mereka yang lebih berwenang dalam hal ini. Tinggal sejauh ini bagaimana progresnya, belum dapat informasi. Karena sekolah kan juga masih libur, untuk fakta-fakta yang diungkap hari ini pasti belum akurat karena masih libur," katanya.

Menurutnya, untuk sekolah-sekolah yang didapati tidak memasang foto kepala negara, masih bagian internal Ansor dan belum bisa diungkap berada di kabupaten atau kota mana, supaya tidak menjadi bola liar di masyarakat.

"Karena ini masih data internal, takut salah ditafsirkan dan mungkin ada yang protes. Rasanya ini masih sebatas menjadi konsumsi antara pihak Ansor, Kesra dan Kementrian Agama, agar ini tidak menjadi bola liar. Karena kemudian ini diungkapkan dengan fakta-fakta belum terlalu kuat, akan menjadi bumerang dan opini liar di tengah masyarakat. Tapi yang pasti itu ada," tandasnya. (Eka Egeten)



Sponsors

Sponsors