Siswa Berstatus Isolasi Mandiri Datang ke Sekolah, Diduga Ditugaskan Pihak SMPN 1 Manado
Manado, MX
Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Manado, jadi pembicaraan hangat publik. Diduga, murid yang sedang menjalani masa isolasi mandiri untuk mengantisipasi penularan Covid-19 itu, ditugaskan datang ke sekolah.
Siswa ini diketahui melakukan karantina sendiri karena orang tuanya reaktif setelah di-rapid test. Sementara menunggu hasil swab test, orang tua dari murid tersebut dikabarkan telah meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sejumlah siswa di SMPN 1 Manado, siswa tersebut telah melakukan kontak dekat dengan siswa lain saat datang di sekolah. Kontak dengan sesama siswa itu terjadi pada tanggal 17 Agustus, ketika siswa yang duduk di kelas 9 ini, bersama sekelompok siswa lain ditugaskan pihak SMPN 1 Manado untuk hadir di sekolah.
Sejumlah guru yang coba dikonfirmasi, tak menampik hal itu.
"Mereka (para siswa, red) hadir untuk menghias ruangan-ruangan kelas mereka, dan anak tersebut hadir di sekolah saat itu dan berkontak dekat dengan beberapa teman sekelasnya pada kegiatan itu," ungkap sumber yang meminta namanya tidak disebutkan.

Tugas menghias ini dalam rangka mempersiapkan ruangan kelas untuk dinilai pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
"Karena akan dinilai pada pekan HUT ke-75 Republik Indonesia oleh Kabid (Kepala Bidang) SMP Dinas Pendidikan Kota Manado. Padahal kan kegiatan mengumpulkan siswa di sekolah masih belum dibenarkan oleh pemerintah kota Manado," ujar sumber.
Menurut penuturan sejumlah siswa dan guru, para siswa memang sejak beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal 17 Agustus, sering diarahkan oleh wali-wali kelas agar datang ke sekolah. Tujuannya untuk menghias kelas masing-masing.
Pantauan media ini, beberapa waktu belakangan, SMPN 1 Manado memang terlihat semakin ramai dengan siswa yang berkegiatan dalam lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Manado, Roby Lumi ketika dikonfirmasi, menampik kabar tersebut. Menurutnya, siswa yang menjalani masa isolasi mandiri itu tidak hadir di semua kegiatan sekolah.
"Kemarin kita mendapat informasi dari wali kelas, ketika dapat informasi ada orang tua murid meninggal. Tapi apakah dia Covid-19 atau tidak, walaupun sudah meninggal, sampai sekarang sementara menunggu hasil swab," kata Lumi, saat dihubungi manadoxpress.com, Minggu (23/8).
"Kemudian berkaitan dengan anak itu, pada tanggal 17 Agustus memang torang (SMPN 1, red) ada upacara secara virtual. Tetapi terkait untuk anak itu tidak ada kaitannya dengan upacara. Tapi menurut wali kelas, anak itu suka bapontar. Dia dan temannya mo ba lia upacara di sekolah. Setelah upacara, saya tegaskan pada sekuriti, pintu gerbang ditutup, terkecuali petugas upacara. Rupanya anak itu datang ke sekolah tapi hanya dari luar," ungkap Lumi.
Ia pun menegaskan, siswa tersebut tidak ada kontak dengan siswa lainnya.
"Hal ini saya sudah cari tau persis, anak tersebut tidak ada kontak erat lebih dari dua orang. Sekarang saya sudah perintah setiap guru kelas untuk tidak diizinkan ada kegiatan untuk anak-anak. Jangan ke sekolah sampai ada petunjuk," lanjut Lumi.
"Untuk kegiatan penataan kelas dalam rangka 17 Agustus, itu memang dibuat lomba. Dan anak tersebut tidak hadir pada kegiatan bersih-bersih kelas," tutup Lumi. (Eka Egeten)



































