Hanya Karena ‘Blante’ Sampah Dengan Sembako, Kasenda Diajak Ke Filipina


Amurang, ME

Siapa sangka hanya karena ‘blante’ (menukar) sampah dengan sembako, pria asal Desa Rap-Rap, Kecamatan Tatapan ini bisa berangkat ke Filipina.

Dia adalah Jusak Kasenda, ketua kelompok Swadaya Pencinta Sampah Rap-Rap. Mengubah sampah menjadi berkah itulah yang dilakukan Jusak bersama anggota kelompoknya.

Dia mengatakan,pertemuan dengan LSM Solidaritas Manengkel dari Kota Manado pada awal tahun 2017 memfasilitasi mereka untuk membuat kelompok ini.

"Pertama kali kita mulai sejak bulan Februari. Ini dikenalkan Solidaritas Manengkel dari Manado kemudian kita jalankan disini," kisah Jusak saat bertemu manadoexpress.co, Kamis (14/9).

Dia mengungkapkan keberangkatannya ke Filipina atas inisiasi dari LSM Solidaritas Manengkel dan Coral Triangle Indonesia (CTI). Dan itu merupakan penghargaan atas apa yang diraih kelompoknya dalam memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang berarti.

"Berkat usaha kelompok ini, pada 6 Agustus lalu saya diajak LSM Solidaritas Manengkel dan CTI untuk melakukan studi banding di Filipina selama satu minggu yang diikuti tiga negara, Indonesia, Filipina dan Malaysia," ujarnya.

Kembali ke soal pengelolaan sampah, dalam menjalankan usaha ini dia menjelaskan tidak semua sampah ditukar dengan sembako. Menurut dia hanya sampah berbahan plastik yang bisa ditukar sembako seperti botol air mineral dan kemasan oli.

"Jadi ini torang ambe, torang tukar dengan beras, minyak kelapa, gula pasir dan bahan-bahan dapur lainnya. Selain itu sampah ini bisa juga ditukar dengan vitamin. Jadi anak-anak, orang tua yang membawa sampah torang kase pilihan sesuai deng dorang pe kebutuhan," jelas Jusak yang juga merupakan Sekertaris Desa Rap-Rap.

Selain itu dia menuturkan kelompok ini juga melakukan pengembangan pengelolaan sampah sampai pada vertikultur yaitu menanam bahan kebutuhan dapur di pekarangan rumah warga dengan menggunakan wadah plastik.

"Lewat usaha ini sudah ada 20 rumah yang jadi sampel. Ini didukung dengan kelompok membuat pupuk sendiri, pupuk kompos dan pupuk cair dari sampah basah dan hasilnya sangat memuaskan," jelasnya.

Dengan keberhasilan yang dicapai dia bersama kelompoknya bertekad ingin memberdayakan masyarakat desa sekitar dengan mengusulkan ke  pemerintah kecamatan untuk membuat program yang bisa dijadikan iven lokal.

"Pengembangan vertikultur ini sangat membantu masyarakat dari segi ekonomi. Jadi kita sudah mengusulkan ke pemerintah kecamatan agar ini bisa dikembangkan ke desa-desa lain," katanya. (jerry sumarauw)



Sponsors

Sponsors