Jaringan Gusdurian Manado Diskusikan Agama-agama dalam Keimanan dan Kemanusiaan


Manado, ME

Agama-agama mesti menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dan memberi kepedulian terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Agama dan kemanusiaan tidak terpisahkan dari keyakinan umatnya terhadap adanya Yang Maha Kuasa. 

Demikian pokok pikiran yang mengemuka pada diskusi dalam rangka Hari Toleransi bertemakan "Membincang Ulang Ajaran Agama tentang Kemanusiaan" yang dilaksanakan oleh Jaringan Gusdurian Manado, Sabtu (16/11) di Markas Gusdurian Sulut, Malendeng, Manado. 

Denni H.R. Pinontoan, dosen Fakultas Teologi UKIT YPTK, salah satu pemantik diskusi mengatakan, konsep tentang manusia dalam Kristen terutama tercantum dalam kitab Kejadian, pasal 1 dan 2 tentang kisah penciptaan. 

“Dalam kisah penciptaan disebutkan, bahwa Allah menciptakan semuanya, baik adanya. Manusia disebutkan telah diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, atau Imago Dei,” terang Pinontoan. 

Itu berarti, lanjutnya, secara teologis, baik alam maupun manusia adalah sakral karena merupakan kehendak Allah sendiri. Manusia dengan identitasnya itu, sekaligus melekat padanya mandat untuk mengusahakan kehidupan yang sesuai kehendak Allah. 

Sulaiman Mappiasse, dosen Institut Agama Islam (IAIN) Manado, salah satu pemantik diskusi mengatakan, dalam ajaran Islam manusia adalah mulia. Sambil mengutip ayat-ayat Al Qur’an, Mappiasse memberi penegasan, bahwa dalam ajaran Islam, iman terhadap Allah, SWT mesti terimplementasi dalam relasi manusia dengan sesamanya. 

“Identitas yang beragam adalah keniscayaan. Ketika bicara keragaman, mustahil kita berbicara tanpa adanya identitas yang beragam. Dengan demikian, agama-agama mesti berbicara tentang keragaman dan toleransi untuk kemanusiaan,” kata Mappiasse. 

Pemantik lain yang berbicara adalah Habib Muhsin Bilfaqih, pendiri Yayasan Al-Hikam Cinta Indonesia dan Pdt. Ruth K. Wangkai, mantan Ketua BPN Peruati. Kedua tokoh Islam dan Kristen ini menegaskan, agama-agama dan kemanusiaan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mereka memberi apreasi jaringan Gusdurian Manado yang komitmen dengan keragaman dan masalah kemanusiaan.  

Mardiansyah Usman, penggerak Gusdurian Manado-Sulawesi Utara (Sulut) yang juga Ketua Lesbumi NU Sulut, ketika membuka kegiatan malam itu mengatakan, diskusi ini dilaksanakan dalam rangka Hari Toleransi dan sekaligus mandat dari Seknas Gusdurian. 

“Seknas memberi mandat kepada seluruh jaringan Gusdurian se-Indonesia untuk menggelar diskusi mengenai keprihatinan kita bersama terhadap masalah-masalah keagamaan dan kebangsaan. Kami memilih topik di seputar agama dan kemanusiaan,” tutur Mardiansyah. 

Taufik Bilfaqih, juga Penggerak Gusdurian Manado-Sulawesi Utara yang bertindak sebagai moderator diskusi, pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang 9 nilai dasar Gusdurian. 

“Ketauhidan adalah nilai dasar Gusdurian yang pertama. Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama,” ujar Bilfaqih. 

Menurut dia, nilai dasar ini mengacu dari pandangan Gus Dur  menjadikan ketauhidan sebagai poros nilai-nilai ideal. Nilai dasar ini menjadi spirit pada Gusdurian dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya dalam menegakkan nilai-nilai kesejahteraan.

Nilai dasar kedua, adalah kemanusiaan. Nilai ini bersumber dari pandangan ketauhidan. “Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi,” kata Bilfaqih melanjutkan penjelasan.

Lalu, kedua nilai dasar tersebut terimplementasi pada tujuh nilai lainnya, yaitu Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Keksatriaan (keberanian berjuang), dan berpijak pada Kearifan Lokal.  

Diskusi ini dihadiri oleh aktivis-aktivis jaringan Gusdurian Sulut, aktivis PMII, Lesbumi, sejumlah mahasiswa dan dosen IAIN Manado, Ketua GP Anshor Kota Manado, Rusli Umar, Koordinator Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS), Yoseph Ikanubun, dan sejumlah penganut Bahai di Tondano dan Tomohon. (Eka Egeten)

 



Sponsors

Sponsors