Foto: Dinas Kesehatan Minsel melakukan pengobatan gratis di pemukiman Talugon
Talugon, Pemukiman di Pedalaman Minsel yang Butuh Perhatian
Laporan: Jerry Sumarauw
Minsel, ME - Pemukiman Talugon mungkin terdengar baru bagi masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), namun itulah nama warga setempat menyebutnya. Pemukiman ini terletak di perbatasan Kabupaten Minsel dan Bolaang Mongondouw (Bolmong) karena tepat berada di dekat sungai Poigar. Diwilayah Minsel, pemukiman ini terletak di antara Kecamatan Sinonsayang, Motoling Barat dan Tompasobaru.
Untuk menuju tempat ini ada dua jalur alternatif yang biasa digunakan warga. Pertama bisa lewat Kabupaten Bolmong tepatnya di Desa Pomoman dengan jarak tempuh 3-4 jam dari pusat Kota Amurang. Dari Amurang ke Desa Pomoman menggunakan mobil memakan waktu 2 jam. Sementara dari Desa Pomoman harus berjalan kaki ke pemukiman Talugon juga memakan waktu 2 jam lamanya.
Jalur kedua lewat Desa Toyopon, Kecamatan Motoling Barat, namun jarak tempuh memakan waktu 5 jam dari pusat Kota Amurang. Dengan menggunakan kendaraan dari Amurang ke Toyopon memakan waktu 2 jam. Sementara untuk sampai ke pemukiman butuh 3 jam dengan jalan kaki puluhan kilometer.
Dulunya banyak warga pemukiman Talugon melewati jalur pertama karena waktu tempuh lebih cepat meskipun akses jalan rusak parah. Sementara jalur kedua akses jalan sangat susah karena tidak tersedianya infrasruktur jalan dari Desa Toyopon ke pemukiman Talugon.
Untuk mencampai pemukiman Talugon, kita mengikuti jalur pertama dan beberapa kali melewati tanjakan yang terjal. Pengendara harus ekstra hati-hati karena jurang di sisi kiri dan kanan. Beberapa kali kendaraan yang kita tumpangi harus berhenti karena melewati sungai. Setelah melewati delapan sungai kecil sampailah kita di Desa Pomoman.
Bersama tim dari Dinas Kesehatan Minsel kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki naik turun gunung. Dalam perjalanan ini beberapa kali kita harus beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah. Tibalah kita disatu tempat dimana bisa melihat lembah dengan pemandangan rumah pemukiman warga seperti kotak korek api.
Kita pun harus melanjutkan perjalanan dengan menuruni gunung yang terjal serta pemandangan jurang. Setelah perjalanan yang melelahkan sampailah kita di sungai Poigar yang menjadi batas wilayah Kabupaten Minsel dan Bolmong. Sungai ini menjadi terakhir yang kita lewati. Derasnya aliran sungai kita pun harus dibantu warga menyeberang dengan menggunakan bambu sebagai pegangan agar tidak terseret arus karena dalamnya air hampir setinggi bahu orang dewasa.
Sudah empat kali Dinas Kesehatan Minsel datang berkunjung ke pemukiman ini dalam rangka melakukan sosialisasi kesehatan dan pengobatan gratis. Kita disambut warga dengan sangat antusias. Warga yang bermukim disini ada sekitar 30 kepala keluarga yang berasal dari Minsel dan Minahasa.
Dari cerita warga setempat, pemukiman ini dulunya merupakan basecamp Tentara Republik Indonesia (TNI) untuk menyimpan logistik pada masa perang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sisa-sisa peninggalan perang seperti, gagang senjata, peluru dan ada juga peralatan makanan. Selain itu, lokasi ini sempat dijadikan tempat beroperasinya perusahan kayu milik Tommy Soeharto sekitar tahun 1980-an lalu.
Disini warga menanam kelapa, cengkih, cokelat, rica, jagung dan umbi-umbian. Karena terpencil daerah ini sering ditemui babi hutan dan yaki (Kera). Bukan hanya itu, dari keterangan warga ular Patola juga banyak ditemui disini. Tak jarang banyak ternak ayam warga yang hilang karena di mangsa ular.
Umumya warga yang menetap disini merupakan keluarga veteran. Mereka datang tahun 2003 atas rekomendasi veteran RI di Manado. Pada masa itu ada sekitar 400 mendaftar namun yang menetap kala itu hanya 100 kepala keluarga. Diantara 100 kepala keluarga banyak yang menyerah karena tidak tahan. Saat ini yang menetap tinggal 30 kepala keluarga.
Selama dua hari ditempat ini, kita kesulitan melakukan komunikasi dengan perangkat seluler. Memang ada jaringan provider yang bisa didapat tapi itu hanya ditempat-tempat tertentu. Banyak keluh kesah yang disampaikan warga, diantaranya masalah infratruktur jalan yang belum ada dan ketersediaan pos kesehatan.
Angel Molontang (47) yang ditunjuk menjadi penanggung jawab pemukiman mengatakan mahalnya transportasi juga menjadi alasan warga yang lain menyerah. Kebanyakan dari mereka mengeluh karena hasil yang mereka jual tidak sebanding lagi dengan biaya transportasi.
"Disini yang paling dikeluhkan warga biaya transportasi yang mahal. Itu sebabnya banyak warga yang menyerah dan meninggalkan tempat ini," kata Angel.
Dia mengungkapkan dalam memasarkan hasil pertanian seperti kopra, warga harus menggunakan rakit dan menghanyutkan sampai ke jembatan poigar. Cara tersebut menurut dia yang paling efektif karena tidak memakan biaya yang mahal.
"Biasanya kopra yang sering dihanyutkan pakai rakit. Kalau cengkih dipikul sampai ke Desa Pomoman kemudian dijual," ungkap Angel.
Kini mereka pun berharap pemerintah bisa membuka akses jalan agar mereka bisa memasarkan hasil pertanian tanpa menggunakan rakit. Selama ini mereka sangat kesulitan karena tidak adanya jalur alternatif yang gampang dilalui.
"Kami hanya berharap suatu saat akses jalan penghubung ke Desa Toyopon bisa dibuka agar warga bisa memasarkan hasil pertanian tanpa harus menggunakan rakit lagi," harap Angel mewakili warga yang lain. (*)



































