Dinas PU Akui Pekerjaan Bermasalah
Jalan Hotmix Desa Salonggo Bakal Dibongkar Ulang
Bolsel, ME
Desakan sejumlah kalangan masyarakat untuk membongkar ulang pekerjaan pengaspalan di desa Salonggo Kecamatan Bolaang Uki dipastikan terwujud. Pasalnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bolsel sendiri mengakui jika pekerjaan yang ditangani oleh PT Marga itu bermasalah.
Hal itu diungkapkan langsung salah satu pejabat di Dinas PU Bolsel, Boy Poluan. "Kita sudah menerima laporannya," aku Poluan sembari berjanji pihaknya akan meminta pihak kontraktor untuk membongkar kembali jalan tersebut. "Yang jelas kita akan minta mereka perbaiki," janji Poluan.
Sebelumnya, warga Desa Salongo Kecamatan Bolaang Uki mendesak pekerjaan jalan hot mix yang telah dikerjakan PT Marga kembali dibongkar. Pekerjaan jalan berbandrol Rp2 milyar itu dituding asal-asalan dan ditengarai dibawah standar konstruksi jalan yang diatur dalam bestek. "Masakan jalan yang baru di aspal sudah mulai kelihatan. Ini asal jadi," desak Ferry dan Januar, warga setempat.
Kondisi jalan yang memprihatinkan itu ikut dikritisi kalangan aktivis. Amin Laiya menilai, bahwa hal itu merupakan bukti lemahnya pengawasan Dinas PU dan Kimpraswil sebagai penanggung-jawab.
Pasalnya menurut dia, dalam setiap pekerjaan sudah pengawas yang melakukan tugas pemantauan dan monitor. Jika kemudian hasilnya jelek seperti dikeluhkan warga, menurut Laiya, fungsi pengawasan artinya tak jalan."Ini mestinya harus mendapat perhatian serius top eksekutif, jangan persoalan yang sama dari tahun ke tahun terulang kembali," tegas Laiya serius.
Pekerjaan jalan di desa Salonggo Kecamatan Bolaang Uki yang menuai protes warga dan kalangan aktivis ditengarai sarat penyimpangan. Pasalnya, kondisi jalan yang retak tak selang lama setelah diaspal itu ditengarai akibat kesalahan teknis pengaspalan.
Lucky Lasabuda, konsultan teknis pengaspalan jalan menerangkan, sesuai aturan aspal panas harus 120 derajat. Pekerjaan sampai lebar 12 meter, suhunya paling rendah 90 deratat. "Suhu panas aspal yang menjadi prioritas secara teknis, serta kualitas aspal baik. Jika dibawah dari suhu standar tersebut, itu tidak bisa digunakan lagi karena hasilnya pasti jelek," terang Lasabuda.
Lanjutnya, jika dipaksakan akan berakibat antara kepadatan dasar dan aspal tidak akan saling mengikat dan mudah retak. Ini menurut dia, diakibatkan aspal yang di gunakan sudah tidak pada presentase yang layak untuk di pakai pada pengaspalan jalan. "Ini patut dipertanyakan. kualitas aspal yg di gunakan apa sesuai degan standar nasional. Sebab, ada spesifikasi dan standarisasi aspal yang sudah tertuang dalam kontrak maupun kajian secara teknis yang harus di gunakan," jelasnya.
Dikatakannya lagi, jika tidak sesuai spesifikasi serta standarisasi aspal yang seharusnya digunakan, otomatis akan mempengarusi nilai estetika dan bergesernya harga satuan yang ada dalam dukumen kontrak maupun Rencana Kerja Anggaran (RKA). "Perlu di ingat harga satuan menjadi dasar prinsip dalam meraup keuntungan pada pekerjaan yang ada. Maka harus di awasi dengan baik. Kalau benar pekerjaannya seperti itu, maka ini adalah penyimpangan. Bisa saja di tempat lain dikerjakan seperti ini, tapi karena masyarakat tidak paham jadi hanya dibiarkan saja," tutup Lasabuda. Seperti diketahui, sesuai laporan warga, aspal yang digunakan pada pengaspalan hotmix tersebut, menggunakan aspal yang sudah dingin. Sehingga, akibatnya kualitas sangat buruk. (eskolano kakunsi)
Foto: Salah satu bagian badan jalan di desa Salonggo, Bolaang Uki yang sudah berlubang kendati baru diaspal. (ist)



































