Gemar Seriusi Upaya Meredam Stigma Sosial di Tengah Pandemi


Manado, MX

Merebaknya Covid-19 secara pesat membuat seluruh elemen masyarakat ketakutan. Selain karena virusnya, ada juga ketakutan tentang stigma yang terbentuk.

Imbasnya, ada masyarakat yang melakukan tindakan tidak sepatutnya. Semisal, melarang pasien yang masuk dalam Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Perawatan (PDP) atau bahkan suspact virus corona, untuk tinggal di lingkungan mereka hingga mengusirnya.

Merespon persoalan ini, Gerakan Merawat Nalar (Gemar) melaksanakan diskusi yang bertajuk "Stigma Sosial Sebagai Tantangan di Tengah Penyelesaian Pandemi Covid-19", Rabu (22/4).

Diskusi via aplikasi Zoom itu, dimoderatori oleh Gerry Nelwan, S. Pd. Pemantik diskusi, Lidya Kandowangko, MA. (Peneliti di Bidang Sosial), Alter Wowor, M.Th (Aktivis Organisasi Kepemudaan), Yan Kalampung, M.Si.Teol. (Peneliti Studi Kekristenan) dan Krueger Tumiwa, M.Si.Teol. (Peneliti Bidang Teologi Sosial dan Ekologi).

Selama diskusi, masing-masing pemantik mengutarakan pandangannya.

Menurut lidya, "Stigma ini terbentuk karena aksesbilitas informasi yang absurd mengenai kondisi pandemi karena titik referensi kebenaran informasi tidak jelas."

Di tengah persoalan itu, fenomena stigmatisasi semakin menguat sampai pada titik yang menyedihkan. Tidak hanya cibiran yang menyesakkan, sikap paranoid yang menghasilkan sikap penolakan pun menyertai.

Bagi Alter, mereka yang disebut ODP, PDP atau pasien positif Covid-19, butuh pendampingan, penguatan dan bukan dieksekusi, didiskriminasi dan lain-lain.

Yan, beranggapan dalam prespektif kekristenan perlu adanya restorasi Injil. Karena tidak dapat dipungkiri, banyak orang Kristen menjadi penyebar dan penganut stigma ini.

Untuk meredam stigma sosial ini, menurut Krueger perlu adanya perlakuan sebagaimana yang Yesus inginkan dalam kitab Matius 25:35-40.

"Upaya untuk meredam stigma ini sebagai seorang Kristen, dalam teologi sosial yaitu memahami atau melihat entah pasien atau perawat atau dokter atau tenaga kesehatan atau orang lain, sebagai Yesus yang perlu ditolong dalam Matius 25:35-40. Sehingga kalau kita melihat mereka sebagai Yesus, stigma ini bisa diredam. Karena ini berkaitan juga dengan Matius 22:39, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," terangnya.

"Selain itu perlu ada upaya dari berbagai media, baik media massa maupun sosial untuk memberitakan postingan positif tentang Covid-19," tutupnya. (Febriani Sumual)



Sponsors

Sponsors