PPA ID 254 Getsemani Tompaso Gelar Seminar Kekerasan pada Anak


Tompaso, ME

Pusat Pengembangan Anak (PPA) ID 254 Getsemani Tompaso melaksanakan Seminar Kekerasan Seksual pada Anak, Rabu (22/3/2017). Kegiatan ini dilaksanakan di gereja KGPM Getsemani Tompaso ini bertujuan untuk memberikan pemahaman pada orangtua agar anaknya bisa terhindar dari kekerasan seksual.

Pemateri dalam kegiatan tersebut, Hanna Monareh yang adalah Ketua Ikatan Psikologis Klinis Sulut mengatakan kekerasan pada anak di Sulut masuk kategori mengkhawatirkan. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Sulut masuk urutan sembilan besar kasus kekerasan pada anak di Indonesia. 

Menurutnya kekerasan pada anak tidak hanya dalam bentuk kekerasan fisik. Ungkapan kasar dan bentakan masuk kategori kekerasan pada anak dan sering terjadi.

"Kami banyak melakukan pendampingan pada beberapa anak yang mengalami kekerasan. Hal seperti ini harusnya dihindari. Orangtua harus menjadi pelindung bagi anak-anak," tuturnya.

Terkait kekerasan seksual pada anak, perempuan yang berprofesi sebagai psikolog ini mengatakan pendidikan seksual perlu dilakukan sejak dini. Pendidikan yang dimaksud misalnya anak-anak dijelaskan bagian tubuh mana yang tidak bisa dipegang orang lain.

"Pendidikan seks jangan dipandang sebagai hal yang menjijikkan. Hal-hal sederhana seperti mengajarkan bagian tubuh mana yang tidak boleh dipegang orang lain," tuturnya.

Pemateri lain dalam kegiatan tersebut adalah Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Sulut, AKP Marmiasik. Dia menjelaskan tentang proses hukum pada pelaku kekerasan pada anak.

Koordinator PPA ID 254 Getsemani Tompaso, Siska Rori mengatakan pihaknya melaksanakan seminar tersebut untuk melindungi anak-anak PPA yang mereka bina. Menurutnya kekerasan pada anak terus menjadi perhatian bagi mereka.

"Kami ingin memberikan pemahaman pada orangtua dari anak-anak yang kami bina untuk bisa melindungi anak dari kekerasan. Anak harus dilindungi agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara baik," ujarnya.

Rori mengatakan kampanye anti kekerasan pada anak akan terus dilakukan. Merobah cara pandang dan sikap orangtua dalam mendidik anak tidak bisa dilakukan hanya sekali. Perlu pemberian pemahaman secara terus-menerus. (lucky kawengian)



Sponsors

Sponsors