Foto: Demo warga di PLTP Lahendong unit 5 dan 6. Insert James Bruri Singal
Camat Tompaso Dituding Dapat Jatah dari PGE
Tompaso, ME Kecaman keras disampaikan warga pada Camat Tompaso, Meidy Keintjem terkait perekrutan tenaga kerja di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong unit 5 dan 6. Warga menuding camat tidak berpihak pada warga karena terkesan mendukung sikap PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong yang melakukan perekrutan tenaga kerja secara sembunyi-sembunyi. Tokoh masyarakat Tompaso, James Bruri Singal saat diwawancarai manadoexpress.co, Selasa (24/1/2017) mengatakan sikap Camat Tompaso yang mereka kritisi adalah saat pertemuan mediasi antara warga Desa Talikuran dan PT PGE Lahendong beberapa hari lalu. Saat itu warga menuntut penjelasan kenapa PT PGE Lahendong melakukan seleksi 70 orang tenaga kerja tanpa sosialisasi. Namun hal tersebut bukan dijawab oleh PT PGE Lahendong, namun Camat Tompaso mengambil alih forum dan memberikan penjelasan. "Aneh melihat sikap Camat Tompaso yang membela kesalahan PT PGE Lahendong. Ungkapan camat bahkan hal tersebut dianggap kecelakaan dan tidak perlu diungkit lagi adalah bentuk keberpihakan pada PT PGE Lahendong. Kami kecewa pada sikap camat tersebut," ujarnya. Bruri yang juga adalah Tonaas BMI Walak Tompaso mengatakan hal yang membuat warga semakin kecewa adalah informasi yang menyebut camat ikut mendapat jatah tenaga kerja di PLTP Lahendong Unit 5 dan 6. "Kami menilai Camat Tompaso tidak bisa melaksanakan tugas melindungi dan mengawal keinginan masyarakat. Jika tidak mampu, lebih baik keluar saja dari Tompaso," ujarnya tegas. Polemik perekrutan tenaga kerja di PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 di Tompaso terus terjadi. Banyak warga yang tidak puas pada sikap PT PGE Lahendong yang melakukan perekrutan 70 orang secara sembunyi-sembunyi. Informasi yang beredar hanya sekira 80 tenaga kerja yang akan diterima. (lucky kawengian)



































