Foto: Suasana Watu Pinabetengan
Ribuan Orang Kunjungi Watu Pinawetengan
Tompaso, ME
Objek wisata Watu Pinawetengan yang berada di Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso Barat, Minahasa tampak ramai, Rabu (3/1/2017). Ribuan pengunjung dari berbagai kalangan memadati kompleks situs sejarah budaya tou (orang, red) Minahasa tersebut.
Sejak pagi warga dari berbagai penjuru Minahasa mulai berdatangan ke lokasi tersebut. Orangtua dan anak-anak berbaur untuk melihat situs budaya yang dianggap penting oleh warga Minahasa.
Setiap 3 Januari, suasana seperti ini memang menjadi pemandangan yang bisa terjadi di lokasi tersebut. Banyak organisasi adat Minahasa datang berkumpul melakukan ritual adat.
Kepada manadoexpress.co, budayawan Minahasa, Dede Katoppo yang dikenal sebagai seorang Tonaas (parapsikolog) mengatakan, kegiatan yang diadakan ini merupakan tradisi atau adat masyarakat Minahasa. Warga memilih 3 Januari sebagai momen yang tepat untuk mengunjungi Watu Pinawetengan untuk merayakan tahun baru bersama leluhur.
"Kegiatan ini dilakukan untuk mengenang para leluhur kita pada masa lampau. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu moment berkumpulnya tou Minanahasa untuk melakukan silaturahmi dengan saudara ataupun kerabat," jelasnya.
Menurut dia tradisi ini merupakan agenda masyarakat Minahasa yang telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang.
"Dari nenek moyang kita sampai sekarang kegiatan tanggal 3 Januari tetap dilaksanakan. Hal ini merupakan suatu kebanggaan karena rasa kebersamaan masih ada. Kegiatan yang dilakukan salah satunya berupa ritual mengunjungi roh leluhur untuk mengucapkan selamat tahun baru, serta mengunci penyakit agar tidak datang lagi," ujarnya.
Dari pantauan media ini, tampak berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi masyarakat (Ormas) adat, LSM, serta para wisatawan tumpah-ruah dilokasi tersebut. Kegiatan yang dimulai pukul 11 siang itu diperkirakan akan berlangsung sampai pada malam hari.
Marcel Pinatik, warga Tomohon mengatakan dia dan beberapa rekannya terbiasa melakukan ritual mengunjungi Watu Pinawetengan. Menurutnya hal ini jangan dianggap sebagai bentuk upacara berhala.
"Kami datang sebagai sikap menghormati tradisi dan menghargai adat Minahasa yang telah berlangsung ratusan tahun. Saya awalnya diantar ayah dan akan terus saya lakukan sampai ke anak dan cucu saya nantinya," tuturnya. (fista tulungen)



































