Mengatasi Narsisisme, Melawan Stigma Sosial, Merawat Kesehatan Mental di Masa Darurat Pandemi Covid-19


Oleh: Krueger Kristanto Tumiwa, M.Si. Teol. (Peneliti Bidang Teologi Sosial)

Sudah sebulan lebih sejak World Health Organization (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, jumlah penderita virus Corona terus bertambah. Oleh karena itu semua orang berusaha memutus mata rantai penyebaran virus ini dengan membatasi aktivitas di luar rumah. Sebagian besar masyarakat pada akhirnya hanya bisa bekerja dari rumah (Work From Home). Sedangkan para petugas kesehatan tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, atau malah lebih ekstra dari pada biasanya, untuk merawat pasien Covid-19 terutama di daerah “zona merah” pandemi Covid-19.

Dalam situasi yang mengkhawatirkan ini, ternyata terjadi berbagai aksi diskriminatif di berbagai tempat terhadap pasien, jenazah, bahkan tenaga medis yang memiliki riwayat penanganan Covid-19. Sempat viral di media sosial, video yang menampilkan penolakan warga terhadap jenazah yang akan dimakamkan di daerah mereka. Begitupun dengan tenaga medis. Padahal hingga kini data yang menunjukkan jumlah tenaga medis yang meninggal karena terlibat pananganan kasus Covid-19 terbilang banyak. Diskriminasi tidak memandang status Postif, Pasien Dalam Pegawasan (PDP), atau Orang Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19. Lantas bagaimana memahami dan mengatasi Stigma Sosial ini?

Narsisisme di tengah Pandemi

Barangkali dari sudut pandang lain apa yang menjadi faktor Stigma Sosial tersebut terjadi berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Erich Fromm (seorang psikoanalis, ahli teori sosial, sekaligus filsuf asal Jerman). Ia berpendapat dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving, yang diterbitkan tahun 1956, bahwa penghalang terbesar dalam diri seseorang untuk mencintai – baik dalam ranah pribadi maupun ranah sosial – adalah orientasi narsistiknya. Istilah narsis mungkin banyak dikaitkan orang dengan kegemaran berswafoto (selfie). Memang pada akhirnya selfie akan mengarah pada narsistik pula. Namun menurut Fromm, orientasi narsistik adalah orientasi saat seseorang merasa yang nyata hanyalah apa yang ada di dalam dirinya, sedangkan fenomena di luar tak sendirinya nyata, melainkan dilihat hanya dari sudut pandang berguna atau berbahaya baginya.

Pandemi ini memungkinkan seseorang semakin bersikap hati-hati karena merasa tidak aman. Bukan hanya tidak aman dengan virusnya, melainkan juga kepada orang-orang yang punya riwayat penangangan virus meski tidak tertular / negatif. Bahkan tetangga rumah pun meski tidak punya riwayat Covid-19 diperlakukan sama. Tidak berjabat tangan dengan orang lain merupakan bentuk kewaspadaan karena merasa tidak aman. Orientasi narsistik di tengah pandemi ini semakin membuat seseorang memandang orang lain berbahaya baginya.

Apakah ini wajar? Tentu saja ini wajar. Namun bagi Fromm, ada “kutub” lain yang perlu digerakkan juga, “kutub” yang berlawanan dengan narsisisme yaitu objektivitas. Tanpa objektivitas maka seseorang akan terjebak dalam penilaiannya sendiri terhadap orang lain. Fenomena penolakan warga terhadap pasien atau tenaga kesehatan merupakan sikap narsistik tanpa objektivitas. Pandemi ini memang disadari sangat meresahkan banyak orang karena Covid-19 adalah penyakit baru, menular, dan vaksin serta obatnya belum ditemukan. Objektivitas diperhadapkan dengan situasi ini. Pengetahuan yang minim akan memperkecil efek objektivitas dalam diri seseorang. Sebab objektivitas adalah kemampuan melihat orang, benda, atau fenomena sebagaimana adanya, secara objektif, dan mampu memisahkan gambaran objektif ini dengan gambaran yang dibentuk oleh hasrat dan ketakutannya.

Meskipun demikian, semakin banyak jumlah pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 seharusnya bisa dijadikan fakta sekaligus pengetahuan. Adanya pasien yang sembuh seharusnya memberikan kesadaran bahwa Covid-19 memang merupakan penyakit baru, menular, obat serta vaksinnya belum ditemukan tapi bisa disembuhkan! Banyak informasi yang bisa dipelajari dari pemberitaan terpercaya juga bisa menjadi acuan agar objektivitas bekerja dengan maksimal. Penolakan terhadap pasien dan tenaga kesehatan merupakan cerminan ketakutan yang harus diseimbangkan dengan kemampuan melihat secara objektif. Hal ini menjadi penting karena jika terus-menerus stigma sosial berupa penolakan ini berlanjut maka akan makin banyak orang yang takut untuk memeriksakan atau mengakui dirinya punya gejala Covid-19. Bahkan stigma sosial juga berisiko meningkatkan kemungkinan penularan virus di masyarakat.

Merawat Kesehatan Mental dengan Mencintai

Bangkit atau mengatasi narsisisme merupakan kemampuan mencintai. Mencintai diperlukan dalam situasi pandemi seperti yang terjadi sekarang ini, terlebih kepada para pasien, para keluarga pasien yang meninggal, juga para tenaga medis. Kemampuan mencintai ini akan tetap menjaga relasi kemanusiaan kita dengan dunia. Sedangkan menolak atau mengabaikan merupakan bentuk kejahatan dan kebencian yang tidak diperlukan dalam situasi ini. Sikap tersebut justru akan membuat pasien dan tenaga medis termasuk keluarganya menjadi terganggu kesehatan mentalnya.

Hal yang penting dilakukan dalam kehidupan sosial dalam perjuangan melawan pandemi adalah merawat kesehatan mental tiap warga. Bukan malah menciptakan stigma! Disadari memang diperlukan keberanian untuk merawat kesehatan mental sebagai usaha mencintai dalam konteks yang mengkhawatirkan ini. Keberanian untuk mengambil lompatan besar keluar dari keterasingan karena ketakutan. Namun dengan begitu, masyarakat akan mampu menjaga kesehatan mental dari tiap orang, termasuk pasien dan tenaga kesehatan, di tengah pandemi ini. Seperti yang dikatakan oleh Fromm, prospek cinta sebagai fenomena sosial adalah sebuah keyakinan rasional yang berdasarka pada wawasan ke dalam krodrat manusia. Lalu, apakah ini teologis? Tentu saja! (*)



Sponsors

Sponsors