Foto: Pendeta Welly Pudihang S.Th saat memimpin ibadah di GMIM JAOR
Minggu Sengsara VI, Pudihang: Tuhan Harus Kau Cari dalam Perbuatanmu
Tombulu, MX
Jemaat GMIM Alfa Omega Rumengkor (JAOR), salah satu anggota bersinode (berjalan bersama, red) dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Gereja ini tetap konsisten menerapkan physical distancing sebagai himbauan Pimpinan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM.
Itu terpantau saat JAOR melangsungkan Ibadah Minggu Sengsara ke-VI, yang dipimpin Pendeta Welly Pudihang S.Th, Minggu (5/4) pukul 09.00 Wita. Diketahui JAOR telah ketiga kalinya beribadah minggu di rumah masing-masing keluarga.
Di ibadah kali ini, Pendeta Pudihang mengangkat khotbah dengan judul, "Salib Yesus dan Kekejaman Dunia". Pembacaan Alkitab, sesuai materi Trilogi Penjabaran Jemaat (MTPJ) GMIM dalam Markus 15:20b-32 (Bacaan GMIM, Minggu, 5 April 2020).
Dalam khotbahnya Pudihang menceritakan tentang bagaimana kisah drama kematian Yesus Kristus saat penyaliban, yang dilatarbelakangi oleh persengkongkolan antar pimpinan lembaga agama dan pemerintah.
"Sanhendrin atau dewan tertinggi Agama Yahudi yang terdiri dari 71 anggota, yang berfungsi sebagai Mahkamah Agama. Mereka inilah yang memutuskan hukuman mati terhadap Yesus. Tapi Wewenang untuk mengeksekusi mati Yesus ada pada Pemerintahan Romawi sebab di masa itu bangsa Yahudi berada dalam taklukan imperium Romawi," ungkapnya.
"Karena itu, Sanhendrin membawa putusan mati terhadap Yesus kepada Wali Negeri yang bernama Pilatus, untuk mengukuhkan legalitas hukum," tegasnya.
Kemudian Pudihang menjelaskan bahwa drama penyaliban terhadap Yesus itu, berdasarkan narasi yang ditampilkan Markus. Sesuai bacaan Alkitab, dimulai dengan kalimat, "Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan"(ayat 20b).
"Sebelum penyaliban berlangsung, tentara-tentara Romawi menyiksa, memukul kepala-Nya serta menghina Yesus secara bergantian dengan berulang-ulang kali (Markus 15:19)," terangnya.
Pudihang menerangkan lagi bahwa perbuatan mereka itu menyiratkan betapa beratnya siksaan yang dialami Yesus. Cambuk sebagai alat untuk menyiksa Yesus dibuat khusus, yang di dalamnya telah disisipkan kepingan-kepingan logam.
Sehubungan dengan situasi wabah Covid-19, Pudihang menghubungkan pembacaan tersebut dengan konteks kini. Kepada JAOR, Pudihang memberikan penguatan. Melalui pembacaan Alkitab tersebut, memperlihatkan bagaimana Yesus begitu kuat menjalani hukuman salib.
"Baik Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes memberitahukan kepada kita bahwa Yesus tetap sadar sampai hembusan nafas terakhir-Nya. Ia menyapa orang-orang yang ada disekitar-Nya, bahkan memberi penguatan kepada mereka," katanya.
Lebih lanjut dalam khotbahnya, Pudihang mengambil ucapan ahli Teologi Sistematika, Prof. Sinclair B Ferguson yang berujar, "Ketika kita memikirkan Kristus yang mati di kayu salib, kepada kita ditunjukkan tentang seberapa jauh kasih Allah yang memenangkan kita kembali pada diri-Nya sendiri".
Pudihang mengemukakan keprihatinnya terhadap dampak dari penyebaran wabah Covid-19 ini.
"Serbuan Covid-19 yang melanda seantero jagad ini adalah salib yang kita pikul. Peristiwa maut di Wuhan itu mengingatkan kita untuk kembali dalam alam kesadaran kita untuk mengingat dan tidak melupakan Tuhan. Dari Wuhan virus beringas itu datang seperti hujan malapetaka. Tidak ada yang tahan atasnya, baik pendeta, pastor, ulama, orang durjana, ateis bahkan mereka yang membenci agama. Ribuan nyawa telah hilang, ribuan doa telah kita panjatkan. Sepertinya kita telah berada pada titik nadir paling terendah dan bertanya masih adakah Tuhan? Berapa lama lagi Kau berdiam diri atas kami ya, Tuhan?" katanya.
Dalam akhir khotbahnya, Pudihang berpesan dan mengajak segenap JAOR. "Sejenak kita mengingat nubuatan nabi Amos, "Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup" (Amos 5:6a). Tuhan harus kau cari dalam perbuatanmu. Tuhan menolong gereja-Nya, amin," tutup Pendeta Pudihang, Ketua BPMJ GMIM Alfa Omega Rumengkor. (Yonatan Kembuan)



































