Semarak Paskah Di Desa Pinapalangkow
Sulta, ME
Semarak perayaan paskah yang merupakan hari kebangkitan Tuhan Yesus oleh umat kristiani sangat kental terasa di Desa Pinapalangkow, Kecamatan Sulta, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Di siang hari pernak-pernik paskah sangat terlihat jelas baik di lorong-lorong maupun rumah-rumah warga. Mulai dari menara-menara kecil, replika salib dengan berbagai ukuran, replika goa kosong dan masih banyak lagi.
Namun pemandangan dimalam hari akan semakin indah karena hampir seluruh desa ‘bersolek’ menggunakan berbagai macam lampu warna-warni. Salib yang jika pada siang hari hanya memiliki satu warna, kini semakin diperindah dengan tambahan lampu dengan warna berbeda. Masing-masing lorong memiliki ciri khas yang berbeda-beda dalam hal menyajikan makna paskah lewat hiasan-hiasan yang indah.
Pemandangan yang indah ini berhasil memikat warga desa yang berada dari luar desa. Seperti yang terlihat di kompleks Kolom 2 Jemaat GMIM Imanuel Pinapalangkow banyak warga dari luar Desa Pinapalangkow datang berkunjung untuk melihat keindahan kerlap-kerlip lampu hias saat malam hari.
“Kami sengaja kesini untuk berwisata. Ini semacam Yerusalem-nya Minsel. Sangat indah. Bersama teman-teman kami ingin mengabadikan pemandangan yang indah ini. Apalagi keindahannya sudah tersebar di media sosial,” kata salah satu pengunjung asal Desa Suluun, Kecamatan Sulta Iren Palar, Rabu (12/4).
Menurut Veky Rondonuwu, Ketua Komisi Pria Kaum Bapa Jemaat GMIM Imanuel Pinapalangkow, yang juga adalah Camat Sulta mengatakan para pengunjung yang datang bukan hanya dari wilayahnya saja tapi dari luar daerah seperti Manado, Minahasa, Tomohon, Bitung bahkan ada juga dari Bolaang Mongondouw.
“Menyambut paskah, gereja kami mengadakan lomba menghias disetiap kolom. Hampir setiap tahun digelar, dan tahuh ini paling meriah. Sangking meriahnya pengunjung yang datang berfoto ada yang berasal dari berbagai daerah di Sulut dan warga sekitar desa,” jelas Rondonuwu.
Dia menuturkan dalam menyambut paskah ornamen-oranamen yang disiapkan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun karena antusias jemaat untuk merayakan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus sehingga mereka tidak memikirkan hal tersebut.
“Kalau dirinci keseluruhan anggaran untuk membuat pernak-pernik sudah termasuk tenda di kolom kami berkisar Rp24 jutaan. Namun besarnya anggaran ini tidak menjadi beban bagi kami karena semuanya bekerja bersama-sama. Kebersamaan benar-benar dipupuk lewat kegiatan ini. Sehingga janganlah memandang nilainya tapi makna dari kegiatan ini,” terangnya.
Lanjut Rondonuwu seluruh jemaat baik dari muda hingga orang tua sama-sama bekerja bahu-membahu menghias menyelasaikan tugas masing-masing. Selain pernak-pernik paskah ada beberapa kolom yang menyiapkan layar besar untuk pemutaran film rohani.
“Saat ini untuk ibadah kolom dipusatkan di pondok paskah. Selain itu kami juga menggelar nonton bareng film Tuhan Yesus pada Minggu nanti sebagai cara untuk mengajarkan makna paskah kepada anak-anak,” tukasnya. (jerry sumarauw)



































