Penjaringan Terbuka Cakada Oleh Sejumlah Parpol Dinilai Tak Wajar

Liando Pertanyakan Proses Persiapan Kader Parpol Untuk Pilkada


Manado, ME

Tindakan sejumlah Partai Politik (Parpol) melakukan penjaringan terbuka bagi masyarakat yang hendak mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah (Cakada) tahun 2020 merupakan proses politik yang sesungguhnya tidak wajar. Hal itu ditegaskan Dr. Ferry Daud Liando kepada Manado Express, Rabu (27/11).

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini menjelaskan, tugas parpol itu mempersiapkan calon pemimpin, jauh sebelum proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkda) atau Pemilihan Umum (Pemilu) dimulai.

“Anggaran negara melalui APBN dan APBD cukup besar untuk membiayai parpol. Anggaran itu bermaksud agar parpol sudah mempersiapkan calon-calon pemimpinnya untuk dipersiapkan, baik dalam Pilkada maupun Pemilu,” kata Liando. 

Mekanisme persiapan itu adalah merekrut anggota masyarakat untuk jadi kader atau anggota parpol. Setelah terdaftar sebagai anggota parpol, tugas parpol selanjutnya adalah melatih dan mendidik kader-kadernya untuk menjadi calon pemimpinnya. 

“Dilatih pengetahuannya, dilatih kompetensi dan kapasitasnya, serta dilatih akhlak dan moralnya. Setelah proses itu berjalan, akan ada masanya masing-masing parpol akan melakukan seleksi bagi anggotanya untuk dipersiapkan mengikuti Pilkada atau Pemilu. Mereka adalah utusan parpol untuk ditawarkan ke publik,” ujarnya. 

Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unsrat ini juga menjelaskan tiga fungsi parpol. “Pertama, merumuskan rancangan kebijakan publik yang dibahas bersama para ahli, yang kemudian rancangan kebijakan itu ditawarkan kepada publik melalui Pilkada atau Pemilu. Kedua, mempersiapkan calon-calon pemimpin untuk memperjuangkan usulan kebijakan publik yang dimiliki oleh parpol, baik di DPRD maupun di eksekutif. Ketiga, memperjuangkan kebijakan publik pada lembaga eksekutif dan legisltaif,” papar Liando. 

Menurutnya, parpol yang selama ini hanya terbiasa melirik kader-kader dari parpol lain adalah parpol yang tidak dewasa. 

“Harusnya masing-masing parpol percaya dengan kader-kader didikan dan binaannya sendiri. Kebiasaan parpol besar seperi PDIP, Golkar, Nasdem dan parpol lainnya membuka pendafaran calon, sesungguhnya lebih terkesan hanya mengutamakan pada pendekatan pragmatis irasional,” ungkap Liando. 

Ditegaskan, parpol itu jangan tiba saat tiba akal. “Tabiat parpol seperti ini biasanya parpol yang selalu takut kalah. Sehingga untuk menang, segala cara bisa dilakukan, termasuk hal-hal yang tidak masuk akal dan apolitis,” tambah Liando. 

Ia pun mempertanyakan buat apa ada parpol. “Jika hanya membuka peluang masuknya calon dari bukan kader parpol lewat mekanisme pembukaan pendaftaran bagi kalangan umum, lalu buat apa parpol itu didirikan ? Harusnya masing-masing parpol memberikan pendidikan politik yang baik, dengan lebih mengutamakan kader sendiri sebagai calon kepala daerah,” kuncinya. (Anugrah Pandey)



Sponsors

Sponsors